Puisi Prawira Tama: Kekuatan Jukstaposisi dalam Diksi Sehari-hari

Oleh Dedy Tri Riyadi

Diksi-diksi yang digunakan dalam bangunan puisi Prawira Tama sederhana dan berasal dari keseharian. Dan itu kekuatan puisi puisinya, di samping lihainya ia memainkan metafora dan juktaposisi yang ada di dalam setiap puisinya.

Prawira Tama, lahir di Lumajang, 29 Oktober 1992. Sarjana alumni FTI ITS Surabaya, kini bekerja sebagai karyawan swasta. Selalu tertarik menulis puisi dan cerpen karena da yakin menulis selalu diawali dengan berpikir dan diiringi dengan membaca, suatu hal yang sangat penting bagi proses pembelajaran hidup manusia.

Puisi Prawira Tama: Kekuatan Jukstapoisi dalam Diksi Sehari-hari

Diksi-diksi yang digunakan dalam bangunan puisi Prawira Tama sederhana dan berasal dari keseharian. Dan itu kekuatan puisi puisinya, di samping lihainya ia memainkan metafora dan juktaposisi yang ada di dalam setiap puisinya.

Prawira Tama, lahir di Lumajang, 29 Oktober 1992. Sarjana alumni FTI ITS Surabaya, kini bekerja sebagai karyawan swasta. Selalu tertarik menulis puisi dan cerpen karena da yakin menulis selalu diawali dengan berpikir dan diiringi dengan membaca, suatu hal yang sangat penting bagi proses pembelajaran hidup manusia.

Prawira Tama
Romantika Awal Pekan

selamat pagi, Seninku.
bagaimana kabarmu?

kita ada janji kencan hari ini,
teringat saat kubuka mata pagi-pagi sekali.
kubasuh muka, memasang senyum menghias diri,
lalu kukenakan kemeja hadiah darimu bulan ini.

matahari seperti biasa terpampang
menyoroti tubuh-tubuh gedung eksotis dan jenjang.
langkahku jatuh mencumbui bibir-bibir jalan
diiringi musik romantis yang selalu sama di jalanan.

Seninku,
kita ada janji kencan hari ini delapan jam saja,
atau mungkin lebih dari biasanya,
atau kutinggalkan saja jam tanganku di rumah agar mesra lebih lama

Prawira Tama
Edaran Surat Elektronika Berjudul: Tunjangan

siang ini aku duduk di hadapan meja
dengan lembarlembar rencana
yang termangu dalam isyarat waktu

layar komputer masih terang
menyala di mataku
membunyikan pesan masuk

barangkali hidup adalah ketidakpastian yang pasti
dan menunggu merupakan cara bersepakat dengan waktu

tubuhku mengalihkan pandangan ke luar jendela
hujan turun menderas
mengantarkan hadiah langit yang sempat tertunda
sudah saatnya kemarau mereda

Prawira Tama
Tentang Seorang Lelaki Muda

Di balik mesin butut
seorang lelaki muda meringkuk mengencangkan sekrup,
bekerja memanggul pilu
menggantikan bapaknya yang mati tujuh tahun lalu.

Personalia sangat baik hati,
mengajari disiplin setiap hari,
tanggung jawab dalam pekerjaan,
sabar dengan harapan.

Tubuhnya menolak sakit,
menolak izin cuti,
ia tak kenal datang terlambat
apalagi pulang cepat

Setiap hari ia mengepul kata-kata kerja
buruh, mesin, lembur, pabrik, upah
lalu padaku ia menyerahkannya.

“Ada cerita apa hari ini?”
“Ibuku mati, Le.”

Di rumahnya kini ada tiga kehidupan.
seorang lelaki muda dengan si bungsu
serta harapan yang harus diberi makan
dengan gaji bapaknya tujuh tahun lalu.

Prawira Tama
Alamat Kantor Tuhan

ada banyak tamu di kantorMu
matahari bertugas sif jaga, semangat berkobar di wajahnya
ia memandu masuk lewat pintu, bertuliskan karunia dari kayu

semua orang tertib dalam antrean
proposal tebal digenggam tangan, menyeru khusyuk ingin menjabatMu
termasuk aku yang sedari dulu, berkalikali mengetuk pintu hatiku

Prawira Tama
Drama Kemeja dan Celana

tidak semua kain bisa jadi celana
berjalan dengan bertenaga
bangkit di pagi hari penuh gairah
hingga petang harus tetap melangkah

tidak semua kain bisa jadi kemeja
menampilkan jiwa berwibawa
mampu menyesuaikan keadaan
tak nampak kusut di segala tindakan

celana dan kemeja
baiknya bekerja sama
selaras beriringan
saling mengindahkan

jahitan celana harus kuat
berada di bawah menopang badan
ukuran kemeja harus muat
berada di atas merangkul peran

Prawira Tama
Mimpi Masa Lalu

Tenggat nyaris menikamku dengan pisaunya yang penat.
Aku kabur ke masa lalu.
“Merdeka!”
Kudengar suara lantang;
jalanan penuh warna-warni bendera,
namun tak terlintas satu pun orang.
“Merdeka!”
Kuteriakkan balasan;
papan reklame berjejal di Siola,
darah berceceran di jembatan.
Cemas berhasil membuat langkahku terhenti.
Pada tugu di depanku yang menatap angkuh
Kuyakinkan sebuah tanya :
Apa guna mimpi jika tak dibangunkan dari tidurnya?

Prawira Tama
Tak Ada yang Tanggal Sia-Sia

Pada kalender di dinding
angka-angka berpandangan dengan resah
menunggu giliran untuk dilingkari

“Tandailah kami sebagai apapun
risau yang menunggu
atau ragu yang tak pernah pergi”

Angka-angka jatuh berserakan.
kupungut lalu kumasukkan dalam celengan
yang tak pernah penuh ketika aku harus memecahnya
pada saat tanggal yang masih sangat muda

Prawira Tama
Dan Waktu pun Bersorak

                   You never give me your money
                   You only give me your funny paper
                       -    The Beatles 

Dalam lintasan kecemasan
aku dan uang saling beradu perkara ketangkasan

Aku berlari membawa ragaku
dan nalarku
Uang berlari membawa waktuku
memunggungiku

Pada nantinya
aku lebih dulu sampai di garis akhir
sementara uang masih terus berlari

Dan waktu
bersorak kegirangan
karena uanglah pemenangnya

Dimuat di Mata Puisi No. 3, Juli 2020

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *