Puisi Galeh Pramudianto: Menguji Diri dengan Tema Baru

Oleh Dedy Tri Riyadi

MEMAINKAN tema hubungan antara murid dan guru menjadi semacam ujian bagi puisi-puisi Galeh
Pramudianto kali ini. Bisa jadi karena memang terinspirasi dari dunianya sebagai pengajar, tapi kesegaran seperti ini membuat puisi-puisinya patut untuk diperkenalkan. Terlebih bisa memberi kita pandangan baru dari sisi pengucapan.

Galeh Pramudianto lahir di Tangerang Selatan, 1993. Bekerja sebagai pendidik dan mengelola platform Penakota.id bersama rekannya. Buku puisinya Asteroid dari Namamu (2019) diterjemahkan ke bahasa Inggris lewat beasiswa Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud. Puisinya “Barus, Suatu Pertanyaan” melaju di Majelis Sastra Asia Tenggara 2020. Saat ini sedang mempersiapkan manuskrip puisinya: Selagi Ia Bertualang.

Galeh Pramudianto
Ujian

ada banyak bentuk ujian di sekolah
ada ujian mendengarkan, menulis, menggambar, olah raga dan lainnya
ada ujian harian, praktik dan juga tengah serta akhir semester

mohon maaf bapak dan ibu guru
kata teman-temanku ujian itu membosankan
hanya mengulang-ulang apa yang sudah dibicarakan di kelas
kenapa harus ada ujian, bapak dan ibu?
bukankah hari-hariku yang kesepian dan kelaparan
juga bentuk ujian yang teramat kasihan?

kalau boleh saran, bolehkah ujian diganti dengan pujian?
karena aku bodoh maka setiap hari aku telah kenyang
mendapat umpatan dari teman-teman

tapi sekali lagi aku mohon maaf kepada bapak dan ibu guru
kalau di setiap soal esai aku menuliskan jawaban yang kudapat dari kitab suci, seperti ini:
“tuhan, tidak akan memberikan suatu cobaan di luar batas kemampuan.”

oh iya, bapak dan ibu guru, aku dengar bapak dan ibu juga akan ada ujian ya?
katanya kalau lulus akan mendapatkan “hadiah”
aku mendengarnya dari temanku, dia anak dari guru
semoga bapak dan ibu tidak menjawab seperti yang aku tuliskan ya.
amin.

Wadassari, 2019

Galeh Pramudianto
Belajar di Rumah

“Anak-anak, kemarin Bapak sudah kasih materi
lalu disertai penugasan portofolio.
Bisa kalian tunjukan lewat telekonferensi ini?”
Ujar Pak Guru seraya memandang wajah anak-anaknya dari layar.

“Maaf, Pak. Saya lupa
Tugas saya ketinggalan di rumah,”
jawab Budi, sekenanya.

Serentak hening semua
dan disusul gelak tawa.

Wadassari, 2020

Galeh Pramudianto
Pesan Murid kepada Gurunya

di akhir semester
setelah segala macam ujian dan remedial usai
kami diberi tugas yang menurut kami tidak biasa
pak guru meminta kami agar menuliskan kesan dan pesan
 
maka aku tulis saja apa adanya seperti ini:
            pak guru yang baik,
terima kasih telah membimbing kami
selama dua semester ini
menurutku pak guru itu menyenangkan
namun, bapak lupa mengembalikan
buku ceritaku yang pernah bapak pinjam
sayangnya aku belum selesai membacanya, pak.
aku juga yakin pak guru suka sekali dengan buku cerita itu
karena bapak telah membacanya sampai selesai.
 
kalau tadi adalah kesan, maka bolehlah kumemberi pesan:
aku ingin sekali membaca buku buah karyamu, pak.
ditunggu,
dari muridmu yang setia mendengar segala ceramahmu.
salam.
 
Wadassari, 2020

Galeh Pramudianto
Setelah Karyawisata

“zaman sekarang belajar tidak harus di kelas
dengan hanya berkutat pada tumpukan berkas
yang kadang membuat otak seperti diperas,”
begitulah kata bu guru yang akan mengajak kita melihat dunia
yang tak ada di layar gawai, katanya.
“hayatilah hidup
karena esok bisa saja sekolah akan runtuh
patuhilah petuah
meski terkadang buat lelah
karena ini adalah karyawisata terakhir kita
sebelum menteri-menteri diganti
dan belajar dengan hati adalah jalan lain menuju abadi.”

aku mengangguk saja
dan pura-pura mengerti
oleh kata-kata mutiara yang diucapkannya.

Wadassari, 2020

Galeh Pramudianto
Upacara Bendera

pagi ini hujan deras
dan upacara bendera di hari senin dibatalkan
teman-temanku pada kegirangan
karena tidak perlu repot-repot berdiri seperti patung
aku tidak setuju dengan pendapat teman-teman

aku rasa upacara bendera diciptakan
agar anak-anak ada waktu untuk beristirahat
dan mengingat para pahlawan di medan perjuangan

maka aku lebih memilih upacara
di senin pagi yang cerah
dibandingkan tidak bisa sekolah
karena banjir dan hanya nangkring di atap rumah.

Wadassari, 2020

Galeh Pramudianto
Pentas Seni

selain liburan sekolah, hal yang ditunggu lainnya adalah pentas seni
teman-temanku begitu bahagia dengan pentas di atas panggung
aku pun demikian
di acara itu aku bisa menulis puisi cinta dan cerita-cerita lucu
atau sepuasnya melukis di buku tulis kesayangan

di saat aku mengarsir di sebidang lukisanku
dan setelahnya mengingat-ingat kenangan untuk disisipkan di konflik cerita,
aku jadi teringat ucapan bapak guru saat pertama kali masuk sekolah
“kalau besar jadilah insinyur, dokter, polisi atau tentara. kalian akan sukses nanti.”
namun aku tidak pernah mendengar ada kata seniman atau sastrawan terselip di situ.

Wadassari, 2020

Dimuat di Mata Puisi No. 3, Juli 2020

Image by Fran Soto from Pixabay

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *