Puisi Hoerudin: Mitos, Faktual

Oleh Hasan Aspahani

IA menempelkan aneka hal faktual, mitos, legenda, pada benda-benda di sekitarnya untuk bisa meningkatkan respon pembaca pada benda-benda yang ia angkat dalam puisi-puisinya. Kelihaian memilih diksi dan menyematkan jatuhnya rima pada tiap larik dalam puisinya membuat puisi-puisinya terasa nikmat. Ada hunjaman-hunjaman kecil yang dibentuknya dari diksi yang menyiratkan hal-hal ironis dan tragis, semisal kata “susuk” untuk menggambarkan langgengnya sebuah kekuasaan.

Hoerudin, lahir tanggal 22 Maret 1987. Memperoleh beasiswa hingga SI di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Azhary Cianjur. Kini beraktivitas di Kota Sukabumi.

Hoerudin
Bioliminesensi

                                         : Kepada kunang-kunang jantan 

Kedip cahaya
akan memandu Anda.
Inilah isyarat,
atau upah untuk nektar bunga
yang Anda bawa.
Anda lebur dalam asmara.
Sepanjang hujan,
sepanjang gelombang
getar 528 hertz.

Berbondong-bondong
jenazah bertolak
ke ceruk tanah. Sinar dingin
di tubuh Anda
adalah cahaya pelangi
kunang-kunang kebun.

Oksigen di sel Anda
menggenapkan
spektrum kemiskinan.
Berguguran kuku-kuku hantu.
Anda tak akan terbakar.
Selain nasib Anda, lelaki,
protein bagi sel puisi.

Getar jarum jam ninabobo
larva-larva sunyi.
Mati eksklusif sudah tidak musim.

2020

Hoerudin
Kepada Rahib Muda

Doa seharum roti
sepasang telapak tangan rapuh
bagi punggung-punggung gipsi.

Bagaimana menjemur jubah
yang basah oleh guguran hujan?
Matahari belum berkabar.
Matamu sepuh daun anggur.
Selain mencintai, kau tak berharap
perjamuan apa pun.

Sisa hujan
menggenang di bawah gerbang biara.
Sebagai petapa, ingin kau catat
nyeri melekat di pundak dan hati para gipsi.

Selain doa,
juga ilmu menghindar dari bala.
Mirip pengetahuan
para gipsi
yang menyentuh
mawar sekuntum jantungmu.
Iman tak hendak kau umbar.
Berharap selalu ada
sepotong roti untuk para gipsi.

2020

Hoerudin
Nujum

Di sudut deviasi,
saya Galileo Galilei
dipingit hingga tiba
akhir hidup.
Cermin datar
ponsel saya
menunjukkan bayangan
sebuah kota:
Di Cianjur,
bayi berusia tujuh hari
jadi pasien
dalam pengawasan.
Di Banyumas,
jenazah positif
virus korona
ditolak warga.

Apakah waktu
bisa dimanipulasi
seperti ular
memanipulasi
dosa pertama.
Di tengah wabah,
saya Galileo Galilei,
menjelaskan prosedur
penggunaan teleskop
di YouTube,
menujum
bintang-bintang.
Meneropong
doa-doa
manusia seluruh dunia.

2020

Hoerudin
Indeks Bias

 : Buat transpuan yang dibakar 

Sambang darah
selepas matahari terkubur
menguapkan wabah.
Dan wajah saya hangus.
Dan rambut saya habis
secepat
gelombang elektromagnetik.

Frekuensi perjumpaan saya
dengan kangmas
layak disebut nisbah kudus.
Menjauh dari garis galib,
sakit jadi lebih kerap menyentuh.
Cahaya melambat.

Telah saya sambut itu api.
Sulur-sulur matahari menjulur,
berbelok menuju derita
gang kumuh yang rapat
oleh khianat.

Telah saya sambut itu api.
Bagai Sinta!

2020

Hoerudin
Khaan Rayhan

     : Sebelum ziarah ke pusara ayah 

Badan kita
sarang kawanan kuman.
Kita rawat sebiji zarah
perasaan letih.
Kita umang di atas bulir pasir.
Ayah hanyut di rimbun ombak.

Musim sedih begini,
berapa jejak sajak tertatah telah?
Kita petik bunga rumput
selagi perahu bersandar di pantai.

Dunia sudah tua bangka.
Basah helai rambut kita
jaring nelayan papa.

Khalwat kita
embus napas kupu-kupu biru
di bibir samudra.

2020

Hoerudin
Teluh

Di dermaga sayangku,
perahu membawa nelayan tua
hilang nyawa.
Rambut bau laut.
Maut pelan diraut.

Gubuk-gubuk buruk
bagai tenda-tenda
pengungsi
yang dikutuk.
Laut menenung
nelayan sayangku,
aku catat
helai daun bidara
yang larut
dipagut lelembut.

Tenung angin
tak lain runcing jarum,
pecahan beling,
harum sakit hati menahun.
Di ini kota, aku lestari
sebagai pengungsi.

Aku catat bulan mekar.
Angin lewat. Camar hinggap.
Aku catat sayangku,
dermaga menyimpan jiwa
nelayan tua.

Tinta puisiku
darah ikan-ikan tongkol
di tongkang-tongkang.

2020

Hoerudin
Susuk

Lampu bohlam
menyisik
sisa susuk
di lembar kalender.
Wabah ini mimpi buruk.
Di dahan nangka,
seekor gagak hinggap.

Kereta api
dalam mimpi kita
akan melaju lagi.
Pada awal afair ini,
bukankah interferensi
terang-gelap
kita anggap
pita-pita pelangi
saat tiba lelap.

Hatimu menelusuk
selaput jala mataku.
Kabut berangkat
ke lain tempat.

Lampu bohlam
berpendar.
Difraksi cahaya
pukul tiga pagi
menyebar
ke ruang isolasi.

Seekor gagak
di dahan nangka
melengkingkan
kidung kematian.
Wabah bakal pergi.
Gelombang ingatan
mengapung riang
di atas kepalaku.

Afair ini:
sinar monokromatis
membentur
celah sempit di jidat.

Sisa susuk orde ke-2
membekas luka.

2020

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *