Puisi Ervin Kumbang: Bergerak di Keliaran Batas Ruang dan Waktu

Oleh Dedy Tri Riyadi

KELIHAIANNYA menarik-ulur peristiwa di luar puisi, membuat puisi-puisi yang ditulisnya seperti museum yang merangkumnya sekaligus memberikan pemahaman yang komprehensif kepada pembacanya. Bergerak di keliaran batas ruang dan waktu, puisi-puisi Ervin Kumbang menarik-menari pemikiran dan perasaan kita sebelum dilesapkan pada larik-larik akhirnya.

Ervin Kumbang lahir di sebuah kota di Provinsi Jambi pada 1984. Pernah menempuh pendidikan ilmu komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Tinggal di Jakarta sejak 2002 dan saat ini bekerja sebagai wartawan di sebuah media online.

Ervin Kumbang
Milenia Melayu

Padang Ilalang gelombang rembang,
tertusuk tapak di duri rumput
Ternampak rentap negeri seberang,
angin bertiup di hindu laut

Sudahlah ingin berpindah kota,
dari Batavia ke Kudungga
bersepakat tuan pendiri bangsa
bukan syariat urat negara

Hinggalah abad yang bersicepat
telepon genggam sampaikan salam
Pancasila melepas sumbat
kasih Papua mutu manikam

Di mana Melayu, China, India
di sini candi, beta, dan ulama
Di mana benci berawal mula
konon di batas puak bahasa

Ambilkan air padang kemarau
sungai kecil meriak lugu
Sebanyak tiran sebanyak derau
kuncup senapan di mata buku

Megah istana di Kuala Lumpur
hijau tamannya di terang siang
British Belanda siapa gugur
rasa saudara di regang pedang

Cukuplah sampan kami apungkan
Tanjung Balai sampai ke Klang
Cukuplah rindu kami terbangkan
mata puan ikat gemilang

Mesin berpacu di sirkuit
gurindam didesau bising desingnya
Lafazkan modern lidah sembelit
pantun ngigau di listrik kota

Nusantara negara dulu
jerat bahasa irama lama
Syairku ini melepas bulu
Amerika makzul ketiga

Pergi ke pasar berniaga,
rahib belanja untuk biara
Pesta kita tanah terbuka
tempat bersua semua agama

2020

Ervin Kumbang
Warna

Tak pernah setenang ini, jalan kereta betapa santai, seorang
gadis berwajah pucat dengan hoodie GAP biru muda tak menoleh
kepadaku, pada suatu malam

ketika aku berusaha tak peduli, dan menyelinap di timeline Twitter
ketika sebuah akun saluran berita
mengabarkan video tentang
Orang Pakistan yang menahan diri, mencari makan di tanah Indian:

Di masa lalu mereka memintaku menurunkan suara radio,
katanya pada sebuah video tentang sekelompok lelaki kulit putih yang menumpang taksinya dengan gurauan tentang Yahudi, bom Bin Laden, dan
batas paling purba dalam
perasaan tidak aman

kekerasan ternyata
berasal dari perasaan tak aman
pecah di Delhi

dan tanah jiran, perselisihan Madey dan Annua
tak pernah
setenang ini.

Tak pernah seterhubung ini,
sabda Patti Smith
dan yang teringat adalah kawan masa remaja
yang tak percaya bahwa korupsi bisa dilawan

dan Wuhan bisa sampai ke Tokyo
dan mengapa pembicaraan bisa cair
di sebuah meja di Makati bersama dua Filipino
bersama seorang muda yang negro

setelah beberapa hari lalu
seorang lelaki Belanda berbasa-basi tentang
gairah pantai Indies
dan tekanan darah untuk ucapannya
tentang nyai di Bali
Cristina, lahir di Leyte,
merasakan didih darahnya dalam darahku

dan seorang lelaki Swedia,
menahan liur
di hadapan babi goreng
terguncang pula
berpihak kepadaku
pernahkah zaman tak diguratkan?
ingin aku mengajak
para pejuang benua dan pulaupulau
bertanya ke sebuah toko cat tua di Jalan Pegangsaan
tentang cat warna bening yang katanya
tak terbayangkan harganya

2020

Ervin Kumbang
Ketika Menunggu Virus Pergi

mesti kusebutkan karena sulit
untuk menghindari konteks:

virus

di kota, jalan lengang tak biasa
Tiada hutan kecil tempat berjalan-jalan singkat
Mendengar angin, burung, dan barangkali
sungai kecil yang ngalirnya adalah ketidakpahaman
betapa 7,5 miliar kegelisahan
menggetarkan tatapan ke arah langit
di atas bumi hari-hari ini

Kali ini, kebijaksanaan tak ada harganya
untuk satu-satunya pilihan adalah tunduk di bawah dikte
ancaman ilmu pengetahuan
yang tak bisa didendamkan

Hidup di kota
harapan menembus tembok
menunggu adalah simpuh terakhir
tanpa bisa memandang jauh
kaki angkasa tak ada, taman tak ada

resah mengeras
ditempa kerasnya
penantian dalam diam

lekaslah lenyap musim kematian
lenyap
sisakan kami rencana-rencana
untuk diperjuangkan

2020

Ervin Kumbang
Menuju Generasiku

Konon, jalan berdebu di Vietnam, berdebu di kamar kosku
dan setiap hari kususuri bayang-bayang negeri lain
pada jalan impian paling termudah ditemukan
pada situs-situs berbahasa Inggris tak berbayar

Juga situs-situs Bahasa Melayu yang tak berbayar,

Debu, masih di sana.

Di tempat sempit ini,
aku ingin tumbuh sebagai sebatang beringin,
karena orang-orang semasa kanak dulu–
sebagian kini telah beranak pula
semua ingin seperti beringin
bahkan setelah lima belas tahun sejak Facebook

Sampai pada lagu ketujuh sebuah album nyanyian atmosfer
yang berputar di atas
mesin pemutar vinyl fantasi
benteng dalam kepala miskinku
sekali lagi memperlihatkan orang-orang
yang merasa tak perlu membuka kamus
demi mulai membaca drama Romeo & Julia
karena kematian di atas tanah melayu
dibangun dari cemooh jalan sinetron

Dan nasib pujangga terkini benua pulau-pulau,
tak mampu dingin dari cibiran ketenaran bintang televisi

Sebab mereka tak percaya bahwa bujur lintang
dijalin dari perjalanan rutin menciumi
bau sesak libido pagi serta semacam anyir
pada perjalanan pulang waktu senja di dalam
kereta komuter

Semua bebauan yang terbawa ke dalam kamarku,
Mereka hanya tak tahu cara menyulingnya
Bersama percik lumpur di atas beton trotoar
pada tapak sepatu pulang malam

Mereka tak percaya bahwa
pada dasarnya seluruh bayi baru lahir
adalah para pembesar

Mereka tak mendengar,
Para pencangkul yang membuat irama
di atas benturan gersang di timur sana
menanam gempa di belah bumi
dari keringat yang riang dan bernyali
tak tergesa memetik guncang
gemeretak yang membutirkan
kaca gedung-gedung
di sepanjang jalan menuju Istana
mengimbau angin Teluk mendesir pancaroba
menyiratkan kegemilangan
masa
ketika penyakit paru-paru masih menyertai suara penyanyi
radio negara, serta

adegan ayam jago di pasar pagi
yang telah sampai di Venesia
Berputih mata di bawah tanah
di bawah ranjang bawah tidurku.

2020

Ervin Kumbang
Yang Tak Nampak

                                         Covid-19

Kami di khatulistiwa
hanya mendengar saja
ketika tiba masa
dilaranglah peziarah
mendekati Kabah

Sementara aku bertanya
konon, seberapa perlunya
derai hujan seperti koor
di atas asbes sepelemparan batu
dari kamarku.

tak jua berhenti, jam demi jam
pun sore yang mendung telah lewat
membawa ke senja muram.
Ini masa menjauh
dari ramai
sebelum memecah ke dalam
hidup yang bising sepanjang hayat
mendesah
dalam mimpi yang sekali buruk
sekali senang.

Pada waktunya,
planet tumbuh arogan
melampaui arogansi
pemilik mulut pemicu mesiu

Satu-dua mati
Tujuh puluh lebih mati lagi
dan si pembunuh berlenggang
di jalan lapang
lupa sementara yang tak nampak
mendelik mengancam

Sembilan puluh hari
berbanding enam ratus ribu
lenyap tiga puluh ribu
hanya dalam musim semi
Nyanyian perut
gairah jauh sebulat bumi
katanya mesti bersabar lagi
dalam biasa ketidakpastian
impian besar liar digenggam

Orang bilang teknologi
menciutkan jarak
secepat saham berpindah
sejentik jari
dari bursa ke bursa

Jenius ‘ngangkang di puncak Olympus
membawa era tiada berbatas
sampai pada suatu ketika
bukan binatang, bukan manusia
memukul mundur para ilmuwan
bertunduk-suntuk berbulan-bulan
sementara mayat-mayat tak berhenti
dalam panorama aneh
negara dunia pertama.
Bagiku, ini hanyalah jalan sulit sehari-hari
terbunuh lagi sebelum naik kembali
sudah bakatku hendak legenda
seakan puan tujuan belaka.

2020

Ervin Kumbang
Anak Lelaki

Mukjizat adalah janin seorang bocah
yang hampir digugurkan oleh ibunya
dan kini Instagram mengatakan
pengikutnya lebih dari 200 juta

anak lelaki
yang sedikit dari yang banyak
atau barangkali yang banyak dari yang banyak
sibuk menghabiskan masa remaja

menyepi ke tepi sungai, melemparkan kerikil
ke dalam air, hanya untuk mendengar suara “pluk”
dan menonton yang tenggelam lenyap menuju
dasar

mengapa ia dilahirkan
jika tak punya tempat untuk Pergi. Berdiam. Berkumpul.
apatah mencicipi seks pertama

pun

ada juga kudengar di luar sana
seorang anak lelaki yang lahir di masa
Perang Dunia Kedua
tumbuh dalam jeratan ayahnya
lalu melawan membebaskan diri
pergi meninggalkan rumah
dan dendamnya menyusut
seperti pasir surut di lingkar kaki
ketika ombak mencapai pantai
para legenda, duhai Anak
selalu menjemput ayahnya

batu dalam hatinya
lebur jadi bubuk
menua sebagai pohon
meninggi menggauli angin
mengakar di rendah tanah

2020

Image by Thomas G. from Pixabay

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *