Percakapan Intim dengan Metafora yang Akrab

Anisa Octaviana membuat metafora-metafora yang sangat akrab dengan kesehariannya, itulah yang membuat puisi-puisinya menjadi sangat khas dirinya. Tambahan beragam ungkapan verbal dari khazanah sehari-hari membungkus tubuh puisinya menjadi percakapan intim dari penyairnya bagi seseorang bahkan bagi dirinya sendiri.

Anisa Oktaviana, perempuan biasa yang lahir dan tinggal di Bandung, sejak 10 Oktober 1996. Pada Oktober 2019, ia baru lulus dari salah satu universitas negeri di kota tempat ia tinggal. Anisa belajar di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, kini ia tengah belajar menjadi guru bahasa Indonesia di salah satu sekolah. Kamu bisa menemukannya di media sosial mana pun dengan username berikut: anisaoktvn.

Anisa Oktaviana
Anak Kucing yang Mengeong

Pernah suatu masa
Aku mencintaimu dengan sepenuh degup
Lain waktu aku bersedia menghentikannya
Lalu mati dan setiap kali pemakaman dirayakan

Kau hadir jadi hantu yang kutandai
Sebagai anak kucing yang mengeong
Yang tak bisa kuhindari

Selanjutnya,
Degup itu kembali hidup
Pengulangan yang lambat laun
Seperti laut pasang;

Menenggelamkan

2020

Anisa Oktaviana
Seingatku Sering

Aku pernah — dan seingatku sering — merindukanmu setengah mampus, bersama kesadaran dan ketidaksadaran yang setipis luka milikmu. Jika aku sedang gila, aku kerap kali berjanji untuk melihat lukamu yang paling dalam. Meski detik setelahnya, bahagiamu adalah obat pahit untukku. Untuk segala kisah yang pernah dan telah karam itu, yang sama-sama kita kencingi dan kubur dalam-dalam. Meski bau pesingnya kerap kali memusingkan.

Jika kau tengah menggali lebih dalam lagi kuburan milikku di ingatanmu, akan aku sumbangkan satu dua patah kata tertulis di sana, sebab pernah pula aku kau kecap sebagai cemilan manis dan segambreng kenangan yang sialan menyenangkannya.

Setelah sekian lama, akhirnya aku menuliskanmu, meski begitu kau tak lagi kekal di dalamnya.

2020

Anisa Oktaviana
Berangsur Lenyap

Di kaki-kakimu yang kurus
aku mengekor sebagai sandal jepit
yang kau pakai berjalan ke masjid
yang hanya seminggu sekali itu
kemudian aku tak lagi mampu
kau temukan sepulangmu

Dibawa duka lenyap
Menjelma rokok si pencuri
Atau es krim anaknya

November 2020

Anisa Oktaviana
Lima Oktober dan Hari-hari Setelahnya

Kala itu Oktober masih baru
masih tercium bau toko.
Sedang langit sudah temaram
dan dingin sudah hampir merangsek masuk.
Mata sayu orang-orang kian layu
tak mau bertemu mekarnya. Kecewa kadang terbuat dari banyak bahan salah satunya dari tahta yang tinggi pula tajam, senang sekali melukai apa-apa yang ada di bawahnya.

Kala itu Oktober masih muda masih lincah berlarian. Sedang kabar buruk menyusup ke kaki-kaki dari kita

-kita.

Kian pincang.
Kian compang.

2020

Anisa Oktaviana
Dua Oktober dan Hari-hari Setelahnya

Oktober lahir sebagai puisi
Curi dengar, ia lahir prematur
Dibantu inkubator
Agar mampu hangat
Sebab ia terlampau dingin

Oktober tumbuh jadi puisi kecil
Penurut meski kadang kalut
Ia ditakdirkan untuk kuyup
Sebab akhiran namanya
Terlalu lekat dengan laut

Oktober tak tumbuh jadi puisi dewasa
Anak kecil dalam dirinya bersimpuh
Dan bersumpah

Akan tetap jadi puisi kecil
Untuk memeluk
Mereka yang tumbuh besar

Ia tetap penurut meski kadang kalut

2020

(Dari Mata Puisi No. 15 / Juli 2021).

Image by Ashkan Sadeghi from Pixabay

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *