Oleh Hasan Aspahani
KARYA sastra besar bisa lahir dari penyesalan, dari keinginan untuk memperbaiki diri dari laku ceroboh dan lancung.
Kita ingat Walmiki.
Dengan niat hendak menyucikan diri Walmiki pergi ke sungai Tamasa. Ada sepasang bangau bercengkerama. Tiba-tiba melesat panah membunuh bangau betina. Walmiki melihat seorang pemburu. Ia sedih dan marah. Ia mengutuk, “kau telah membunuh burung yang sedang menikmati madu asmara, maka kau tidak akan memiliki rumah dan mengembara sepanjang waktu”.
Kutukan itu menjadi seloka pertama.
Walmiki terpuaskan dengan kutuknya itu? Tidak. Ia menyesal. Ia memarahi dirinya sendiri. Ia mengumpati keteledorannya dalam ratapan yang seakan tak habis-habis. Walmiki heran dengan kalimatnya sendiri. Sebegitu panjang dan terstruktur rapi. Ia lalu diam, ia bermeditasi. Lalu muncullah Dewa Brahma dengan sabda bahwa itulah awal dari epos Ramayana. Walmiki dianugerahi kemampuan melihat segala peristiwa yang terjadi, dan membaca watak setiap karakter. Walmiki pun mulai menggubahnya. Menyanyikan cerita dalam rangkaian seloka-seloka bersama dengan pengikutnya.
Kisah Ramayana itu sendiri sebagaimana dikisahkan adalah sosok yang diceritakan oleh Narada kepada Walmiki ketika ia bertanya siapakah pahlawan yang memliki kebajikan dan kebijaksanaan terbesar? Ia terpesona pada cerita Narada. Tapi Walmiki tak berpikir untuk menuliskannya sampai kejadian terbunuhnya bangau betina itu.
Begitulah kisah itu diyakini. Mungkin itu mitos. Tapi kita bisa mengambil hikmahnya: seorang penulis perlu memiliki simpati pada mahluk lain, pada kehidupan. Ketimbang mengutuk seorang yang salah lebih baik menulis agar banyak orang bisa belajar kebenaran dari apa yang kita tulis.
Dengan itu, nilai-nilai baik terabadikan. Seperti janji dan pujian Dewa Brahma pada Walmiki. “Selama gunung-gunung berdiri dan sungai masih mengalir, maka kisah Ramayana tak akan sirna”.
Dimuat di Mata Puisi No. 3 / Juli 2020.
