Esensi Kire dalam Haiku: Memotong Waktu dan Bahasa

Oleh Hasan Aspahani

ADA satu diagram menarik terkait penjelasan tentang haiku, dan sekaligus petunjuk untuk menuliskannya.  Diagram skematis itu dibuat oleh Takatoshi Goto, M.D., Ph.D. melengkapi tulisan yang disediakan oleh grup FB Forum Haiku (Japan Haiku Association) sebagai petunjuk menulis haiku di forum tersebut.

Petunjuk itu menekankan peran kire yang utama dan esensial dalam seni haiku. Apakah kire? Kire itu pemotongan kalimat. Bayangkan satu baris kalimat, tak ada tanda baca. Kire (bisa ditandai dengan atau tanpa kehadiran kata pemotong atau kireji) memberi isyarat di mana tempat di dalam kalimat kita berhenti sejenak, memotong jalannya kalimat.

Makna dan fungsinya kurang-lebih sama dengan pengertian enjambment atau pemotongan kalimat menjadi larik dalam puisi.  Kire dalam haiku adalah teknik yang membawa tenaga estetika terpenting yang bisa kita gunakan. Apa fungsi atau apa yang dilakukan kire? Ia menciptakan kerumpangan atau ruang antarcitraan, yang memancing pembaca untuk mengisinya atau melengkapinya.

Uda Kiyoko, President of Modern Haiku Association (Gendai Haiku) mengatakan bahwa haiku adalah bentuk sastra yang didasarkan pada pemotongan. Baginya esensi haiku adalah pada kire itu.

“… haiku itu memotong penjelasan: itulah haiku. Haiku memotong adegan, tindakan, segalanya — dan juga memotong waktu serta bahasa. Jadi, meskipun dikatakan bahwa pemotongan sebenarnya adalah penghilangan, menurut saya pemotongan sekaligus merupakan proposisi esensial dalam haiku,” paparnya dalam Simply Haiku, 2009, Vol 7.

Keringkasan haiku di satu tahap menuntut penggunaan bahasa yang efisien, sehingga penyair harus menghilangkan kata-kata yang tak diperlukan, memotong kalimat sependek mungkin. Di tahap lain bahasa yang ringkas itu dituntut untuk tampil secara wajar, tidak janggal, atau kaku. Inilah tantangannya.  Kire dengan demikian adalah strategi pengucapan dalam haiku. Di mana dan bagaimana pemotongan harus dilakukan agar makna yang hendak disampaikan benar-benar terampaikan bahkan bisa memberi ruang pemaknaan yang lebih luas.

Penjelasan lain bisa kita kutip penjelasan Ian Marshall dalam “Jouissance among the Kire: A Lacanian Approach to Haiku”

“…. efek disjungtif dari ketergantungan haiku pada pemotongan, atau kire, yang oleh Gilbert disebut sebagai ‘dasar haiku‘, tampaknya menunjukkan diri yang terfragmentasi yang kita alami ketika kita tidak lagi berada dalam tatanan imajiner (imaginary order). Namun, seperti yang Gilbert tunjukkan, ‘Tindakan semantik dari pemotongan secara paradoks justru membentuk rasa non-dualitas, yaitu, suatu rasa koherensi bagi pembaca yang muncul dari aspek-aspek fragmentaris (katakoto) dalam haiku. Jika koherensi tidak terjadi, kita tidak akan memiliki sebuah puisi, melainkan hanya sekumpulan fragmen linguistik.” 

Diagram skematis Takatoshi Goto untuk menulis haiku.

Diagram Takatoshi Goto membimbing kita memahami proses penulisan haiku dan tentu bagaimana menerapkannya.  Prosesnya disebut lanskap tiga tahap (dengan menggunaan terjemahan yang saya rasa lebih sesuai). 1. Penginderaan (sight); 2. Kesaksian (spectacle), 3. Pelibatan (scene).  Tahap pertama terjadi ketika indra kita – semua indra bukan hanya penglihatan – terangsang oleh sesuatu.  Sebagai reaksi atas rangsang itu maka kita memilih dan menyusun kata-kata untuk merumuskannya. “Ah, ada suara ayam berkokok”, “aku mencium aroma minyak rambut”, “aku mendengar suara gemuruh angin di hutan pinus”, dll.

Lalu, tahap berikutnya adalah kita menyadari atau menyaksikan ada sesuatu pada peristiwa yang merangsang kerja indra kita tadi.  Mengutip Basho, Takamoto menyebut tahap sebagai proses melihat cahaya dari benda dalam dirinya sendiri”.  Ayam berkokok bisa menggambarkan kehidupan yang terus terjaga, aroma minyak rambut bisa menggambarkan seorang ayah yang menampilkan diri dengan pantas ketika berangkat kerja sebagai nilai tanggung-jawab sosial-kultural di masyarakatnya, gemuruh angin di hutan pinus mengingatkan ketidakpastian cuaca dan kedigjayaan alam semesta, dll. Kita menyadari mesti mungkin belum sepenuhnya jelas bahwa ada sesuatu dalam apa yang kita saksikan itu.

Tahap terakhir adalah pelibatan diri kita. Kita menyadari bahwa kita ada dalam peristiwa itu terlibat secara emosi, kita peduli, dan kita bersimpati. Kepedulian itulah yang kita wujudkan dengan kata-kata dalam haiku kita.   Barangkali itulah yang disebut dengan istilah makotoketulusan atau kebenaran dalam haiku.” (“Haiku di Britania”, Martin Lucas). Ueda menjelaskan, “Makoto adalah shasei yang diarahkan pada realitas internal. Ini didasarkan pada prinsip pengamatan langsung yang sama, kecuali bahwa objek yang akan diamati adalah diri penyair sendiri. Penyair harus mengalami kehidupan batinnya dengan sesederhana dan sejujur saat ia mengamati alam, dan ia harus mendeskripsikan pengalaman itu dengan kata-kata yang sederhana dan langsung seperti puisi kuno — sangat sederhana dan langsung sehingga tampak biasa.”

Kenapa harus sederhana dan apa adanya? Karena jika berlebihan akan terjerumus menjadi delusi, sesuatu yang tidak nyata, jebakan yang menggelincirkan di antara tahap kedua (kesaksian) dan tahap ketiga (pelibatan).

Garis tegak dalam diagram Takatoshi Goto adalah daya imajinasi puitik yang dimiliki oleh penulis haiku, yang membagi garis datar pada diagram ke dalam dua wilayah, yaitu dimensi idea (wilayah sadar) dandimensi “benda dalam dirinya sendiri” (bawahsadar).

Tiga tahap lanskap penciptaan haiku yang dijelaskan di atas berada di wilayah bawahsadar yang bergerak dengan tenaga imajinasi puitis yang meninggi.

Godaan atau jebakan delusional terjadi ketika imaji puitik itu tak bisa dikendalikan, menjauh, tak bisa ditarik kembali ke wilayah sadar, untuk ditautkan kembali dengan memori kultutal, atau asosiasi-asosiasi tradisional.

Dan di situlah peran kigo, tenaga alusi dalam haiku, yang bekerja, sendiri atau bersama-sama dengan kire, mengisi kerumpangan-kerumpangan imaji yang dihadirkan kire. PEMOTONGAN dengan kire bukan sekadar memenggal jalannya kalimat, atau aliran citraan dalam haiku, tapi yang lebih penting disadari adalah ia menciptakan struktur.

Dalam diagram Takatoshi Goto dijelaskan bahwa kire dalam haiku menunjukkan bagaimana konsep toriawase diterapkan, bagaimana materi atau objek A + materi atau objek B dipertemukan dan dihubungkan. Haiku Basho menjadi contoh penjelasan yang baik. Kolam tua adalah objek A, ia hadir sebagai latar, tempat di mana peristiwa itu terjadi tapi juga terlibat dalam peristiwa itu.

Lalu katak hadir sebagai objek B, yang membuat objek A itu menjadi ikut hidup. Kolam dan katak ada di seluruh lanskap alam itu. Basho melihatnya (tahap pengindraan), lalu ia menyaksikan sebuah peristiwa: katak itu melompat ke dalam kolam (tahap penyaksian), dan ketika Basho mendengar suara air ketika katak tercemplung ke air di kolam itu maka bangkitlah satu kesadaran, Basho terlibat penuh dalam peristiwa itu, ia melihat cahaya makna (tahap pelibatan), ia menuntaskan proses tiga tahap penciptaan haiku.  Suara cipratan air ketika katak tercemplung di kolam itu menandai sebuah perubahan musim, memastikan bahwa katak yang hibernasi selama musim dingin kembali hidup di musim semi.

Kita kembali ke diagram. Di hadapan simbol manusia penyair ada wilayah “bermain” yang disebut “meter”, ukuran atau format pengucapan tetap, atau teikei. Dalam haiku itu berupa  hitungan suku kata yang hanya 17 itu. Itulah hal yang lebih dahulu harus disadari oleh penulis haiku. Ia bermain dalam ruang yang terbatas. Ia tidak leluasa mengerahkan atau mengumbar kata. Ia harus membiasakan diri, menaklukkan, dan menguasa keringkasan itu sebagai ruang pengucapan.

Basho membangun kesadaran itu ketika ia mulai menulis hokku, bait pembuka 17 suku kata untuk renga, sebagai puisi terpisah dan mandiri.  Ini sebuah gagasan revolusioner dan seorang pembaharu. Basho terus mengembangkan gaya baru itu, hingga dikenal sebagai shōfū atau “gaya Bashō”, yang dikenal terutama karena keidndahan baru yang membawa ciri baru: ringan, tenang, dan sederhana.

Basho membuka jalan baru bagi haiku.

Siklus penciptaan yang digambarkan dalam skema Takatoshi Goto mempejelas proses penciptaan haiku unggul melewati wilayah sadar dan bawah sadar, tiga tahap penciptaan, dan bagaimana jebakan delusional dari pengerahan imajinasi puitik (misalnya: lewat pemilihan kata-kata dekoratif, pengerahan bahasa perbandingan) bisa dirujukkan kembali pada kenyataan natural dan kultural atau dalam bahasa Takatoshi Goto, “diverifikasi keasliannya melalui memori budaya dan asosiasi tradisional dalam refleksi”.

Haiku sejati, yang membawa pencerahan (enlighment), lahir dari keberhasilan penyair mengendalikan proses refleksi itu.  Itulah inti dari haiku, sebagaimana dijelaskan R.H. Blyth kepada dunia barat, “Haiku adalah semacam satori, atau pencerahan, di mana kita melihat ke dalam kehidupan benda-benda.”[]

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *