Oleh Dedy Tri Riyadi
Siapa yang menemukan tapal kuda
Membersihkannya dari debu,
Menggosok dengan bulu domba hingga ia berkilau,
Lalu
Menggantungnya di ambang pintu
Mengistirahatkannya,
Dari tugas memercikkan api dari bebatuan itu.
.
(Osip Mandelstam, Siapa yang Menemukan Tapal Kuda)
BERPUISI sebagaimana pengertian dasarnya mencipta tentu bermaksud untuk memberikan pengertian baru dari hal-hal yang telah ada. Dalam petikan puisi Osip Mandelstam di atas, hal yang telah ada itu diibaratkan sebuah tapal kuda. Fungsi awal dari tapal kuda adalah melindungi kuku kuda pada saat ia berlari. Namun ketika seseorang menemukan tapal kuda yang sudah lepas dari kuku kuda, akan dianggap bisa mendatangkan suatu keberuntungan. Mitos lain mengatakan jika tapal kuda itu diletakkan di atas pintu depan rumah, maka rumah itu tidak akan pernah mendapatkan bahaya terutama yang disebabkan oleh sihir. Ketika seseorang menemukan tapal kuda itu tidak lantas begitu saja ia pasang tetapi lebih dahulu akan membersihkannya sampai bersih dan mengkilat, baru kemudian akan dipasang.
PERPINDAHAN fungsi dari suatu benda yang diakibatkan adanya mitos atau kepercayaan sehingga mempunyai fungsi lain yang berbeda sama sekali dengan tujuan awal ia dibuat tidak membuat benda itu berbeda. Bendanya akan tetap sama, tetapi fungsinya yang jelas berbeda. Bahkan, lebih dari sekadar seseorang menjadi yakin pada fungsi yang kedua, pada akhirnya ada satu emosi sendiri yang muncul dari pemikiran yang mengubahkan itu.
EMOSI semacam inilah yang diharapkan tumbuh pula setelah Faris Al Faisal mengolah secangkir teh sebagai bahan dari puisinya, yang dalam bahasa Jawa kerap disebut juga dengan wedang, sehingga menjadi wedang teh. Secara kebetulan pula, dalam bahasa Jawa ada yang disebut kerata basa, yaitu memberi artian yang senada dengan suku kata -suku kata yang digunakan untuk menyusun kata tersebut.
Semisal kata “Bapak” yang diberi artian “Bab apa-apa pepak” yang dialihbahasakan ke bahasa Indonesia menjadi “Semua hal akan dipenuhi.” Sementara untuk wedang, kerata basa membuatnya berarti “ngawe-awe kadhang” yang maksudnya “melambaikan tangan (mengajak untuk datang) kepada saudara.” Dan hal ini ditulis sedemikian jelas dalam puisi “Komposisi Wedang Teh” yang menyebut “Di rumah, teh adalah saudara setia/ tak ke mana-mana, ada sebagaimana kopi memberi kehangatan.” Faris Al Faisal menawarkan kehangatan persaudaraan dan menyematkannya pada secangkir teh. Seperti tapal kuda tadi, teh yang tadinya penawar dahaga dipindahkan fungsinya sebagai perekat persaudaraan, sehingga diharapkan ada perasaan yang hangat bersahabat dari yang membacanya.
WAJAR sekali jika di dalam puisi, segala benda yang biasa kita kenal ataupun berkaitan dengan fungsi benda yang semestinya menjadi berubah. Selain benda, jika kita mengamati, pemandangan yang tengah kita lihat pun bisa dipersepsikan layaknya sebuah benda. Seperti kita tengah memandang lukisan. Pengalaman inderawi yang berasal dari penglihatan ini tentu membangkitkan suatu emosi tersendiri. Alih-alih disampaikan langsung, dalam puisi biasanya ada pengolahan yang dilakukan oleh para penyair sehingga emosi yang tadi timbul dalam hati dan pikirannya disembunyikan, dilenturkan, dibelokkan, bahkan diperkuat hingga nantinya menimbulkan perasaan yang bisa jadi tidak sama dengan emosi yang dirasakan ketika penyair itu melihatnya. Puisi panjang Faris Al Faisal berjudul “Uraian yang Tidak Menuntut Jawaban Apa-apa Kecuali Sekadar Pengakuan yang Tak Perlu Diungkapkan dengan Kata-kata”
Menyusun serangkaian kejadian dan pemandangan yang dibuat menjadi semacam kolase dengan membobotinya dengan beragam pernyataan untuk kemudian dipertanyakan. Salah satu yang menjadi pertanyaan di sana adalah proses menciptakan puisi di mana penyair bergelut dengan buku-buku sastra, bergelas-gelas kopi, dan lain-lainnya agar bisa menyatakan cinta yang membabi buta dan keras kepala, yang tentunya kepada puisi.
HOERUDIN, yang adalah seorang pengajar, mengganti fungsi bioliminesensi yang adalah proses alami kimiawi dalam tumbuhan dan hewan (dalam puisi ini seekor kunang-kunang) yang dapat menghasilkan cahaya pada bagian tubuh mereka menjadi semacam penuntun untuk menggali mitos (kuku orang mati, dalam puisi ini kuku-kuku hantu) dan juga kesadaran pembaca akan nasib orang yang dimarginalkan (mengalami kemiskinan, sampai pada kematian) lewat puisi yang berjudul Bioliminesensi. Sementara, dalam puisinya berjudul “Nujum” ia menggantikan fungsi ramalan (atau nujum) menjadi permenungan akan harapan di tengah pandemi Covid-19. Demikian juga roti yang seharusnya mengganjal kelaparan diubahnya dalam pengertian keimanan.
DI TANGAN Ilham Wahyudi, dalam puisi berjudul “Kaliko” seekor kucing belang tiga jantan (yang menurut mitos tidak pernah ada karena selalu dimakan oleh induk jantannya, sementara info lain mengatakan karena faktor genetik) diolah menjadi sebuah tragedi yang mempertanyakan kemauan dan kemampuan kita sebagai manusia dalam menolong hal-hal yang mengerikan. Sebagai puisi, ia hadir memang bukan sebagai alat yang serta-merta bisa menyelamatkan, tetapi ia akan lahir sebagai upaya menggugah kesadaran kita belaka. Kesadaran bahwa puisi hanyalah sebagian saja, muncul pada puisi berjudul “Pohon Sentul” karya Ilham Wahyudi. Sentul yang merupakan nama lain dari kecapi (Sandoricum koetjape (Burm.) f. Merr) adalah pohon buah yang rimbun dan besar (bisa mencapai tinggi 30 meter). Daging buahnya tebal dan berasa agak masam. Sehingga untuk dimakan masih perlu diolah atau bisa dijadikan selai (marmalade). Dengan memperkatakan “Hingga tegaklah tiang-tiang penopang kami; jadi anggunlah rumah-rumah kami, meski bukan sebatas itu engkau kami nanti,” Ilham Wahyudi memberikan amaran kepada pembaca bahwa kerja penyair dengan puisinya memang baru sebatas melakukan rangsang kepada pembaca lewat transformasi imaji-imaji tersebut. Selebihnya, untuk sampai menggugah perasaan, haruslah ada respon dari para pembacanya.
AGAR bisa melakukan transformasi tersebut, benarlah jika penyair memberi jarak emosinya terhadap apa yang merangsangnya untuk menciptakan puisi. Dee Hwang menyadari betul hal ini, dan secara terang menyatakan haruslah ada dirinya yang lain seperti ditulisnya dalam puisi “Wassermusik” yaitu, “Perkenalkan, ini diriku yang lain, ini diriku yang berikutnya…” atau seperti dalam puisinya yang lain ia menyatakan “Meski kudapati diriku yang lain / Di muka gerbang” (Dans Un Magasin D’antiquites). Keberjarakan itu juga ditulis sebagai, “Di antara kita, memang ada yang sedepa ruang” olehnya dalam puisi “Sesaat Setelah Kupagari Diri dari Lamunan.”
KEBERJARAKAN itu juga dirasakan sebagai keharusan yang dilakukan saat menyair oleh Wiviano Rizky Tantowi, sehingga ia merasa betapa perlu merobohkan suatu halangan. Lewat puisinya, “Kurobek Bebatuan yang Menghadang Kehidupan” ia memikirkan kegentingan ini dengan menulis “Nyatanya, jalan yang mengalir menuju hatiku/ tumbang terbendung jarum dan tabung.” Tujuan dari keberjarakan ini jelas, agar puisi itu menjadi jernih, dan ketika pembaca menerimanya ia juga merasakan getar emosi yang sama. Harapan semacam ini, ditulis oleh Wiviano dalam puisinya “Dua Satu” sebagai “kesah kita (yang) meruap (lalu) merambat nadi.”
ANDAI penyair tidak melakukan transformasi benda dan imaji pada puisi, tentulah yang akan kita dapatkan hanyalah suatu fakta (berita) belaka. Meskipun demikian, berita pun sebenarnya bisa menjalarkan keresahan. Namun kita tahu, berita punya kelemahan dalam hal mudahnya ia dilupakan seiring dengan waktu. Wiviano, menyelipkan hal semacam ini lewat puisinya “Bapak Tua yang Senyumnya Tinggal Seminggu” misalkan tentang “telepon umum” yang ditinggal sejarah karena keberadaan telepon genggam dan kemajuan teknologi digital (internet). Karena itulah, benda dan peristiwa yang merangsang indera para penyair dalam berpuisi, di dalam tubuh puisi harus disiasati dengan cara ditranformasi agar bisa tetap mendapatkan pengaruhnya ketika dibaca meskipun benda itu sudah tidak berfungsi lagi. Sebab, seperti ditulis oleh Osip Mandelstam dalam puisi Batyushkov tugas dari penyair lewat puisinya adalah “Tuangkan mimpi-mimpi abadimu, bercak-bercak darahmu, / Dari satu ke lain gelas.” menyalurkan harapan dan pergulatan batin seperti halnya sekelompok orang melakukan minum bersama-sama, sehingga semua yang minum bisa merasakan hal yang sama dengan yang penyair rasakan.
Jakarta, 28 Agustus 2020
Image by Stefan Schweihofer from Pixabay
