Oleh Hasan Aspahani
UNTUK apa puisi ditulis? Pertanyaan itu bisa dirangkai panjang. Kenapa puisi harus ditulis? Apa yang berharga pada puisi? Apakah tugas-tugas puisi itu hanya bisa dilakukan oleh puisi, benar-benar hanya oleh puisi, tak bisa oleh hal lain?
Pertanyaan-pertanyaan itu diajukan oleh seorang yang bimbang. Tapi, saya mungkin hanya meneruskan saja kebimbangan itu.
Memang, kesusasteraan Indonesia, kata Goenawan Mohamad adalah Kesusateraan yang bimbang. Kebimbangan itu beberapa kali adalah kebingungan menentukan orientasi, antara meninggalkan masa lalu tapi tak jelas juga bentuk masa depan seperti apa yang ingin direngkuh, antara menghamba pada politik dan ideologi tertentu atau merangkul nilai kemanusiaan kebebasan universal?
Lalu, pilihan-pilihan besar diambil, seringkali bukan sebagai langkah yang sepenuhnya bebas, tapi sebagai akibat dari keputusan lain yang menyeret segalanya ke satu arah, ke satu visi besar bersama. Sementara kecemasan itu tak pernah sepenuhnya bisa diteduhkan dengan jawaban yang memuaskan toh sastrawan terus saja menghasilkan karya. Kita terus saja menulis, dengan atau tanpa ancang-ancang yang kokoh.
Jika menulis puisi adalah pekerjaan bimbang, membaca puisi kita hari ini mudah sekali jatuh menjadi kegiatan yang menjemukan dan melelahkan. Banyak sekali puisi ditulis. Saya tak ingin memakai istilah inflasi, sebagaimana dulu pernah dipakai untuk menyebut di mana puisi melimpah tapi nilainya jatuh.
Memang, sekarang di mana-mana orang menulis puisi, dengan kemudahan dan kecepatan distribusi yang tinggi, juga kemudahan mencetak buku atau membagikannya dalam format digital.
Tak semua gagal, juga tak seluruhnya adalah sajak yang berhasil. Karena itu perlu upaya memetakannya, itu mungkin istilah yang lebih nyaman ketimbang memakai istilah mengukur kerberhasilan.
Dengan hasrat untuk mebentangkan peta itulah, kehendak menambah dan menandai titik-titik baru pada peta itulah, maka siapapun yang bersungguh sungguh membaca puisi Indonesia hari ini layak diberi dukungan semangat.
Ancaman dan rundungan jemu dan lelah dari membaca banjir puisi itu terelakkan ketika saya menemukan puisi yang sear. Puisi jenis itu menyenangkan dan membesarkan hati karena meneguhkan lagi kepercayaan saya bahwa ekplorasi atas gaya ucap dan cara menggarap tema sesungguhnya bukanlah pekerjaan mengetuk-ngetuk dinding tak berpintu.
Pintu yang kelak terbuka mungkin tak lebar, tapi sekecil apapun, itu adalah celah yang berharga untuk dimasuki. Cukuplah untuk menjadikan alasan menerakan satu titik tanda baru pada peta puisi kita.
Semakin banyak orang menulis puisi itu berarti semakin banyak orang yang percaya pada bentuk itu dan membutuhkannya untuk menyalurkan hasrat untuk berekspresi. Dan itu baik.
Kita semakin mengarah ke bentuk atau situasi di mana kita hidup dalam masyarakat dengan perasaan yang peka. Puisi semakin dirayakan, diapreasi, dan semakin luas diperbincangkan bukan oleh kritikus dan bukan oleh penyair.
Fenomena itu kita di kanal-kanal Youtube dan layanan podcast. Saya menemukan kanal pembacaan puisi yang digarap kreator konten yang serius sekali memperhatikan produksi videonya, juga podcast yang membicarakan puisi dengan cara yang membuat puisi itu hidup dan berharga.
Kehadiran puisi yang semakin meluas, memasuki saluran-saluran apresiasi baru, membuktikan juga bahwa kita semakin apresiatif dan semakin kreatif.
Saya memahami kreativitas sebagaimana Arif Budiman pernah menuliskannya di Horison, No. 5, November 1966, tahun ketika bangsa ini merasakan kembali apa arti kebebasan kreatif. Kreativitas, katanya, adalah kesanggupan melihat kemungkinan yang lebih sempurna dan merealisasikannya.
Menulis puisi dalam hal ini bisa kita sebut sebagai upaya untuk memperbaiki atau menyempurnakan satu sisi kemanusiaan kita. “Hanya manusia yang memiliki kemungkinan – karenanya hanya manusia yang mungkin kreatif,” kata Arif.
Pekerjaan itu tentu saja tak hanya bisa dijalankan oleh puisi atau orang yang menulis puis. Itu adalah tugas seni dan kebudayaan pada umumnya. Dan itu tak akan pernah selesai, karena kodratnya manusia tak akan pernah bisa sempurna.
Dalam upaya memenuhi hasrat menjadi sempurna itu, yang dengan kata lain bisa diartikan hidup lebih mudah, dan punya kesempatan lebih banyak untuk menikmati hidup, manusia seringkali lupa, melangkah terlalu jauh dan melenceng. Di situlah peran puisi dan seni umumnya menjadi penting. Puisi harus bisa menjadi bahan untuk mengingatkan, dengan cara-cara yang tak meninggalkan hakikatnya sebagai puisi itu sendiri.
Karya seni yang baik, kita kutip lagi Arif Budiman, seperti suluh api yang memimpin manusia mencari nilai-nilai yang dapat menolong dia menemui hakekat kemanusiaanya yang berbahagia.
Maka, teruslah menulis puisi dengan terus melakukan ekplorasi agar puisi itu semakin menarik dengan mencari kesegaran dan kebaruan bentuk, dan nyalakan suluh api amanat dalam puisi kita agar bisa sediki menerangi jalan pencarian hakikat kemanusiaan kita.
Jakarta, 13 April 2020.
Dimuat di Mata Puisi No. 1 / Mei 2020
