Oleh Hasan Aspahani
JIKA puisi yang menjadi adalah sebuah dunia, seperti diucapkan Chairil dalam pidatonya, maka kita yang datang ke sana sebagai pembaca berperan sebagai apa? Pelancong? Pemburu? Atau pembunuh bayaran yang menunggu perintah untuk membunuh penyair yang menulis puisi itu?
Tentu saja kita bisa datang sebagai apa saja. Tapi yang penting adalah kita datang sebagai manusia, sebagai homo signans atau homo significans, makhluk yang punya naluri untuk memberi makna atau memaknai peristiwa atau benda apapun yang datang kepadanya, atau yang ia datang
padanya.
Majalah ini kira-kira ingin hadir dengan dunia-dunia kecil yang seperti itu, yang memikat pembaca datang untuk memaksimalkan peran dirinya sebagai makhluk pemberi makna itu. Dunia di luar puisi tak pernah ideal untuk semua manusia. Dunia nyata yang tak pernah sepenuhnya adil.
Puisi, juga cabang kesenian lain, nyatanya masih terus dihadirkan karena ia seakan menjadi ruang lain yang bisa dikunjungi. Bukan sebagai pelarian, bukan sebagai tempat atau gelanggang melupa-beria.
Puisi, bagi kita, adalah dunia lain yang mungkin kita harapkan bisa mengembalikan kemanusiaan kita, dengan cara yang sederhana saja, dengan mengingatkan bahwa kita tak perlu menanggung seluruh beban dunia nyata yang tak adil ini.
Sanoesi Pane dalam satu polemiknya dengan Sutan Takdir mengajukan argumennya tentang kenapa dia setuju pada prinsip seni untuk seni, l’art pour l’art. Sastrawan, ujarnya, lebih dahulu harus menyadari bahwa dia adalah manusia yang berpihak pada kehidupan dan kemanusiaan. Maka ketika dia menulis karyanya dia tak akan mengingkari keberpihakannya itu.
Dengan mendahulukan keberpihakan itu maka sikap seni untuk seni ketika berkarya menjadi wajib, karena seni memang harus digarap dengan kode logika kesenian. Puisi, hasil seni itu, harus menjadi dunia lain, yang mungkin juga tidak ideal, tapi siapa saja yng mengunjunginya bisa kembali dari sana dengan membawa sebuah kesadaran lain, yang lebih baik. []
