“Aku harus terhindar dari penyakit, agar kata-kata ini tidak sakit dan abadi di setiap syair para penyair yang pandai bersedih.”
Puisinya beraroma kesepian dan permenungan yang hendak menyentuh ambang surealistis. Tapi juga ia selalu mengembalikan teks ke ranah linguistik/bahasa dalam citraan yang realis. Termasuk puisinya tentang wabah covid-19. Bernama lengkap Aflaha Rizal Bahtiar, ia lahir di Bogor, 26 Agustus 1997. Ia mahasiswa semester akhir Komunikasi, di Universitas Pancasila.
Karya yang telah diterbitkan berupa kumpulan cerpen secara indie: Cuaca Sama (2016), Cuaca Sama II (2017) dan buku puisi terbarunya tahun ini, Kenangan Tidak Terbuka (Kuncup, 2019). Puisi yang lain masuk pada antologi, media online, dan pernah terbit di Radar Selatan (2019), dan Koran Tempo (2019). Cerpen terbarunya kini sedang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris tahun ini, oleh Inter Sastra. Juga pernah diundang di Festival Sastra Bengkulu 2019 sebagai penulis terbaik.
Instagram: @Aflaha_meteora. Medium: Aflaharizal87
Aflaha Rizal
Girl On Red Carpet (1992)
Tiada siapa-siapa yang memasuki waktumu.
Hanya kau, perempuan merebah di karpet merah
seorang diri. Dengan sunyi yang menyala merambat
di pori-pori kulitmu.
Dengan atau tanpa siapapun, hanya hari ini dan
kau seorang diri. Seperti liburan tanpa mengeluarkan
uang.
Sebuah tikar merah yang kau beli dengan harga
murah hangat mmeluk tubuhmu, dan barang yang
berserakan: buku, piring, boneka bayi, alat kecantikan
dan perhiasan peninggalan.
Kau memandang mereka seperti mereka
memandang dirimu. Lalu keraguan di jembatan
tubuhmu. Dan anjing itu, tidur dengan belaian
tangan kau yang pucat yang mampu jatuh cinta.
Ini liburmu bukan? Sebuah suara datang yang
tidak kau dengar. Kau mengelus bulu anjing itu
sekali lagi, yang kau cintai melebihi siapapun.
2020
*Terinspirasi dari lukisan karya Felice Casorati, Girl On Red Carpet 1912
Aflaha Rizal
Lockdown
Kau terkunci seperti penjara yang meminta dirimu
istirahat dan tidak panik. Semua kota sepi, tukang
ojek susah mencari penumpang. Juga perihal yang
ingin kau lupakan: tentang perih dan sakit dari waktu
sibuk bekerja.
“Tetapi aku tidak terkunci untukmu,” kata Tuhan
yang menuju tubuhmu, yang pernah kau lupakan.
2020
Aflaha Rizal
Prelude: Lagu yang Membayangi
Satu per satu lagu mengantarkan kesunyian di
kafe ini. Dan kita saling memesan secangkir
malam. Begitu pula mereka, memesan agar
kesunyian lengkap malam ini.
Sebentar lagi, lagu itu akan membayangi kita.
2020
Aflaha Rizal
Ulang Tahun Kopi
Hitam yang menganga kesedihan itu sampai pada
rumahnya: kedai kopi, biji kopi, dan harum tubuh
barista bau kopi.
Seperti pengembara ke tiap ladang kopi dan bibir-bibir
penyicip kopi. Rumahnya ramai kini dengan biji-biji
kopi.
“Selamat ulang tahun kopi!” ucap biji kopi
sama-sama.
Lalu haru hitam kopi yang menetes perlahan itu: air
mata kopi yang menggenang suci.
2020
Aflaha Rizal
Sajak untuk Adik
Masa sekolahku tidak bahagia, tidak mekar
dan layu di taman. Tetapi aku pandai menipu
diri, dan membenci sebagian wajah mereka
yang tersenyum.
Tidak ada balon yang terbang di sekolah, bahagia
itu. Tidak ada jatuh cinta, aku barangkali tidak
mencintai siapapun dan bertahan tidak mencintai
siapapun.
2020
Aflaha Rizal
Sajak untuk Adik
Masa sekolahku tidak bahagia, tidak mekar
dan layu di taman. Tetapi aku pandai menipu
diri, dan membenci sebagian wajah mereka
yang tersenyum.
Tidak ada balon yang terbang di sekolah, bahagia
itu. Tidak ada jatuh cinta, aku barangkali tidak
mencintai siapapun dan bertahan tidak mencintai
siapapun.
2020
Aflaha Rizal
Kini di Rumah
Kini di rumah, seperti seorang penganggur belum
dapat kerja dan memimpikan mimpi sekali lagi yang
masih bayang-bayang. Selimut yang lembut seperti
tubuh bidadari yang tumbuh di imajinasi para umat
rajin berdoa, di suatu rumah ibadah yang melindungi
tubuhku.
Di luar, kehidupan berada di ujung jengkal. Menunggu
mati atau hidup berpanjang lagi. Tiada kudengar suara
orang-orang biasa dan anak-anak kecil berteriak di taman.
Aku tidak mendengar mereka.
Apakah wabah yang seperti hari akhir ini kau berselimut
saja dan menonton film yang kau sukai? Dan kata-kata
alangkah liburnya ia di kepalaku, rehat dan minum dan
merebah tidur.
Ia juga memintaku untuk tidak berpuisi sementara waktu.
Sebab katanya, “Aku harus terhindar dari penyakit, agar
kata-kata ini tidak sakit dan abadi di setiap syair para
penyair yang pandai bersedih.”
Kini di rumah, aku di dalam kamar gelap. Orang-orang
bagai hidup di penjara sementara waktu. Sementara para
buruh diserang waktu kerja, tiada berlindung di rumah
seperti kau dan aku: yang perih dari bahasa dan jauh
dari perpisahan pelukan.
2020
