Oleh Dedy Tri Riyadi
KELUASAN wawasan ditambah dengan kejelian pengamatan menjadi modal dasar yang sangat baik baginya untuk menjadi seorang penyair andal. Bahasa pengucapan di antara ingin bercerita dan ingin memberikan satu pernyataan terasa sekali dalam setiap puisinya.
Menulis puisi, esai dan berita jurnalistik. Puisi-puisinya terhimpun dalam Antologi Puisi Bersama “Dendang Denpasar, Nyiur Sanur” (2012), Antologi Pertemuan Penyair Nusantara VI “Sauk Seloko” (2012), Antologi Puisi Lomba Cipta Puisi Komunitas Kopi Andalas (2013), Antologi Puisi Dari Negeri Poci 6: Negeri Laut (2015), Buku Antologi “Dari Gentar Menjadi Tegar” Komunitas Bergerak Seni Indonesia Berkabung (2015), Buku Antologi Puisi “Klungkung” (2016), Antologi Hari Puisi Indonesia 2016 ‘Matahari Cinta Samudera Kata’, Buku Antologi Puisi-Puisi Spriritual dan Sosial “Kavaleri Malam Hari”, diterbitkan Abdurrahman Wahid Centre UI (2017), “Dari Negeri Poci 8: Negeri Bahari” (2018), “Senyum Lembah Ijen “(2018), antologi puisi “Epitaf Kota Hujan” (Pertemuan Penyair Asia Tenggara di Padangpanjang, 2018) dll. Buku puisi tunggalnya “Doa Ikan Kecil” (Yayasan Sahaja Sehati) terbit tahun 2019. Kini sebagai pengelola program di Bentara Budaya Bali (ruang kebudayaan Kompas Gramedia).
Ni Wayan Idayati
Di Lorong Rumah Sakit
: buat adikku
Ini bukan piknik:
meski di setiap lorong
mereka berbagi bekal
termos untuk segelas kopi
tak lupa tikar penghangat kaki
Yang perempuan bersimpuh
sambil menahan nyeri asam urat
membuka kotak makan siang dan persediaan
tapi baginya tak pernah cukup bekal tabah
untuk dengar kabar buruk lainnya
Seorang lelaki paruh baya
gelisah seharian menunggui istrinya
hilir mudik seperti sesat
di antara banyak lorong dan loket
tapi tak pernah cukup banyak isi dompet
untuk bayar tagihan lainnya lagi
Juga sang nenek
dengan sehelai handuk lusuh
diselimutinya kakinya yang keriput
pandangnya menerawang jauh
ke setiap sudut dan jendela
cari cahaya samar buat ingatannya yang remang
Ibu menuang air panas
menyeduh kopi membagikannya buat para penunggu
tak lupa ditawarkannya biskuit dan roti
Dari kamar gawat darurat
bau obat bercampur cairan pembersih
perban berserak penuh bercak merah
terkunyah bersama roti dan kopi
yang baru saja kutelan
Di ujung lorong rumah sakit
kulihat seseorang dibawa dengan kereta dorong
penuh selang dan cairan infus
wajahnya pucat dipegangi para perawat
Sambil mengunyah sisa roti
kubayangkan lagi masa kanak
piknik di taman dan berbagi bekal
berlarian riang bukan kepalang
Ni Wayan Idayati
Sajak Sebatang Pensil
Kemana puisi-puisi lenyap
selalu ujung pensilku patah
setiap kali hendak menuliskannya
kemana puisi-puisi sembunyi
kertas-kertas keburu usang
sebelum penyair sempat mengisinya
Bila sebatang pensil bisa menuliskan nasib baik
kuharap ia sungguh menuliskan sebuah cerita
putri negeri dongeng yang menjelma nyata
kotak mimpi penuh rahasia
tempat segala keajaiban bermula
sebatang pensil ini tak lagi milik seorang penyair
ia punya sang pendongeng
pensil ini tak mau menulis sajak
ia mau menuliskan dongeng;
cinderella, putri salju, mungkin juga seorang balerina
tapi ia hanya sebatang pensil
itu hanya selembar kertas
tulislah, tulislah apa kau mau
Bila menuliskan kata-kata bisa membahagiakan sebatang pensil
mungkin akan kubiarkan saja
ia tercuri tangan kanak-kanak
suka hati menulis penuh binar riang
menunggu mimpi yang ranum oleh waktu
Ni Wayan Idayati
Teori Pragmatis
kita adalah kumpulan teori-teori sosial
yang ditulis berulang kali,
di setiap buku, di setiap tesis
kita adalah lembaran-lembaran analisis yang tak pernah tuntas
dalam tumpukan-tumpukan literatur di lorong-lorong perpustakaan
sekian lama kita adalah onggokan kata-kata ilmiah yang gundah,
mencari pemecahan dari soal-soal matematis
kita barangkali adalah hipotesis-hipotesis sendiri
tidak hendak ditemukan jawabannya
tidak oleh Bandura, tidak oleh Watson,
bahkan Freud sekalipun
mereka terlalu banyak menulis tentang kita
menyusun simbol simbol dalam skema Vigotsky
atau hendak memaknai laku kita sebagai proses yang bermakna
semua tak lebih sekumpulan teori yang ditulis: berulang kali
di tiap-tiap abad,
di tiap-tiap masa
di tiap dekade,
kita hanya turunan rumus-rumus kimia, fisika dan matematis
yang seolah sistematis
tapi kita tidak pernah ritmis dan harmonis,
merasa kita terlalu absah
tersisih dari etika estetis
kita disusun sebagai kajian-kajian baku
pandangan-pandangan konvensional maupun dimensional
lama atau baru,
kita tetaplah teori-teori membosankan
dalam setiap tesis, dalam setiap jurnal
kita adalah anak-anak skema dan grafis yang kaku
kita tidak mengenal Chairil,
Rendra,
Pablo
atau sesiapa sesekali mengatakan:
kita tak melulu rumus-rumus linier yang tak bisa lumer
kita tak melulu kertas-kertas evaluasi
tanpa intuisi
Ni Wayan Idayati
Menyusur Jejak Leluhur
tiada petuah
tuntas dikisahkan
sebelum tiba petang terakhir
mengubur jejak para leluhur
jalan panjang ingatan
menyusur jejak paling samar
terhimpit syair dan legenda
juga nama di setiap jalan
halaman demi halaman
membuka ruang percakapan
mencatat sejarah seperti kekasih
rindu berpadu ragu sungguh
kertas yang paling murung
usang terjaring waktu
menulis setiap baris
mantra kuasa membebaskan diri
membaca akar muasal
2018
Ni Wayan Idayati
Gadis di Pasar Kumbasari
Seorang gadis berambut merah menghampiriku
Sambil menawarkan katalog baju-baju terkini
Bayang lampu taman redup di garis matanya
Tersenyum cemas penuh harap
Ia keluarkan ingatan dari saku kecilnya
Sambil membalik halaman katalog, ia bercerita
Orang tuanya baru saja cerai
Sang ayah sudah menikah lagi
Sementara ibunya selalu bepergian
Entah bekerja, atau mungkin mematai istri baru suaminya
Kubiarkan saja ia terus mengoceh
Dan telaten menawariku mode-mode paling trendi
Lalu katanya:
Di sebuah gedung di tengah kota
Satelit pengintai yang baru tengah didirikan
Pemancar dan detektor serba tinggi dipasang
Kita tengah diawasi
2015
Dimuat di Mata Puisi No. 3. Juli 2020
