Apresiasi: Quo Vadis Para Pujangga?

Oleh Dedy Tri Riyadi

Dan nasib pujangga terkini benua pulau-pulau, / tak mampu dingin dari cibiran ketenaran bintang televisi
 
Sepetik dua larik ini saya ambil dari puisi Ervin Kumbang yang berjudul “Menuju Generasiku” sangat bisa jadi menggambarkan arah langkah dari para penulis puisi & penyair kita hari-hari ini. Bulan Mei tahun 2019 lalu, ada polemik yang diangkat oleh surat kabar Guardian mengenai manfaat dari seseorang yang didapuk menjadi pujangga (Poet Laureate). Menurut sebagian pihak penobatan seseorang menjadi pujangga itu tidak bermanfaat, lantaran banyak juga karya-karya puisi seseorang yang telah menjadi pujangga justru kemudian dirasakan menurun kualitasnya. Sebagian pihak lain beranggapan ada tugas pengajaran puisi kepada masyarakat yang diemban oleh para pujangga.

Puisi haruslah turun dari menara gadingnya dan menjemput kelompok-kelompok masyarakat yang terpinggirkan untuk bisa hadir bersama dalam puisi. Terlebih, seorang pujangga haruslah memberikan dorongan dan apresiasi terhadap para penulis puisi yang lebih muda, dan mengangkat karya-karya mereka yang lebih baik dengan memberikan
tempat dan penghargaan yang layak. Singkat kata, gelar pujangga tidak semata berhenti pada diri pribadi penyair tetapi harus menjadi titik baru bagi orang lain yang bergumul dengan puisi.

Semangat seorang pujangga untuk memerhatikan hidup orang lain (dan tentu, karyanya) menjadi timbangan berarti buat kami di Mata Puisi memuat puisi-puisi dari Ervin Kumbang, Aflaha Rizal, Prawira Tama, Galeh Pramudianto, dan Ni Wayan Idayati.
Semangat itu pula yang tergambar dalam karya-karya mereka. Ervin Kumbang, menyatakan tentang kesamaan hak setiap orang dari lahir hingga nanti mati, dalam puisinya “Menuju Generasiku” dengan menulis “pada dasarnya seluruh bayi baru lahir/ adalah para pembesar.” Ketimpangan hanya terjadi
ketika masing-masing dari kita memiliki nilai yang berbeda dari cara kita memandang sesama. Nilai itu yang harus dikalibrasi dengan dan dalam puisi, supaya setiap orang memandang sesamanya sama derajatnya. Sementara, Aflaha Rizal dalam puisinya “Girl on Red Carpet (1992)” menuliskan kesejatian seseorang itu ketika menyadari bahwa hidupnya semata “Dengan atau tanpa siapapun, hanya hari ini dan kau seorang diri.” Tidak lebih dan tidak kurang, begitulah sebenarnya hidup kita hanya memiliki hari ini dan hanya sendiri. Sehingga kita akan sangat memerlukan dan bergantung pada orang lain.

Dengan semangat yang sama untuk menduduk-sejajarkan manusia, dan memberi pemahaman tentang ketergantungan satu sama lain dari kita, Prawira Tama dalam puisinya “Drama Kemeja dan Celana” membuat analogi kita, sesama manusia, sebagai kemeja dan celana dimana “celana dan kemeja/ baiknya bekerja sama/ selaras beriringan/ saling mengindahkan.”

Hal yang senada, meski berbeda cara, tampak juga pada puisi “Ujian” karya Galeh Pramudianto. Dalam puisi itu, Galeh menyatakan apapun profesi, kedudukan, dan usia dari kita, sama-sama akan mendapatkan suatu “ujian” dalam kehidupan.

Apapun bentuknya. Dalam puisi itu, dituliskan sebagai pertanyaan dari seorang murid terhadap gurunya, “oh iya, bapak dan ibu guru, aku dengar bapak dan ibu juga akan ada ujian ya?” Kesadaran tentang kemanusiaan yang sederajat ini adalah ujian terus menerus dalam kehidupan kita. Belum lama, gema “Black Lives Matter” menyeruak ke pelbagai ruang hidup kita. Di Indonesia sendiri, ditimpali dengan “Papuan Lives Matter” yang sejatinya sama yaitu menuntut persamaan hak sebagai layaknya manusia kepada semua ras, golongan, suku bangsa, negara.

Penulis puisi, penyair, pujangga selayaknya punya empati terhadap gerakan-gerakan seperti ini. Bahkan karena kepekaan hati, haruslah perasaan itu jadi berlebih.

Jadi semangat melayani liyan tadi. Seperti ditulis oleh Ni Wayan Idayati dalam puisi “Di Lorong Rumah Sakit” yang menceritakan suasana membezuk seseorang yang dirawat di rumah sakit, dimana ada peristiwa “Ibu menuang air panas/ menyeduh kopi membagikannya buat para penunggu/ tak lupa ditawarkannya biskuit
dan roti.”

Bicara tentang sakit penyakit, tentu kita tidak lupa bahwa kita tengah dipaksa menjalani cara hidup berdampingan dengan virus Covid-19 yang belum ditemukan pengobatan dan pencegahannya secara tuntas. Kita tengah dipaksa kembali berkegiatan dengan risiko tertular dan menyebarkan kembali virus tersebut. Dan dengan segala kerumitannya, kita diajarkan agar lebih bergaya hidup sehat
dengan rajin mencuci tangan, mandi, serta menggunakan masker setiap kali. Belum lagi dengan mengonsumsi aneka multivitamin dan menyiapkan cairan disinfektan.

Kehebohan dan kegelisahan berhadapan dengan virus Covid-19 ini menjadi bahan yang menarik untuk dipuisikan. Uniknya, meski sebenarnya kami di Mata Puisi tidak menargetkan masuknya puisi-puisi bertema Covid-19, para penulis puisi dan penyair yang tadi telah kami sebutkan namanya juga menyelipkan puisi yang memuat
situasi berkenaan dengan hal tersebut. Terkecuali Prawira Tama dan Ni Wayan Idayati. Meski puisi Prawira Tama “Tentang Seorang Lelaki Muda” dan “Alamat Kantor Tuhan” mencerminkan kematian dan penderitaan umat manusia, dan puisi Ni Wayan Idayati “Di Lorong Rumah Sakit” bisa dianggap terkait karena memiliki citraan tentang sakit/ rumah sakit.

Ervin Kumbang, tidak hanya mengumbar kegelisahan menghadapi Covid-19 dengan puisinya “Yang Tak Nampak” tetapi juga menantang diri untuk menjadi legenda (setidaknya, kelak menjadi penyintas dari wabah pandemi yang katanya muncul setiap 100 tahun sekali) dengan menuliskan, “Bagiku, ini hanyalah jalan sulit sehari-hari/
terbunuh lagi sebelum naik kembali/ sudah bakatku hendak legenda/…” Sedangkan Aflaha Rizal memilih religiositas sebagai cara menyandarkan kekuatiran, mengharapkan kekuatan, dengan menghadirkan Tuhan dalam puisinya “Lockdown” yang ditulisnya, “Tetapi aku tidak terkunci untukmu,” kata Tuhan/ yang menuju tubuhmu, yang pernah kau lupakan.

Pada puisi lainnya, “Kini di Rumah” Aflaha Rizal memberi gambaran kerja kepenyairannya pun terganggu dengan adanya wabah ini. Lain lagi dengan Galeh Pramudianto, yang menghadirkan dunia pengajaran yang erat dengan dirinya, memberi kesegaran menangkap pandemi ini dengan lebih ceria. Dalam puisi “Belajar di Rumah” Galeh menggambarkan kebingungan siswa dengan menulis dalam puisinya alasan seorang siswa, “Maaf, Pak. Saya lupa/ Tugas saya ketinggalan di rumah,”/ jawab Budi, sekenanya.  Pandemi ini ternyata telah membuat seluruh aspek kehidupan kita benar-benar terganggu. Siapapun kita.

Menyindir segala tingkah laku kita sebagai manusia, kami harus memberikan kredit lebih pada puisi Ni Wayan Idayati yang berjudul “Teori Pragmatis” karena pada puisi itu memberi gambaran bahwa perubahan yang dilakukan dari dalam diri manusia, dari hubungannya dengan manusia lain, dan seterusnya, membuat manusia kerap melakukan pemberontakan terhadap nilai-nilai yang ditujukan kepadanya. Jadi, jika manusia terus berulah dan berubah, bagaimana lantas para penyair dan pujangga akan menyikapinya?

Dimuat di Mata Puisi No. 3 / Juli 2020

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *