Oleh Hasan Aspahani
MENGEDEPANKAN pergulatan batin, membuat Dee Hwang luas melakukan penjelajahan pada banyak hal sebagai hantaran yang disajikan pada pembaca. Meski ada kesan jatuh sebagai petuah tapi sebenarnya yang dilakukannya adalah menggali sesuatu di masa lalu dan meletakkan hal lain pada suatu waktu di masa depan hingga pada akhirnya yang terjadi adalah penegasan-penegasan yang dapat pembaca petik pada hari ini.
Dee Hwang, Kelahiran Lahat, 9-9-1991. Lulusan UNSRI ini mencintai kisah-kisah dengan tema lokalitas, juga karya Daria Petrilli sampai Erik Satie. Cerita pendeknya tersebar di berbagai media cetak dan online. Pernah menjadi ilustrator isi untuk buku puisi Pada Sayap Kuda Terbang – Saifa Abdillah (2017), menelurkan novel bertajuk Serunting (2019), kumpulan cerita pendek Penulis yang Merancang Kematian Tokoh Utamanya (2009), beberapa tulisannya dapat diakses melalui deehwang.tumblr.com dan akun wattpad DEE HWANG. Kini aktif sebagai pengisi suara dalam kanal youtube “Secarik Pesan di Saku Bajumu”. Penulis bisa dihubungi melalui Instagram @secarikpesandisakubajumu atau email dee_hwang@yahoo.com
Dee Hwang
Kemuraman Masa Muda (2)
: Yang kuperam selama tujuh tahun
Kau duduk, Aku duduk
Di tengah-tengah, musuh bersama
Apa daya
Lidahnya lebih berat, lebih berkias-kias
Lebih dicintai
dikasih simpati
Malam-malam menjadi seram
Airmataku gelegak, tiada lain yang dihadapi
Tak tertangkis keinginan untuk mati
Dee Hwang
Wassermusik
: Suite in F Major
Handel menyala
Dalam komposisi teratur
Di pertengahan itulah
Jari-jariku mekar
Segera kugesek biola
Seketika gemetar kata-kata
Bermula dari apakah rasa gembira?
Aku juga ingin berhenti
Lahir-lahir jadi pengiring
Rama-rama
Tak sudah mengejar padang
itu matiku sendiri
Usai membuka tulisan-tulisan lama
Di moncong kapal
Khusuk kutambah-tambah
Jangan dulu disahut perbincangan yang tak beres-beres itu
Perkenalkan, ini diriku yang lain, ini diriku yang berikutnya…
Kuselesaikan permainan—bayangan jatuh memeluk badan Thames
Dee Hwang
Tiga Aturan dalam Bicara
Lebih banyak mencelangkan mata
Dengan raba dan juga rasa
Lebih banyak membiarkan tempat
Keheningan akan melumat
Lebih banyak membelaikan kasih
Seperti kau mencintai-Nya kembali
Dee Hwang
Sesaat Setelah Kupagari Diri dari Lamunan
Di antara kita, ada yang sedepa ruang
Mencoba memahami
Yang melindungi diri dalam wastu kehendak
Mengasah tinggi terlalu sering
Mengasuh luas, tak henti-henti
Ketenangan yang terawat
Masih di sini
Lebih dari pertaruhan
Sejak kapan, sampai kapan
Namun Tuhan pun tak mampu mengatasi
Belintang kekalahan
Berita yang fermata
Di antara kita, memang ada yang sedepa ruang
Tapi adalah payah
Manusia sejenisku ini
Dee Hwang
Dans Un Magasin D’antiquites
Tak sekedar pembicaraan
Soal apa-apa yang kumandangkan
Lagu-lagu masa remaja—oh. Bahaya yang menyenangkan.
Atau satu dua pengalaman
Yang melamurkan pegangan
Cobalah, coba
Maknai lebih teratur lagi
Yang terpajang di baris depan bolehlah kubawa pulang
Atau cukup rasikan sebentar
Pandang-pandangi
Sampai mekar lagi tenaga
Lalu berkelilinglah
Untuk menemukan pecahan yang lain
Yang dipenggal dari hidup
Suatu masa
Langitmu manis tebu, bibirmu gula batu
Atau api yang dipadamkan
Dan mimpi-mimpi menjadi patung
Menyemut peluh di dadaku yang kiri
Biarlah kenangan menemukan temannya sendiri
Tak sekedar ada pembicaraan
Soal apa-apa yang dipelihara
Cobalah, coba
Tak akan ditutup segera
Meski sore mengapungkan bulan dengan wajah seseorang
Yang terpajang di baris belakang bolehlah kuantar pulang
Mintalah lagi
‘kan kupenggal beberapa
Meski kudapati diriku yang lain
Di muka gerbang
