H.P. Lovecraft lahir di Providence, Amerika Serikat 20 Agustus 1890. Seorang penulis horor, fantasi dan fiksi ilmiah. Kredo dari Lovecraft adalah apa yang ia sebut sebagai “cosmicism” atau “horor kosmis”, gagasan bahwa kehidupan tidak dapat dipahami oleh akal manusia dan alam semesta bermusuhan dengan kepentingan umat manusia. Karyanya The Call of Cthulhu telah menjadi rujukan horor modern oleh berbagai penulis dunia dan telah diangkat ke berbagai produk budaya populer seperti komik, film dan serial televisi.
Sajak-sajaknya yang dimuat Mata Puisi kali ini diterjemahkan oleh Galeh Pramudianto.
H.P. Lovecraft
Misteri Hidup
Hidup! O, Hidup!
Apalah arti dari pertunjukan indah yang berpendar?
Apakah ingatan itu cepat berlalu?
Ia yang telah mati adalah kunci Kehidupan—
hilang sudah tanda, dalamnya liang kubur
Manusia adalah nafas, dan Hidup adalah api;
Kelahiran adalah kematian, dan paduan suara telah bungkam.
Peraslah keabadian jantung duniawi!
airmata dari utas tua
Hidup! O, Hidup!
H.P. Lovecraft’
Arkade
-dengan kepala terangkat
O beri aku kehidupan di desa,
Tanpa rintangan, bebas, dan jelita;
Tempat di mana semua seni berkembang,
Grove Court dan Christopher Street.
Aku muak dengan kebiasaan lama,
Dan kritik yang tak membangun,
Jadi bernyanyilah untuk ruang yang lapang,
Biar estetikus bekerja dengan bebas.
Di sini setiap penyair adalah seorang jenius,
Dan para seniman seperti Raphaels,
Lalu di atas atap Patchin Place
Bakat-bakat itu terdiam dan merenung.
H.P. Lovecraft
Matahari Terbenam
Hari-hari tak berawan datang semakin dekat;
Keagungan kencana mengendap di ladang;
Lintuh, mencuri bayangan dengan nyaman
Untuk menenangkan daratan dan lautan.
Dan dalam pelita yang luhur, lembut dan permai,
Ada jiwa yang jelita, kebahagiaan yang megah;
Melepaskan silau tengah hari, pemandangan nan indah
Kian berkat dan rahmat di bumi dan langit.
Tak lama pelita paling luhur itu memahkotai masa mudaku,
Atau kilau paling terang merawat belukar itu,
Senja mengental, dan nampak adegan kilat
Meninggalkan kenangan akan sucinya cinta!
H.P. Lovecraft
Ketika Menerima Gambar Angsa
Angsa yang melankolis dengan anggun termenung
Merapati makam delman yang tak beruntung;
Di kawanan rerumputan, pepohonan poplar menangis,
Kuncen dengan sabar merawat makam yang basah.
Seandainya kubisa, haruskah aku menggugat
Bapa surgawi, atau Yang Maha Mulia,
Ketika pernah berkibar begitu tinggi, lalu terempas jauh ke dalam
Menyambut Cygnus yang berduka dengan persembahan!
Kawanan burung dengan dungu masih berhamburan di udara
Merintih perih untuk terus menyanyikan sebuah ode.
H.P. Lovecraft
Sebuah Kota
Dahulu begitu cerah dan indah,
Kota Cahaya itu;
Sebuah wahyu ditangguhkan
Di kedalaman malam;
Sebuah kawasan penuh keajaiban dan kemuliaan, di mana kuil-kuilnya seterang pualam.
Aku ingat musimnya
Terbit di pandanganku;
Zaman edan tak beralasan,
Hari-hari yang menumpulkan otak
Saat musim dingin berjubah putih dan pucat pasi, datang untuk menyiksa dan menggila.
Lebih indah dari bukit Sion
Memancar di langit,
Ketika sinar Orion
Menggelapkan mataku,
Tidur jadi dipenuhi memori kelam dan berlalu begitu saja.
Di rumah mewah nan megah
Dengan ukiran indah,
Suasana tenang dan teduh
Di sudut beranda,
Sekeliling taman harum dan keajaiban mekar di sana.
Bulevar itu memikatku
Pada lanskap luhur;
Meyakinkanku dan membusur
Pada suatu waktu
Aku berkelana dengan penuh kegembiraan dan bersukacita dalam damai.
Dari kejauhan, di alun-alun itu terpampang
Patung-patung;
Berjanggut panjang, berwibawa,
Makam seorang lelaki di sebuah zaman—
Rupanya patung itu rapuh dan janggut pada wajahnya kian hancur.
Di kota yang berkilauan itu
Aku tak melihat manusia;
Tapi itu fantastis, dan bersahabat
Pada himpunan kenangan,
Dapat bertahan di alun-alun, dan menatapnya dengan penuh kekaguman.
Aku menemukan bara yang mulai redup
Bersinar dalam pikiranku,
Dan berupaya keras mengingat
Keabadian di masa lampau;
Untuk menjelajah tanpa batas, dan menuju masa lalu yang lepas dari kurungan
Lalu peringatan menggetarkan itu
Buat jiwaku menyatu
Bagai pagi yang merisaukan
Terbit spektrum kemerahan,
Dan dalam kegugupan aku melayang lewat dongeng mencekam yang terlupa dan hilang.
Dimuat di Mata Puisi No. 3 / Juli 2020
