Puisi Faris Al Faisal: Permenungan, Pengertian

Di tangannya, secangkir kopi, teh, atau cokelat hangat berubah fungsi dari sekadar minuman menjadi sebuah permenungan tentang hidup. Bahkan, seekor ulat dianalogikan dengan upaya manusia menemu jalan kepada Tuhannya. Puisi-puisinya mengambil hal-hal yang kasat-mata untuk diubah pada pengertian yang sangat emosional. Bahkan, memandang seorang gadis meminyaki rambutnya dengan baceman menjadi pertanyaan tersendiri tentang cinta yang terluka.

Faris Al Faisal lahir di Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Namanya masuk buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” Yayasan Hari Puisi. Puisinya pernah mendapat Juara 1 dan Piala bergilir ‘Lomba Cipta Puisi Anugerah RD. Dewi Sartika (2019), mendapatkan juga Anugerah “Puisi Umum Terbaik” Disparbud DKI 2019 dalamPerayaan 7 Tahun Hari Puisi Indonesia Yayasan Hari Puisi, dan pernah Juara 1 Lomba Cipta Puisi Kategori Umum Tingkat Asia Tenggara Pekan Bahasa dan Sastra 2018 Universitas Sebelas Maret. Tersiar pula puisi-puisinya di media lokal, nasional, dan Malaysia. Buku puisiterbarunya “Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian” penerbit Rumah Pustaka (2018).

Faris Al Faisal
tirakat ulat daun

ulat daun telah bersabar dari pucuk-pucuk muda
telah ia lupakan sejenak gurihnya tulang-tulang daun
ke tempat sunyi, ke tepian sepi
tak ada gelimang kuning matahari pagi
bahkan warna-warna dunia dan juga cinta

ia pun pergi dari kebun berbuah itu
—yang bukan miliknya
terpikir sebaiknya untuk menjadi berharga
sebelum kembali kepada fana

tentu mesti ada upaya, seperti orang-orang ke sawah
meniti di atas bandar, berjalan di sepanjang pematang
bersusah-susah sebelum memetik biji dan buah

bukankah hanya seekor ulat?
(sebab bulu-bulu kengerian terhimpun padanya)

memang ia hanya seekor ulat, ia merasa
yang telah mengambil ribuan daun
pohon-pohon kerdil
buah-buah keriput dan gagal
segunung zarah, tumpukan pasir dosa-dosa

meski hanya seekor ulat, ia tak ingin selamanya
tinggal di lembah pohon
sementara langit biru selalu terbuka

maka ulat tirakat,
rukuk dan sujud dalam kepompong rakaat
mengikat nafsu sesat—sesaat
membungkus tubuh dengan zikir
puasa: sabar berlapar meski gemetar dan terbakar
lalu terbang menari di atas bunga
yang rekah tersenyum membalasnya

sejak itu ulat berubah,
sayap kupu-kupu tumbuh di tubuhnya
menjadi lukisan sorga
telah berganti,
menjadi keindahan dan keluhuran budi

dan manusia pun adalah ulat daun
yang bertirakat
menggapai ketinggian derajat

Indramayu, 2020

Faris Al Faisal
Uraian yang Tidak Menuntut Jawaban Apa-apa Kecuali Sekedar Pengakuan yang Tak Perlu Diungkapkan dengan Kata-kata

  1. Apa kita tengah bermimpi saat luka melekat mengintai berbagai rasa nyeri sebab jahitan terbuka mengulang kenang yang tak sepotong pun bahagia itu singgah seperti burung-burung migrasi di ranting pulau tak bertuan mengabarkan duka kemarau—bau hangus rumput, dedaunan merah menjelang rebah, biji-biji tak berisi, bebunga keriput, tebu bersepah, dan madu ditelan habis—atau sejenis keresahan dalam keheningan yang sekarat berlarat-larat melampaui rasa takut yang akut akan kecemasan pada kehilangan matahari pagi setelah meneguk kuning cahayanya di bendul jendela sambil membaca larik-larik embun bersama guguran impian?
  2. Siapakah yang membangunkan bulan dari balik punggung gadis yang sedang menyisir dan meminyaki rambutnya dengan daun cem-ceman bercampur urang-aring sambil sesekali bercermin lalu mendapati jalan panjang rindu bergelombang dan kumbang yang bergemuang terperangkap di rimbun pohon puisi menceritakan perihal tanjung dan pasir putih yang tersapu ombak, badai, angin laut, musim barat, dan kenyataan yang tampak mulai diselimuti gerhana luka cinta?
  3. Kapan rimba hitam dan akar belukar kegelapan berkemas gegas melangkah pergi sambil meninggalkan sepucuk surat perpisahan yang diletakkan di bawah bantal beriring dengan kelopak cempaka kuning dibaca saat malam berpagar bulan dan bintang agar bau kesedihan yang kau katakan menyiksa terasa harum tanpa ada lagi sesal yang menggumpal di pelupuk lalu bertumpuk setelah sekian waktu diuji segala sabar, syukur, dan doa yang tak henti dipanjat dari batang pohon liana yang merambat ke pintu-pintu ampunan sekalipun celah itu begitu sempit?
  4. Di mana perjalanan ini akan menemukan pangkal dan ujungnya dengan benar tanpa tertukar oleh riuh anak-anak sungai yang meliuk mencari dan menemukan bentuk labirin sebelum membentur batu-batu bahasa dan lumut kata-kata yang pecah berderai di pipimu yang dihinggapi rona senja pada suatu sore istimewa sedang aku hanya terpaku memeluk kedua lututku yang berlimpahan serbuk debu penghalang pada penglihatan yang mulai rabun setelah matahari menghilang?
  5. Ke mana hari-hari itu pergi tanpa sempat kita lihat kepak sayapnya yang ditumbuhi bulu-bulu indah, manik-manik permata, dan sajak-sajak berkilauan warna sedang ia tak mungkin dapat kembali hanya ingatan yang sesekali menjadi alur mundur atau regresi menceritakan betapa dulu bahagia itu adalah menikmati kenyataan dengan ketulusan dan keikhlasan?
  6. Dari mana sekerat daging puisi dan segenggam butir garam sajak terpanggang bagai santapan lezat dinikmati oleh pemuisi dan penyair pada malam puisi Chairil Anwar diteriaki suara-suara binatang jalang yang terbaring sepanjang jalan perjuangan meneriakkan pekik, “Merdeka!” tapi kita hilang kebebasan di dindingi beku salju yang sulit mencair sebelum saling meruntuhkan benci yang bersarang di hati?
  7. Mengapa menguap tatap di pantai setelah hiu, lumba-lumba, dan paus berlompatan ke selat menuju laut lepas dilarung renung bayang buku mimpi yang meleleh dibakar matahari dan perburuan mencari ikan, tripang, udang, cumi, lokan dan kerang terhenti saat jaring terlempar bahagia bagai rekah bunga?
  8. Bagaimana tumbuh buah rindu yang kaudambakan selepas dahan jatuh dan bunga runtuh persis bangunan kuno di kota tua yang terbiar dikeroposi waktu sementara laju kereta telah membawa gerbong-gerbong nyanyian sang masinis yang mulai bosan dengan perjalanan yang hanya mengikuti jalur rel menggema terpantul di telinga dan aku melihat senja mengindahkan bukan?
  9. Berapa banyak air mata jatuh hanya untuk meneguhkan persoalan hati yang membuat waktu tidur dan jam makanmu mengalami penurunan lalu dengan diam-diam kau mulai jatuh hati dengan puisi, kopi, batang rokok, sepi, malam, buku-buku sastra, koran, kamus, dan laptop yang terus menyala dengan kabel dan charger sementara musik instrumen saksofon Kenny G mengalir bak gemericik sunyi mampu melembabkan kenangan itu hingga basah kuyup menggenangi seluruh hari-hari yang nyaris hanya terisi oleh rindu, candu, dan kesetiaan menunggu yang entah dengan alat apa untuk dapat mengukur indikasi keberhasilan dari sifat mencinta membabi buta dan keras kepala itu?

Indramayu, 2019

Faris Al Faisal
Komposisi Wedang Teh

Wedang teh adalah komposisi
setelah air panas menyeduh potongan daun
melarutkan gula batu
dan mekar kembang melati setaman
di cangkir tanah,
wadah segala rebah

Di warung dan kafe, teh tumbuh
di empat musim dunia
seperti udara, di mana-mana

Di rumah, teh adalah saudara setia
tak ke mana-mana, ada
sebagaima kopi memberi kehangatan

Indramayu, 2019

Faris Al Faisal
Komposisi Cokelat

Kita meneguk segelas cokelat dingin, dari kebun
kakao di Glenmore
dan es batu, remukan salju Himalaya
di titik beku ini
cuaca mengkerut dalam helat
jadi komposisi cokelat

Bisa jadi kursi-kursi di kafe mendengus,
dingin logam ngilu di geligi
tapi bukankah malam baru melebarkan sayap
percakapan masih larut
potongan cerita terasa legit,
terdengar hening tanpa derit dan jerit

Di akhir waktu, kita pun menghabiskan rindu
menyuling lagi janji
sebelum aku dan kau pulang
satu pertemuan yang entah kapan
bersama gelas-gelas yang kosong,
yang ditinggalkan

Indramayu, 2020

Image by StockSnap from Pixabay

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *