Puisi Ilham Wahyudi: Telisik, Kompleksitas

Oleh Hasan Aspahani

PENELISIKANNYA pada kejadian-kejadian ringan namun punya makna mendalam terbentang dari makanan sampai pada bahasa. Betapa lihai ia mengamati dengan penuh hati-hati dan menuliskannya dalam detail membuat puisi-puisinya tertata dengan baik kompleksitasnya. Semisal menuliskan pohon Sentul atau kecapi, ia seret pula kecapi yang adalah alat musik, perumpaman kehalusan daging buah yang seperti beludru, sampai pada kerimbunan tajuk dan ketinggian pohonnya.

ILHAM WAHYUDI. Lahir di Medan, Sumatera Utara, 22 November 1983. Beberapa puisinya telah terbit di media massa. Bergabung dengan D’lick Theatre Teamn di Taman Budaya Sumatera Utara dan komunitas HP (Home Poetry). Beberapa puisinya telah dimuat surat kabar dan antologi. Sedang mengupayakan terbitnya buku puisi yang berjudul “Pengrajin Kata”. Saat ini menetap di Jakarta dan Surabaya sebagai seorang fundriser.

Ilham Wahyudi
Tahu Tek

Ke Wonocolo aku kejar kau
Sungguhpun kerongkonganku
Masih saja terpikat pada sengat
Rawit setan Batavia yang aduhai
Lontong, tahu serta telur
Yang kau gunting-gunting
Tidak pernah menyangka
Akan sebegitu sukacitanya
Di antara lidah dan gigiku
Di antara liur dan seriawanku
Hingga aku kalap belaka
Tak tahu jantung hatiku
Melaung lantaran rindu

Dan betapa tak berdayanya
Taoge, kentang, mentimun, juga
Kerupuk udang itu dalam jebak
Saus kacang yang telah pula bermufakat
Atas petis serta lombok Jawa
Nan tandiknya nyaris kekal di bibir puan

Tapi aku hanyalah pelancong
Ya, hanya pelancong belaka
Tentu mudah untuk mendua
Apalagi hanya sekadar khianat
Pada sengatmu, pada tandikmu
Yang barang tentu kutemui pula
Dalam gelimang sambal penyetan ayam

Surabaya, 2019

Ilham Wahyudi
Amsal

Tamsil yang kau sodorkan
Serta-merta mengunci dalil
yang aku tawarkan.

Meski lidahmu tergolong muda yuwana
namun daging pipih merah jambu berair itu
cukup mahir menjinakkan kata.

Hingga kata yang sudah kuhunus
sekonyong-konyong lunglai
tersungkur di tubir kalimat.

Surabaya, 2019

Ilham Wahyudi
Sepatu

kita saling menaruh hati
lekuk-lengkung yang kita angkat semenjak lahir

kita saling menggenapi
corak-warna moyang kita yang bersimpang jalan

bau kita manunggal
menjejak gempuran masa—

kembang-kempis

Surabaya, 2019

Ilham Wahyudi
Pohon Sentul

Serupa gitar telentang kau dalam kitab bahasa—yang tawaduk pada lentik jari puan jelita. Berabad-abad sudah cintamu meletup-letup di tanah ini dan aku belum juga seumur kuku menghidu tubuhmu. Maka terberkatilah tebal dagingmu yang berair itu, dan lidahku semakin berair berpapasan lidahmu. (Tapi tunggu! Lidahmukah itu atau hidungmu? Atau?) Dalam pada itu sungguh kulitmu bak beludru, manisku; elok-gemulai tersapu bayu biru. Engkau luhur lantaran buah hatimu legit semata, kendati tak melulu semacam itu adanya. Engkau pun makmur subur belaka di mana suka, sampai-sampai jenjangku tak sejangkauan akan jenjangmu. Maka rahmat Tuhan atas lebat rindang gerai rambutmu, atas kukuh tegap batang tubuhmu yang tampan itu. Hingga tegaklah tiang-tiang penopang kami; jadi anggunlah rumah-rumah kami, meski bukan sebatas itu engkau kami nanti.

Surabaya, 2019

Ilham Wahyudi
Bahasa Umpama

Kacang yang kau pungut di tepi laluan itu
Bukan hanya lalai pada tungkusnya. Namun
Kepada kacang itu sendiri ia pun kelewat pikun.

Kaulah yang rajin belaka menjinjing segelas susu safi
Ke mulut mungil yang gigil: semoga hilang dahaga kerongkongan.
Walakin ia pula yang kelak menenteng tuba ke tubir gigir bibir.

Alkisah tidak kan patut berulang kau tanam pisang
Di pekarangan rumahmu. Meskipun musim berbuah
Telah abad lampau mengesampingkan bengkak hati.

Surabaya, 2019

Ilham Wahyudi
Permohonan

Jangan curi puisi dari lidahku,
Aku hanya ingin menjinakkannya.
Mohon segera lepaskan lilitan-lilitan itu,
Agar geliatnya semata sampai ke pucuk rindu.
Maka niscaya kau akan tahu curam jalan menujunya,
Sakit pedih langkah menemukannya.
Pernahkah kau berkhusyuk-khusyuk mencariku?
Namun jika kau pun tak kuasa membebaskannya apalagi
Sekadar melonggarkan belenggu yang mengimpitnya,
Cukup kasih udara segar agar tak sesak ia dalam cengkeraman
Rupa maut yang sedia merampas; mengampasinya.

Surabaya, 2019

Ilham Wahyudi
Pisang Barangan

Sungguh tak pernah ia menduga
Apalagi meminta agar lunak tubuhnya
Dibungkus kuning sisik ular. Kuning yang
Sering menjadi olok-olok orang banyak
Lantaran terbatasnya umpama mereka
Pada kuning itu sendiri. Ia juga tak pernah
Merasa lebih mulia dari kuning mata sapi
Yang ranum di piring si Litak di pagi hari.
Ia hanya tak mengira, tak menyangka
Atau mungkin barangkali tak pernah
Membayangkan jika kuningnya itu kini
Diusut-uraikan si penyair yang sebenarnya
Sedang kepayahan umpama pula. Maka ia
Buka dirinya seluas luasnya luas. Supaya
Terang seluruh rahasia tubuh lunak harum
Semerbak yang kian matang melawan gunjing
Cokelat dan hitam ungu pencibir buta.

Jakarta, 2018

Ilham Wahyudi
Kaliko

Tentu saja kau ingin segera
Menyelamatkannya dari
Buas murka bapaknya
Yang masih juga bernama kaliko
Sebab kau hafal betul
Usianya tak pernah jenjang
Dan si betina, si induk manja itu
Melulu bungkam, acuh padanya
Sedangkan si kolektor lokal
Yang hampir tiga bulan ini
Gigih bertanya, kapankah
Bunting betina itu meletus?
Masih rajin menagih kesabaranmu
Sampai defisit, sampai kering tak berdaging
Tapi mengambau bukanlah adat leluhurmu
Apalagi sumarah persilakan takdir
Karena maneki neko adalah
Keberuntunganmu, kejayaanmu
Maka pada suatu malam syahdu
Yang bertabur wewangian jejaka
Mengeonglah si kembang telon
Si jantung hatimu itu, yang bulat
Matanya, yang lemah gerakannya
Yang membuatmu semata hampir
Hampir-hampir menangis bombai
Namun apakah menangis, ‘kan
Selamatkan kaliko dari belang tiga?

Surabaya, 2019

Image by Gerd Altmann from Pixabay

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *