Oleh Hasan Aspahani
TERHADAP sajak-sajak Ujang Saefudin berikut ini saya merasa tak perlu lagi memberi pengantar. Sajak-sajaknya sudah menjadi. Sudah dengan kuat bicara sendiri. Ia sudah dengan tekun dan cermat mengurusi sentimen-sentimen kecil dalam dirinya menghidupkan dan dihidupkan oleh kata-kata yang ia pilih dalam puisi. Seorang lagi juru bicara Cianjur hadir. Ujang Saefudin kita harapkan lebih banyak menyuarakan suara hati Cianjur, orang-orangnya, alamnya, dinamika kehidupannya, lewat mata seorang penyair yang hadir, besar dan hidup di dalam dirinya.
Ujang Saepudin, Lahir di Cianjur 05 Juni 1996. Sekarang tinggal di Cipanas, Kp. Rarahan RT. 04/RW 08 Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Suryakancana Cianjur. Beberapa puisi dimuat di harian Pikiran Rakyat, Harian Waktu, antologi bersama HPI Riau 2018, Kunanti di Kampar Kiri, Antologi Puisi Pestival Seni Multatuli Lebak Banten 2018. Antologi bersama Festival Sastra Internasional Gunung Bintan. Aktif di Ruang Sastra Cianjur (RSC). Email: ujangs085@gmail.com.[]
Hanya Hiburan Sederhana
hanya hiburan sederhana
senyuman di terang kursi
mata lelaki menuju ramai
dan wanita di antara sepi
hanya mampu memandang bulan
sambil menikmati kisah
yang mengepulkan gelisah
kata-kata bukan untuk mengubah perasaan saja
hanya waktu malam tinggal seperempat
lelaki perlu mengekalkan jejak dari sibuk
sebab yang dekat di luar pandangan
perlu kehadiran sebagai penangkal rindu
hanya hiburan sederhana itulah,
suara semakin nyaring
batin semakin kering
tapi mata semakin tajam
mengingat wajah yang hangat
dan mungkin takkan berkarat
walau jalan sampai akhirat
Cianjur, 2018
Alih Profesi
Akhirnya aku memutuskan
mengganti pakaianku yang sudah kelelahan.
Sebab tak menjamin identitas dan kemewahan nurani,
Sebagai banting tulang yang seharusnya
menyelamatkanmu dari arus kehidupan.
Mimpi memang mudah diterjemahkan
Tapi begitu sulit dipahami dan cermin dirimu sendiri
aku akan beralih profesi
Menjalani musim paling nyeri.
Cianjur, 2019
Sosok Yang Diam
Kita begitu dekat seperti jalan dan kerikil
cahaya tak ubahnya mengoyak getir tandus
tak ada tanya, selain keringat dan haus
membawa kabar pungkas ikhtiar
Musim ke musim seperti akan mati
menarik kaki langit dari punggung pagi
sampai malam kembali menahan
nafas setengah bau
mendengus penawar rindu
Kembang layu di pot menatapku
sesaat padi menguning
menjulai serupa katumbiri di senja hari
hilang tanpa isyarat lain yang disebut sepadan:
hujan berganti panas,
siang berganti malam
mati tumbuh lagi.
2018
Di Rumah Kawanku
Ini rumah sempit
Lepas di bawah bukit
Pohon ke pohon menghimpit
kita bertiga diam saja
aku, temanku dan ayahnya
sudah lama kita tak bertemu
temanku meminta saja
pada jiwa senja
tinggal setengah tenaga
tapi tak ada kecewa
merawat cinta padanya
aku berpaling dengan nada
menawarkan peran pada rangka
memberi pesan
pada rumah yang ramah menyapa
titah jadi iba
aku tak suka menyangka
dan kau diam saja
2018
Yang Datang Yang Menang
Hang, siapa yang datang dari sejarah panjang
Mengundang cinta merebahkan peluk
Diri berkecamuk, amarah menyala
Dan ia mengibarkan selendang mawarnya
Aku dan masa depan tua
Mengayuh perahu hidup sampai salat
Jiwa karam di tengah selat
Langkah menolak lambat
Mereka dengan pedang dan perang
Menjadi lebih pandir
Menutup ketidak-sejalanan ini
Dan aku hawatir sekaligus getir
Pada baju, kata-kata dan rindu yang koyak
Berulangkali dibenturkan pandangan
Sekali aku bercerita pada Malaka
Tak dapat menampung keringat
Pasrah diangkat cuaca jadi air mata
Pijakan-pijakan pecah
Langkah tak tentu arah
Mungkin kau tahu Hang, mengapa diri gamang
Rupanya yang datang seorang penggali
Dengan cangkul, tali, dan belati
Yang datang yang menang
Selendang mawar semakin berkibar
Pedang menebas tubuh dan ingatan
Padung tertancap tepat di atas nama
Kini ombak dan laut di tepi sana
Mungkin tak lagi membaca nama
Hanya tanah yang setia
Menjadikan hidup semakin ada
Dan tak pernah berdusta
2019
Dimuat di Lahir Sajak, September 2019.
