Esai: Chairil, Yang Ia Teladankan dan Yang Harus Kita Tangkap

Oleh Hasan Aspahani

Bagaimana Charil Anwar menulis? Bagaimana dia mengolah bahasa? Apa yang selalu kita bisa pelajari dari sajak-sajaknya?

CHAIRIL lahir tahun 1922. Pada tahun 1942 – pada usia 20 tahun – ia menulis sajak “Nisan”. Ini sajak sulungnya yang kita terima. Ia pasti ada menulis sajak sebelum itu, sajak yang ia simpan, karena dia anggap belum menjadi, lalu hilang tak tersimpan, tak terlacak lagi, atau belum memuaskan dia.

Inilah sajak yang ditempatkan pada urutan pertama di kumpulan sajak lengkapnya “Aku Ini Binatang Jalang” (Gramedia Pustaka Utama, Editor Pamusuk Eneste).

Pemuda seusia itu, menulis sajak “Nisan”, begini:

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta.

Sajak yang pendek saja. Sebuah kwatrin. Dengan rima yang tertib. ABAB. Sebuah bentuk formal persajakan yang lazim dipakai oleh penyair pada masa itu.

Pada masa itu, Rosihan Anwar menulis sajak begini:

Bukan sahaja permainan kata
Benar lantaran Keyakinan jua
Hingga tak segan bila ketikanya
Hendak dikorban sekalipun jiwa.

Pada masa yang sama, Anas Ma’ruf menulis sajak begini:

Hati berontak meradang bengis,
Garang dan nekat mungkin terjadi,
Terbatas segala ratap dan tangis,
Hidup menyesali nasibnya sendiri.

Kalau kita baca sekarang, dua contoh sajak selain sajak Chairil di atas, terasa kedua sajak itu gayanya (diksi, sintaksis, tema) jadul sekali. Sementara milik Chairil sampai saat ini masih terasa baru!

Kata-katanya, sama saja. Kecuali kata “sahaja” di sajak Rosihan yang langsung bikin kita terasa terdampar di sekolah rakyat. Jadi, kalau pilihan kata yang tersedia sama, berarti itu tidak jadi pembeda. Maka pasti kekuatan sajak Chairil ada pada bagaimana cara kata-kata itu digubah. Ini kerja menyair yang sesungguhnya: menemukan cara ucap sendiri, bagi sajak-sajaknya sendiri. Dan Chairil berhasil melakukan itu.

Ini soal kemahiran (dan kecerdasan berbahasa). Soal lain adalah bagaimana Chairil menghayati hidup untuk ia sajakkan. Ia bicara soal kematian. Ia sampai pada rumusan yang jenius: bukan kematian benar menusuk kalbu. Sajak ini terus-terang ia tulis untuk (atau karena) kematian neneknya. Perlu kita lacak, pada masa itu, frasa “menusuk kalbu” sepertinya bukanlah gabungan kata yang lazim. Chairil menciptakan paduan itu untuk menyatakan perasaannya.

Sajak ini, bicara soal ketabahan menerima maut yang menandai ketibaan segalanya. Chairil untuk kepentingan persajakannya mempersonifikasikan “nisan”, metafora dari maut itu. Ia menyebutnya sebagai “tuan”, yang hanya setinggi itu (berjarak) dari debu, rendah sekali. Hina sekali. Debu itu lalu disejajarkan dengan “duka” (sebuah persandingan yang bagi saya mengejutkan).

“Tak kutahu…”, kata Chairil. Itu artinya, dia mau bilang, “baru aku tahu….”. Ini pilihan cara mengucap yang menurut saya juga sangat orisinal. Dan itu ditulis oleh seorang penyair berusia 20 tahun! Pada usia itu, tak sedalam itu penghayatan saya atas kehidupan. Tak sehebat itu penguasaan saya atas bahasa.

Sajak pendek ini mengajari kita banyak hal untuk menjadi penyair yang hebat: penghayatan yang dalam atas hidup, dan kemahiran menguasai bahasa sebagai alat untuk mewujudkan nilai-nilai hasil menghayati kehidupan itu.

DALAM buku “Puisi Indonesia Modern” (Pustaka Jaya, Cet. 2, 2008), Ajip Rosidi memilih tiga sajak Chairil yaitu “Aku”, “Doa” dan “Persetujuan dengan Bung Karno’. Ajip menyimpulkan bahwa dalam setiap sajak Chairil, si penyair berhasil menjelmakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa sastera yang matang.

“Setiap kata, setiap kalimat, setiap bait kelihatan ditimbang matang-matang, sehingga mencapai efektivitas yang maksimal,” kata Ajip.

Chairil pun, kata Ajip, memperkenalkan imaji-imaji baru atau asing dalam Bahasa Indonesia. Pada satu pihak, ia banyak mempergunakan kata-kata Bahasa Indonesia sehari-hari, sementara itu dia juga meningkatkan hal-hal keseharian itu sehingga mencapai kesemestaan.

Dengan kata lain: kata-kata itu meskipun dipungut dari bahasa sehari-hari telah diasahnya sedemikian rupa sehingga di dalam sajaknya menjelma menjadi sesuatu yang berbobot puisi.

Kita bisa belajar dari sini, yaitu bahwa untuk menciptakan yang hebat, seperti sajak-sajak Chairil, kita harus memaksimalkan efektivitas kata dan kalimat. Bagaimana caranya? “Chairil bersungguh-sungguh menimbang segala yang hendak ditulisnya,” kata Ajip.

Kesungguhan itu bisa kita temukan bukti lain dalam kartu posnya kepada Jassin bertanggal 10 April 1944. Chairil menulis: Jassin, yang kuserahkan padamu – yang kunamakan sajak-sajak! – itu hanya percobaan kiasan-kiasan baru. Bukan hasil sebenarnya! Masih beberapa “tingkat percobaan” musti dilalui dulu, baru terhasilkan sajak-sajak sebenarnya.

Lihat, betapa Chairil dengan sadar – dalam sajak-sajaknya – melakukan pencarian dan percobaan untuk menemukan kiasan-kiasan baru.

Dan dia melakukan itu berulang-ulang, “bertingkat-tingkat”, sampai ia merasa telah menghasilkan sajak sebenarnya.

*
CHAIRIL Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin. Mereka adalah “Tiga Menguak Takdir”, sebagaimana judul buku puisi yang mereka terbitkan bersama, tapi baru sempat terbit setelah kematian Chairil. Ada kesamaan di antara mereka: sama-sama rakus membaca sastra asing. Tapi, toh hasilnya berbeda. Chairil mencuat menjadi penyair terkuat di antara mereka bertiga.

Dalam hubungannya dengan sastra asing – demikian Sapardi Djoko Damono menilai – Chairil Anwar tidak menerima pengaruh itu secara pasif.

“Ia sengaja ‘merebut’ pengaruh dari apa saja yang dibaca, disadur, dan diterjemahkannya — dan kemudian dipergunakannya untuk tidak hanya mengembangkan tema, tetapi juga untuk menciptakan cara pengungkapan baru, ‘bahasa’ yang baru, yang berbeda dari yang dipergunakan oleh para penyair yang sebelum perang menyiarkan sajak-sajak terutama dalam majalah Poedjangga Baroe, yang tetap juga dipergunakan oleh para penyair di zaman Jepang,” kata Sapardi dalam “Chairil Anwar: Perjuangan Menguasai Konvensi”, makalah yang ia paparkan di hari peringatan Chairil Anwar, di Pontianak, tahun 1995.

Jadi, kekuatan Chairil adalah membaca! Dia pembaca yang lapar dan lahap. Dia membaca sajak-sajak luar, yang berbeda dengan sajak-sajak yang ada di negeri ini pada zamannya. Dari situ dia mendapatkan perbandingan, dari situ dia memperkaya khazanah baru bagi persajakannya.

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana dia membaca? Lalu apa yang dilakukan setelah membaca? Chairil menerjemahkan, menganalisa, menyadur, mengunyah dan tidak menelan mentah-mentah segala pengaruh dari bacaan itu.

“Pada dasarnya,” kata Sapardi, “menerjemahkan adalah suatu proses menciptakan cara pengungkapan baru dalam bahasa sasaran bagi pengalaman yang terkandung dalam bahasa sumber.”

Lalu, kata Sapardi selanjutnya, jika pengalaman itu merupakan hal asing juga dalam kebudayaan bahasa sasaran, yang harus dilakukan penerjemah adalah menciptakan cara pengungkapan baru.

“Proses seperti itulah yang kira-kira terjadi pada Chairil Anwar; dari proses itu lahir “bahasa baru” dalam puisi Indonesia,” kata Sapardi menyimpulkan.

Apa yang tidak bisa ditiru dari Chairil? Apakah sekarang mustahil bagi kita, melahirkan lagi sebuah atau beberapa “bahasa baru” dalam puisi Indonesia? Saya jawab: bisa!

*

SETELAH Chairil Anwar menyiarkan sajak-sajaknya, setelah sajak-sajaknya dibahas, diulas, didudukkan setinggi-tinggi sebagaimana layaknya ia dapat tempat, maka sejak itu tidak ada lagi penyair yang menulis dengan gaya Pujangga Baru! Inilah revolusi itu. Revolusi yang digerakkan – atau setidaknya dirintis – oleh Chairil.

Chairil berhasil meyakinkan bahwa sistem persajakan lama itu bisa dirombak. Ia mencari dan menemukan bahasa yang menyegarkan bahasa lama yang membosankan itu.

A Teeuw ada mengutip hasil penelitian Keith R. Foulcher yang menggambarkan dengan jelas seperti apa konvensi persajakan pada masa Pujangga Baru dan bagaimana kemudian Chairil mengubah konvensi itu.

Kita butir-butirkan saja kutipan dari Teeuw (bacalah, sambil membayangkan bagaimana sajak-sajak dari zaman Pujangga Baru itu dideklamasikan oleh seorang murid SD yang diajari oleh Guru Bahasa yang hanya patuh pada kurikulum):

  1. Dalam masa Pujangga Baru konvensi puisi dari masa sebelumnya di bidang bentuk dan teknik dipertahankan dengan ketegasan dan konsistensi yang cukup nyata. Dari segi bentuk kwatrin tradisional (bait berlarik empat dan berkata empat) menjadi dasar ekpresi.
  2. Bahasa sebagian besar tetap bersifat retoris; bahasa nan indah tetap menjadi cita-cita estetis dalam pertentangannya dengan bahasa sehari-hari.
  3. Dalam bidang tema dan perkiasan pun tidak besarlah perubahan kalau dibandingkan dengan masa sebelum Pujangga Baru.
  4. Skala emosi yang dilahirkan dalam puisi selalu terpantul dalam aspek-aspek keindahan alam yang lembut-halus.

Chairil hadir dengan perlawanan. Ia perkenalkan tema-tema baru dalam sajak-sajaknya. Ia angkat bahasa sehari-hari menjadi berdaya puisi, sehingga sajak menjadi dekat dengan banyak orang. Ia tulis sajak dengan bentuk-bentuk yang “rusak” dan merusak tatanan bentuk-bentuk lama. Ia tulis sajak yang jiwanya bukanlah jiwa malas yang terpukau dan terbuai oleh indahnya pemandangan. Ia tulis sajak dengan gelora jiwa menghempas.

Bayangkan, kalau Chairil tidak “melawan” Pujangga Baru, maka konvensi itu bisa jadi akan terus bertahan! Kita sumbangan paling besar – dan tak ternilai – seorang Chairil kepada bahasa dan sastra Indonesia. []

Dari Mata Puisi 5 / September 2020

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *