Oleh Hasan Aspahani
MEMAINKAN tragedi dengan membentur-benturkan hal-hal yang faktual dan imajis menjadikan puisi-puisinya seperti dunia yang benar-benar berbeda dengan keseharian kita. Puisinya seperti lukisan yang penuh sesak dengan imaji yang kadang terasa keras dan getir. Dengan keganjilan semacam itu, puisi-puisinya bisa menghadirkan kemuraman dan kesedihan sekaligus seolah mempertanyakan masih adakah hal yang bernama harapan?
Wiviano Rizky Tantowi, lahir di Jember, 2 Juni 1998. Aktif sebagai mahasiswa disabilitas jurusan Sastra Indonesia di Universitas Jember. Menulis beberapa karya puisi, cerpen dan esai di media cetak maupun daring. Sesekali juga menulis skenario film.
Wiviano Rizky Tantowi
Kebencian
Apakah benci?
sesakit menikam musim
memaki-maki detik
berhari-hari
berendam api
bertahan
setabah angin
menunggu gigil
telanjangi desil
merentang percakapan
di pucuk lilin
mengkhianati hangat
(2020)
Wiviano Rizky Tantowi
Kurobek Bebatuan yang Menghadang Kehidupan
: Rieke Saraswati
Saat ibu terpejam pukul dua malam
kurobek bebatuan yang menghadang
kehidupan di dalam sini.
“Pisau sudah dipegang
cacing-cacing jalang
membentuk kubangan
berisi kesedihan dan
ketakutan!” kataku tegas.
Apakah ada kekosongan yang melegakan
rumah ibu sesaat setelah gelisah menghunjam
kesibukan terminal memorimu?
Nyatanya, jalan yang mengalir menuju hatiku
tumbang terbendung jarum dan tabung
Wiviano Rizky Tantowi
Kunang-kunang yang Tak Remang
Jarakku selangkah kamar
kunang-kunang yang tak remang
berguguran paku, suara parau
ikut gemuruh di hampar selasar
gerah dan gelap menyasar
dasar telaga sedang tak tenang
Wiviano Rizky Tantowi
Malam Sabat
Ini malam sabat
malam sehari sebelum Tuhan
benar-benar istirahat
merenung, dan menimbang sambat
pada kesibukan kota,
yang menyaksikan pemerintah
tak pernah turun ke jalan
turut memungut sisa keringat dan nasi di perempatan jalan arteri
ada banyak, ribuan kepala pusing berbaris antri dan rapi
menjernihkan sedih dan puisi sebelum rambu-rambu
mengedipkan cagaknya kepada ribuan kepala yang kini merinding
sementara, ada ribuan kepala yang demam, yang lebam
yang kudapat dari buram tulisan, melekat di dinding prasasti
kupelajari dari badut-badut yang menari dan mempelajari
ribuan kepala yang pusing mencari cara mengetuk setiap pintu yang terkunci
Wiviano Rizky Tantowi
Dua Satu
tumpuk jerami
kesah kita meruap
merambat nadi
Wiviano Rizky Tantowi
Semalam Adik Menjumpai Tuan Pisang
Turun dari mobil, semalam
adik menjumpai tuan pisang
yang lelah duduk menyila
bersandar di bantal batang
mengamati lintas lalu kesibukan
warna warni dasi yang hinggap
debu yang menderita
menghirup napas asap kendaraan
diguyur utang dan hujan kesedihan
meski sekian ada waktu untuk berdiam
menunggu malaikat baik datang
tuan pisang merenung panjang,
dan adik mantap menjumpai tuan pisang
dengan sesisir tandan tulang
yang retak-retak berjenjang
ada sedikit karang, setumpuk nominal ratusan
menggelinding hilang ditelan zaman
tuan pisang, tak lama, senyumnya turut mengembang
matanya bengkak dan hitam itu berlinang
terima kasih, tuan, terima kasih
lamat-lamat ia mengucapkan kepada adik
yang ikut senang dan ia lalu balik ke mobil
membawa cinta, kepuasan,
dan sebagian beban tuan pisang
pindah di pikiran adik yang menyamarkan
tenangnya yang cukup menyeramkan.
Wiviano Rizky Tantowi
Bapak Tua yang Senyumnya Tinggal Seminggu
Sedari subuh peluh gerimis penuh di dahi Bapak tua itu
suara peluit sumbang, mengantongi sisa-sisa receh di sak,
tidur bersandar telpon umum yang lusuh ditelan sejarah
(dan sudah berapa kesibukkan yang dia atur
agar tak saling bergesekan?)
decit roda menggores aspal, membentuk luka pada gambar
//nisan, peti dan kerangka// Sebuah tanda napas
semakin jelas dan membuat cemas, menanggal
bendera putih di atas pusara. Sementara
orang-orang di sana yang pernah atau sering lalu lalang
di hadapannya, hormat dan rindu kepada Bapak tua yang senyumnya
tinggal seminggu.
Image by Marco Mézquita from Pixabay
