Percakapan: Momen Puitik Datang Ketika Kita Merangkai Kata-kata

Oleh Hasan Aspahani

PENYAIR Dedy Tri Riyadi dan penyunting Mata Puisi menjadi tamu di Kelas Puisi, Mei 2020 lalu. Perbincangan bebas, peserta boleh bertanya apa saja seputar puisi dan menulis puisi. Berikut catatan tanya jawab tersebut.

Tanya: Apa yang bikin Anda jatuh cinta pada puisi?

Jawab: Puisi bagi saya selalu ada misterinya. Kata yang diletakkan di sana bukan semata mengisi kekosongan dengan bunyi. Saya suka puisi karena ia seperti puzzle yang menuntut di selesaikan. Meski begitu, belum tentu juga dugaan kita atas susunan kata itu benar adanya.

Awal mula saya berpuisi sebenarnya adalah membuat suatu gambar bisa bicara. Kemarin di dalam kelas coding saya menemukan suatu hal yang membuat saya berpikir, barangkali begitulah puisi bekerja. Begini; bagi orang buta sulit untuk mengetahui bahwa di satu tempat itu ada gambar. Maka ketika kita membuat kode html nya kita tulis deskripsi dari gambar itu. Itu yang bisa “dibaca” oleh teman-teman yang buta.

berkomentar. Ya saya ada baca review atas buku saya.

Tanya: Puisi yang paling berkesan karya Anda yang mana? Bisa diceritain kenapa?

Jawab: Hari ini ultah Mas Joko Pinurbo. Di IG saya saya sebut puisi beliau Ranjang Ibu sukses membuat saya menangis membacanya. Puisi-puisi beberapa penyair lain yang saya suka sering membuat saya berpikir “Kok bisa ya dia menulis begini.”

Tanya: Saya mau bertanya perihal proses kreatif, biasanya tema atau hal apa yang bang Dedy angkat dalam puisi atau cerpen? Apakah ada hubungannya dengan tempat kelahiran?

Jawab: Ada banyak hal yang berseliweran dalam kepala saya. Ada yang tentang sekitar Pantura. Ada juga soal Wayang, dll. Saya menggarap yang sedang saya inginkan saja. Tidak terlalu memikirkan hendak jadi apa. Sesuatu bahan kadang bisa jadi ide cerpen, jadi ide puisi, novelet atau novel. Cuma soal kedisiplinan kita menuliskannya, kalau mau digarap jadi puisi harus bagaimana, digarap jadi cerpen harus bagaimana. Kalau ditanya sulit mana cerpen, puisi, atau novel, saya bilang sulit membuat cerpen. Karena meski ada kebebasan mengembangkan ide cerita tapi ada batasan panjang naskah. Puisi setelahnya karena dulu saya belajar membuat puisi dari pilihan kata-kata yang sudah ada. Tinggal menyusunnya, menggerakkannya.

Tanya:Anda rutin menulis setiap hari? Bagaimanakah caranya menjaga konsistensi menulis saat tidak ada ide atau bahkan saat mood tidak stabil? Anda menunggu momen puitik atau menciptakan momen puitik?

Jawab: Saya berusaha rutin menulis. Meskipun bukan puisi. Saya orangnya agak gagap kalau bicara, makanya saya melancarkannya dengan menulis. Saya meyakini ternyata tulis, baca, tulis, baca itu menghilangkan writer block karena kemarin saya iseng baca tentang penangkapan jin di jaman Rasul terus dapat ide meneruskan novel wayang saya. Untuk puisi, saya berangkat dari kata-kata yang akan saya gunakan untuk membuat puisi itu. Misal mau tulis soal PSBB saya cari dulu kata-kata yang berhubungan dengan isolasi, karantina, dll. Lalu saya coba merangkainya. Momen puitik akan didapat ketika kita sedang merangkai kata-kata itu.

Tanya: Pernah pusing tidak menemukan kepingan puzzle itu kah? Kalau tidak pernah dimuat di koran, menurut Anda apa seorang penulis puisi tak boleh disebut penyair?

Jawab: Pasti ada kerumitan ketika merangkai puzzle itu. Kalau tidak menemukan ya tidak apa. Tidak harus dijadikan puisi juga tidak apa. Penyair itu bukan soal dimuat di media sebenarnya. Tetapi karya itu akan bicara. Karya yang layak dibaca oleh lebih banyak orang pasti dimuat oleh redaktur.

Tanya: Standar puisi yang baik dan bagus menurut Anda seperti apa?

Jawab: Puisi yang baik itu atau bagus itu saya suka dengan standar soal dulce et utile sebenarnya. Hanya saja lebih sering utile-nya tidak terlalu saya tekankan dalam menilai.

Lalu kompleksitasnya pas. Tidak terlalu hambur tenaga atau emosi dalam pemilihankata. Sekarang jarang puisi yang kata-katanya yang dipilih dalam satu timbangan yang sama. Yang penting emosinya “dapat”.

Tanya: Bagaimanakah cara mengetahui ketepatan emosi dalam sebuah puisi?

Seperti contoh puisi Ranjang Ibu yang bisa membuat saya menangis atau seperti deskripsi foto atau gambar pada kode html, itu terjadi karena saya sebagai pembaca bisa membayangkan apa yang terjadi di dunia puisi itu.

Tanya: Apa bahan yang paling sering terpakai, atau jadi ciri khas dalam menulis Anda?

Jawab: Sampai sekarang sebenarnya saya belum punya ciri yang saya anggap khas bagi saya. Buat saya perubahan itu pasti. Jadi saya selalu mencoba banyak gaya dan bentuk.

Tanya: Terima kasih mas dedy, ini bikin saya sedikit lega masih cari identitas.

Jawab: Terima kasih.

Tanya: Siapakah penyair dari luar atau dalam negeri yang secara tidak langsung menginspirasi Anda?Bukankah kita harus “mencuri” juga dari mereka?

Jawab: Saya suka Chairil, Sapardi, dan jangan salah Pak Sapardi ini ahli dalam mencuri lho.. Saya pernah menduga ada puisi beliau yang diambil dari Wislawa Szimborska. Saya lupa yang mana tapi saya ingat bahwa puisi Pak Sapardi seolah sedang membalas puisi Wislawa. Itu.

Tanya: Klo hanya boleh pilih satu, Anda pilih penyair siapa?

Jawab: Saya pilih jadi siapa ya? Dari dulu saya kagum pada Toto Sudarto Bachtiar.

Dimuat di Mata Puisi No. 3 / Juli 2020

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *