SEHARUSNYA kami memuat seluruh puisi yang dikirim Berto Tukan. Semuanya kami suka dan banyak hal bisa dibicarakan dari karyanya. Kami melihat perkembangan baru, sebuah kemajuan dari puisi di buku pertamanya. Ia semakin jeli mengamati detail hidup kota besar menangkap kontradiksi masa lalu – masa depan, kampung halaman – ibukota, dalam sinisme yang terasa makin diperlukan dan makin bermakna. Ia menyatukan diri dengan persoalan yang tak bisa dielakkan tapi dia tetap menjadi dirinya sendiri. Anggap saja apa yang tersaji di Mata Puisi ini hidangan pembangkit selera sebelum kita menikmati buku puisi keduanya.
Berto Tukan lahir, pada 1985, di Larantuka, Flores Timur. Ia menetap di Jakarta sejak 2003. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Buku kumpulan cerpennya bertajuk Seikat Kisah Tentang Yang Bohong (Alpha Centaury, 2016), masuk Nominasi Lima Besar, Kusala Sastra Khatulistiwa 2017, Kategori Karya Perdana atau Kedua. Sudah Lama Tidak Bercinta Ketika Bercinta Tidak Lama (EA Books, 2018) adalah kumpulan puisi tunggalnya. Ia kini aktif di ruangrupa dan Gudskul Ekosistem, Jakarta.
Berto Tukan
Kemacetan Puisi pada Lalu Lintas Nyeri Ki’i
Banyak yang terbuang pada pagi tak berangin
Mimpi yang mengendap pada lipatan selimut
Tak mau ikut serta mengarungi hari siang
Ia pun terlupakan, abu rokok di asbak
Orangorang, aku juga, mencoba menulis puisi
Seolaholah dunia akan lebih indah karenanya
Namun dunia melupakan puisi
Tak punya taji juga bahkan si puisi
Seumpama hembusan angin sepoisepoi
Menabrak kaca lantai tiga
Dari gedung berlantai 12
Jatuh kehilangan tulang
Terhampar dan lesap poripori tanah
Pada pagi yang kesekian
Ingin kukirimkan kabar
Tapi masih juga kuurungkan
Kopi masih separuh gelas tersisa
Tisutisu berhamburan penuh ingus
lendir
sampah
laknat
Pada pagi yang kesekian
Banyak kabar berdatangan
Tapi bukan yang kuingini
ketakutanketakutan
menghambur
mengganggu
Kenapa android suka mengoreksi
Katakata kita?
Koreksi – apresiasi
Jauh banget
Implementasi – implementasi
Apa lagi?
Berto Tukan
Pengingat yang Datang pada Diri Nelangsa
Selamat pagi, Berto
Sedia payung
Sebelum hujan
Hari ini jakarta basah
Entah hujan jatuh
Atau pun tidak
Seseorang berwajah biru
mengingatkanmu hari ini
Suarasuara kota berdesingan
Sisasisa mimpi menghilang
Engkau bangun seperti Mina
Dan wajah seseorang
Semakin jelas
Seumpama
Mina semakin mengenang Motoko
Lalu kau membatin
Akankah ada Nikola-nikolanya
A Perfect Day
Lima atau sepuluh tahun nanti
Mesinmesin kau peluk erat
Tetap saja mereka
Humanisme
Diteriaki terusmenerus
Kau membenci
Terkadang terharu
Lebih sering membenci
Air mengisi bak mandimu
Tapi kau
Seperti pagipagi kemarin
Malas mandi
Kau belum punya payung
Tak berniat beli payung
Bukan karena miskin
Lupa saja
Kegetiran ditimbun
Citra diri
Sebagaimana iklan
Pelembab citra
Kau tonton di televisi
Berpuluh tahun silam
Di beranda rumah tetangga
Pagi ini kau bangun
Puisipuisi perihal tak ada
“Kenapa Ada daripada Tak Ada?”
Ada yang tertawa di ujung sejarah
Betapa gampang menulis puisi
Bayangkanlah bahagia
Atau terlihat bahagia
Berto Tukan
Ia Memandang ke luar Pintu
Mendengarkan Gosip dan
Tertawa di dalam Hati
Mata kiri memerah digebuk waktu
Dari lubang pintu diintipnya hari kemarin
Bunyi air dari kran menyapu lantai
Kamar mandi
Dua ekor kecoak menghinggapi gayung
Celana dalam milik tetangga tampak jelas
Warnanya biru, abuabu, dan krem
Dibeli di indomaret tentu saja
Gantungan tali plastik yang sudah kehilangan
Sebagian warnanya
Lanjut usia memang kehidupan ini
Pemilik warung kerap dipanggil uni
Perempuan paruh baya asal Payakumbuh
Menggosipkan laki tetangga
Kerap menggoda anak gadis
Tetangga lainnya
Jakarta pagi menjelang siang
Bau ikan di penggorengan
Sedangkan punyanya warna merah
Punya tetangga warna hijau
Lampu pengukur daya listrik
Tak apa
Kuota internet pun sudah menipis
Tak apa
Asalkan tak lapar
Tak apa
Bendera plastik merah putih
Ia tahu itu bendera merah putih
Sudah ada sejak 17 Agustus
Tahun lalu
Kini putih semuanya
Tercabikcabik
Tinggal sepersepuluhnya mungkin
Bak mandinya belum lagi penuh
Masih bisa sebatang rokok
Yang berikutnya
Berto Tukan
Ketika selesai
Pada Antrean
Kesekian Meski
pun Hanya Sendiri
Lampu jalan siasia
Siang nan murung
Mengeja tanda
Badai tongkat
Enambelas centimeter
Pada tandatanda tak bernyawa
Kekelaman kekal cahaya
Paspor! Kamu, pasword!! Ayo! Ayo
bergerak!!
Ketika selesai
Ada lagu terpapar
Tak berdaya di depannya
Siap meloncat
Merah merasuki kolam
Motifmotif kesengajaan
Pada jumat nan renggang
Nomornomor pada kopi
Mengirimkan pesan
Jangan tanya mata
Channel musik
Ada badai
Tongkat enambelas centimeter
Warnawarna dirusak sinyalsinyal
Di tengah badai mengguncang
Ia melangkah tertatihtatih
Pegangannya hilang teramuk angin
Berto Tukan
Pengingat yang Datang pada Diri Nelangsa
Selamat pagi, Berto
Sedia payung
Sebelum hujan
Hari ini jakarta basah
Entah hujan jatuh
Atau pun tidak
Seseorang berwajah biru
mengingatkanmu hari ini
Suarasuara kota berdesingan
Sisasisa mimpi menghilang
Engkau bangun seperti Mina
Dan wajah seseorang
Semakin jelas
Seumpama
Mina semakin mengenang Motoko
Lalu kau membatin
Akankah ada Nikola-nikolanya
A Perfect Day
Lima atau sepuluh tahun nanti
Mesinmesin kau peluk erat
Tetap saja mereka
Humanisme
Diteriaki terusmenerus
Kau membenci
Terkadang terharu
Lebih sering membenci
Air mengisi bak mandimu
Tapi kau
Seperti pagipagi kemarin
Malas mandi
Kau belum punya payung
Tak berniat beli payung
Bukan karena miskin
Lupa saja
Kegetiran ditimbun
Citra diri
Sebagaimana iklan
Pelembab citra
Kau tonton di televisi
Berpuluh tahun silam
Di beranda rumah tetangga
Pagi ini kau bangun
Puisipuisi perihal tak ada
“Kenapa Ada daripada Tak Ada?”
Ada yang tertawa di ujung sejarah
Betapa gampang menulis puisi
Bayangkanlah bahagia
Atau terlihat bahagia
Berto Tukan
Ia Memandang ke luar Pintu
Mendengarkan Gosip dan
Tertawa di dalam Hati
Mata kiri memerah digebuk waktu
Dari lubang pintu diintipnya hari kemarin
Bunyi air dari kran menyapu lantai
Kamar mandi
Dua ekor kecoak menghinggapi gayung
Celana dalam milik tetangga tampak jelas
Warnanya biru, abuabu, dan krem
Dibeli di indomaret tentu saja
Gantungan tali plastik yang sudah kehilangan
Sebagian warnanya
Lanjut usia memang kehidupan ini
Pemilik warung kerap dipanggil uni
Perempuan paruh baya asal Payakumbuh
Menggosipkan laki tetangga
Kerap menggoda anak gadis
Tetangga lainnya
Jakarta pagi menjelang siang
Bau ikan di penggorengan
Sedangkan punyanya warna merah
Punya tetangga warna hijau
Lampu pengukur daya listrik
Tak apa
Kuota internet pun sudah menipis
Tak apa
Asalkan tak lapar
Tak apa
Bendera plastik merah putih
Ia tahu itu bendera merah putih
Sudah ada sejak 17 Agustus
Tahun lalu
Kini putih semuanya
Tercabikcabik
Tinggal sepersepuluhnya mungkin
Bak mandinya belum lagi penuh
Masih bisa sebatang rokok
Yang berikutnya
Berto Tukan
Ketika selesai
Pada Antrean
Kesekian Meski
pun Hanya Sendiri
Lampu jalan siasia
Siang nan murung
Mengeja tanda
Badai tongkat
Enambelas centimeter
Pada tandatanda tak bernyawa
Kekelaman kekal cahaya
Paspor! Kamu, pasword!! Ayo! Ayo
bergerak!!
Ketika selesai
Ada lagu terpapar
Tak berdaya di depannya
Siap meloncat
Merah merasuki kolam
Motifmotif kesengajaan
Pada jumat nan renggang
Nomornomor pada kopi
Mengirimkan pesan
Jangan tanya mata
Channel musik
Ada badai
Tongkat enambelas centimeter
Warnawarna dirusak sinyalsinyal
Di tengah badai mengguncang
Ia melangkah tertatihtatih
Pegangannya hilang teramuk angin
Berto Tukan
Aku Mengenangmu
dengan Pening yang
Butuh Panadol
Perihperih kecil kerentaan
Kerentaan hidup virusvirus
Bersama mata terkantukkantuk
Lelah pada helaan ini
Aku ingin mengajakmu
Malam merayu untuk meliris
Kita ikut selera tua
Berharap kolaborasi
Suatu saat
Berbeda
Itu dan itu
Barangkali malam larut
Bus transjakarta duapuluh empat jam
Dan beberapa langkah kecil
