Puisi Fatih Muftih: Menarik, Enak, Bergizi

PUISI bukan hidangan pokok. Ia mungkin kita nikmati lahap sebagai kudapan di waktu senggang. Dan kita membutuhkan lebih banyak waktu senggang itu. Puisi bukan makanan mewah tapi juga bukan makanan murahan.

Dan Fatih Muftih makin mahir mengolah cemilan yang tak hanya enak, tapi disajikan dengan penampilan yang kian menarik dan yang penting bergizi, jika makna itu adalah kandungan nutrisi pada cemilan kita
bernama puisi ini.

Dan puisi Fatih mulai bisa bikin kita ketagihan. Beberapa puisinya yang dihidangkan di Mata Puisi nomor ini membuktikan bahwa dia tahu benar kudapan itu bisa saja berbahan yang sama karena diambil dari kehidupan tapi puisi tak pernah berpretensi hendak mengambil alih peran makanan pokok.

Fatih Muftih menulis cerita pendek, esai, juga puisi. Lahir di Banyuwangi, pada 1992, dan sudah sepuluh tahun menetap di Tanjungpinang. Mengapa Mario Menghidupkan Raja Ali Haji (2020) adalah kumpulan esai terbarunya. Baca tulisannya di mahafatih.wordpress.com. Sekarang bekerja sebagai redaktur kebudayaan di harian Tanjungpinang Pos.

Fatih Muftih
Barangkali Rumah

Barangkali, rumah alasnya lingkaran: sejauh kita berkelana, akan
berpulang pada titik mula. Engkau dititah mamak, engkau dipapah
anak.

Barangkali, rumah dindingnya segitiga: siku saling temu, rindu
paling semu. Engkau harus runcing untuk bertaut, engkau harus
tunduk untuk diraut.

Barangkali, rumah atapnya jajar genjang: akal yang setara
menaksir laba, hati yang serong menabung makna. Engkau
menggores garis lurus, engkau menggaris baris kurus.

Fatih Muftih
Kotaku

Kotaku adalah tempat tinggal kata-kata.
Gedung-gedung puisi dibangun,
berebut menjulang paling tinggi.

Sesudah jadi, tak ada yang menghuni.
Sunyi dan dingin sekali.

Dengan sisa tabungan bekerja setiap hari,
aku berencana membeli semuanya. Semuanya.
Tanpa terkecuali. Lalu kuhuni seorang diri.

Sebab ke puisi,
satu-satunya alamat yang kuberi.
Sebelum engkau pergi.

2018

Fatih Muftih
Jealous Laksamana

Aku gagal tidur lelap
pada malam yang lindap
takut dan sesal berebut
selinap. Pengap.

Seberapa andal maaf bekerja
pada kesalahan yang
tak pernah diniatkan?

Bukan maksudku
melukaimu
Bukan hasratku
membunuhmu

Aku hanya seorang laksamana
yang kehilangan kuda-kuda
Aku hanya seorang pencemburu
yang lengah membaca waktu

kemarin yang takkan kembali
esok yang kian tak pasti

Aku menggigil
Aku mengigau

Tak habis-habis
Tak sudah-sudah

Fatih Muftih
Jealous Laksamana

Aku gagal tidur lelap
pada malam yang lindap
takut dan sesal berebut
selinap. Pengap.

Seberapa andal maaf bekerja
pada kesalahan yang
tak pernah diniatkan?

Bukan maksudku
melukaimu
Bukan hasratku
membunuhmu

Aku hanya seorang laksamana
yang kehilangan kuda-kuda
Aku hanya seorang pencemburu
yang lengah membaca waktu

kemarin yang takkan kembali
esok yang kian tak pasti

Aku menggigil
Aku mengigau

Tak habis-habis
Tak sudah-sudah

Fatih Muftih
Pada Sebuah WhatsApp

Rindu memar dan berjalan tertatih
ke lubang kiri dada seorang pemuda.
Perjalanan beribu batu
yang ditempuhnya hingga terlunta-lunta
tidak lantas mampu
menggandakan centang satu
dan menjadikannya biru.

Senja semakin padam.
Rindu sudah pun lebam.

Di antara sengkarut juta-juta pesan WA di
angkasa,
ada satu yang tak pernah tiba.

Tak dengan iba.
Tak dengan air mata.

Fatih Muftih
Perdebatan Kita

Kita masih saja berdebat:
apakah pupuk yang kautabur saban pagi
atau kencingku yang terbirit tiap malam
yang menyuburkan bunga-bunga
di halaman.

Kita terus memperdebatkan:
apakah deterjen yang kautuang sebelum merendam
atau kucekan yang kukencangkan ketika mencuci
yang membersihkan noda-noda
di pakaian.

Debat kita masih sama:
apakah protagonis yang kaupuja sejak awal
atau antagonis yang kuingat hingga akhir
yang menggerakkan cerita-cerita
di layar kaca.

Perdebatan kita belum usai:
apakah Tuah yang kaubaca sedari muda
atau Jebat yang kukaji kala dewasa
yang menerjemahkan sumpah-setia
di kerajaan.

Debat baru di antara kita:
apakah pahala yang kauharap tiap salat
atau dosa yang kusesali tiap saat
yang memberatkan timbangan
di hari penghitungan.

2018

Fatih Muftih
Senja di Meja Kafe

Sepasang anak manusia
memesan meja di sebelah jendela
keemasan wajah mereka
ditimpa senja yang meraja-raja

Yang laki melihat ke luar
Si perempuan jauh ke dalam
Jembatan runtuh di tebing mata
Kata-kata kehilangan kaki-kaki

Pelayan datang, menawarkan pesanan:
sepiring canda yang disajikan getir
atau semangkuk rindu dengan irisan dendam.

Matahari tenggelam
Terbitlah tawa

2018.

Fatih Muftih
Skenario yang Kau Benci

SCENE 1. INT. HARAPAN.
Sebelumnya, kau terbangun dari
timbunanwaktu-waktu, juga mimpi
mimpi,hangat matahari, geliat kecil di
ujung kaki.
Ke sudut kamar menyeduh kopi
menghidu cinta dimana-dimana
bunga-bunga yang bermekaran
kehidupan yang didambakan.
Sempurna adanya.
Anak-anak berlari di beranda.
Cium mesra di sudut mata.

SCENE 13. EXT. KENYATAAN.
Sesudahnya, kau berjaga dari lipatan
kantuk-kantuk, juga losmen-losmen
dingin angin, kertak-kertuk gigi seri,
meringkuk, memeluk badan sendiri.
Dari bawah kanopi, melangitkan doa:
malaikat kecil datang, dengan sigaret
menyalamenawarkan sepenghisapan
menghangatkan.
Nguap, tertawa, mata mengerling,
bahagia yang amat sederhana
tak terjangkau jua
Mobil-mobil melintas silih-berganti
tak satu pun sudi mengangkut kau pergi

2018

Dimuat di Mata Puisi No. 1 /Mei 2020

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *