Oleh Hasan Aspahani
Separuh Puisi / Sajak Ook Nugroho
Sebagus-bagus sajak kau tulis
Itu barulah separuh puisi, katanya
Separuhnya lagi tertahan oleh sunyi
Yang mendekapnya di hulu waktu
Kelak jika musimmu telah muara
Diaruskannya sempurna mencapai hilir
2010
BILA sungai kita lihat sebagai amsal kehidupan maka muara adalah pencapaian. Titik di mana apa yang mengalir dari hulu bertemu dengan keluasan laut, bahkan menjadi bagian dari laut itu sendiri. Muara adalah geografi yang terbuka. Yang menerima pengaruh dari laut luas juga menerima apa yang sampai dari hulu, hulu waktu, hulu masa lalu. Muara adalah kematangan, di situ air tak lagi mengalir, tapi tak juga menggenang, ia menerima ombak, juga air yang pasang naik dan surut.
Sajak Ook Nugroho di atas saya mulai maknai justru dari kata “muara” itu. Kata benda itu ia jadikan sebagai kata sifat. Ia sebutkan: Kelak jika musimmu telah muara. Ia tidak katakan “telah mencapai muara”, di mana kata itu menjadi kata benda menunjuk tempat. Ook menjadikan muara sebagai sifat dan saya memaknainya kata itu seperti saya uraikan di atas. Dengan begitu, maka makna sajak itu di depan saya lantas menjadi pasang naik.
Itulah muara saya. Maka saya setuju dengan penyair kita ini, bahwa sajak yang bagus itu ya hanya separuh puisi. Belum mencapai puisi, tak pernah sepenuhnya menjadi puisi yang sempurna. Bahasa yang baik hati itu, tak sepenuhnya bisa dimanfaatkan oleh penyair untuk mengucapkan niat ucapnya. Selalu ada yang terdekap di hulu, hulu waktu, hulu kenangan itu.
Hanya apabila kita telah sampai pada muara penghayataan kita, maka apa yang terdekap di hulu itu akan lepas mengalir deras, lewat sungai-sungai penghayatan dan pemaknaan. Pembacalah, dengan wawasannya, pengalaman hidupnya, pengalaman estetisnya, yang melengkapi separuh puisi itu.
Maka di hadapan puisi, muarakan diri kita. Atau bahkan puisi itulah yang menyadarkan kita bahwa kita telah mencapai kearifan musim yang memuara yang terbuka, dalam, tak lagi cemas dengan gelombang pasang itu.[]
Mata Puisi No. 5 / September 2020
