Puisi Li-Young Lee: Eksil, Asing

Oleh Hasan Aspahani

SEBAGAI siapakah seorang menulis puisi? Tentu saja sebagai dirinya sendiri. Apakah ia juga menulis sebagai seorang warga sebuah negara? Apa arti negara bagi seorang warga yang menulis puisi? Persoalan itu terasa sekali pada sajak penulis imigran. Misalnya pada sajak-sajak Li-Young Lee yang kali ini disajikan Mata Puisi. Ia lahir di Jakarta, lalu keluarganya harus meninggalkan Indonesia, berpindah-pindah hingga akhirnya menetap di Amerika. Apa arti “‘negeri kelahiran” baginya yang sebenarnya juga asing. Dari ajak “Nyanyian Imigran” (Immigrant Blues) mungkin bisa kita rasakan situasinya.

Li-Young Lee adalah penyair Amerika, lahir pada tahun 1957 di Jakarta. Ayahnya pernah menjadi dokter pribadi bagi Mao Zedong selama di China, dan memindahkan keluarganya ke Indonesia. Pada tahun 1959, keluarga Lee melarikan diri dari Indonesia untuk menghindari sentimen anti-China dan setelah perjalanan lima tahun melalui Hong Kong, Makau, dan Jepang, mereka menetap di Amerika Serikat pada tahun 1964. Sajak-sajak Li-Young Lee untuk Mata Puisi diterjemahkan oleh Hasan Aspahani.

Li-Young Lee
Bantal

Tak ada yang kutemukan di bawah situ.
Suara-suara di pepohonan, halaman yang hilang
dari lautan.

Segalanya tertidur.

Dan malam adalah sungai yang menjembatani
tebing yang saling bicara dan saling mendengarkan,
benteng, yang tak berpertahanan, dan tak ada serbuan

Tak ada yang ingin berdiam di bawah situ:
sumur buntu oleh lumpur dan daun yang membusuk,
rumah masa kecilku.

Dan malam dimulai ketika jari-jari ibuku
menelusurkan benang
yang tersematkan dan yang tak terikat
hingga menyentuh ke ujung jumbai cerita kami

Malam adalah bayangan tangan ayahku
mengatur jam, alarm kebangkitan

Apakah jam itu terlepas? Lalu terbanglah angka-angka?

Tak ada yang tak menemukan rumah di situ:
Sayap yang patah, sepatu yang hilang, alfabet yang rusak.
Semuanya tertidur, dan malam memulai malam.

Melati pertama yang terpetik,
wangi yang terperangkap padanya terusir
dari pakaian terakhir ke pemakaman.

*dari sajak “Pillow”

Li-Young Lee
Dari Kembang Bunga

Dari kembang bunga kembang datanglah
persik dalam kantong kertas warna coklat
kita beli tadi dengan tawa suka
di batasan jalan di mana kita memutar arah
di dekat rambu bertanda: Persik

Dari cabang yang rimbun, dari tangan-tangan
dari persahabatan yang manis di dalam keranjang,
datang nektar dari tepian jalan, persik berdaging sukulen
yang kita gugut, kulit yang berdebu dan semua datang
dari debu musim panas yang kita kenal, debu yang kita telan itu.

O, memetik cinta ke dalam diri,
membentang kebun ke dalam diri, menyantap
tak hanya selapis kulit, tapi juga bayangan itu,
bukan hanya gula, tapi juga hari, menggenggam
buah itu di tangan kita, memujanya, lalu menggigit
pada titik lingkaran, persik kemenangan.

Ada hari-hari dalam hidup kita
ketika maut itu ada tak di mana-mana
tapi dekat di halaman belakang, dari kegembiraan
ke kegembiraan ke kegembiraan, dari sayap ke sayap
dari kembang bunga ke kembang bunga
ke bunga yang tak mungkin, hingga ke bunga
yang manis dan yang mustahil bunga.

*dari sajak “From Blossom”

Li-Young Lee
Sudahkah Kau Berdoa?*

Ketika angin
menikung dan bertanya, dalam suara ayahku,
sudahkah kau berdoa?

Aku ingat tiga ihwal. Pertama:
Aku tak pernah selesai menjawab sang mendiang.

Kedua: Seorang lelaki punya empat angin dan tiga api.
Dan empat angin adalah suara ayahnya,
suara ibunya…

Atau mungkin tujuh angin dan sepuluh api.
Dan api itu penglihatan, pendengaran, sentuhan,
mimpi, pikiran…
Atau dia adalah nafas Tuhan?

Ketik angin itu berbalik dan pergi lagi
dan bertanya, dalam suara ayahku, Sudahkah kau berdoa?
Aku ingat tiga ihwal.
Pertama: Cinta seorang ayah

adalah lemak susu dan manis gula,
dua pertiga cemas, dua pertiga duka, dan apa yang tersisa

adalah apa terhimpun dan meragi menjadi roti
bagi berbagi yang hidup dan yang telah mati

Dan kesabaran? Itulah yang bikin bertahan
dari cekaman peragian dan tekanan.

Dan kebijakan? Adalah wajah ayahku saat ia lelap.

Ketika angin
bertanya, Sudahkah kau berdoa?
Aku tahu itu cuma aku sendiri

yang mengingatkan diriku sendiri
setangkai bunga hanya satu stasiun antara dari
keinginan dan kegirangan bumi, dan darah

adalah api, garam, dan nafas panjang sebelum
diperlekas tongkat atau ranting, atau cabang
yang bangkit bicara. Adalah aku

dalam balutan gaun angin,
atau ayahku yang melalui aku, bertanya,
Sudah kau temukan pengungsianmu?
bertanya, apakah kau bahagia?

Serasa aneh. Ayah didera bahaya. Anak yang berbahagia.
Angin dengan suara. Dan aku tak bicara pada siapa-siapa.

*dari sajak “Have You Prayed”

Li-Young Lee
Sebuah Cerita

Kesedihan adalah ketika kau diminta bercerita
tapi tak ada satu pun cerita bisa kau ceritakan.

Anakmu, bocah-5-tahun itu, menunggu di pangkuanmu.
“Bukan cerita yang sama, Ayah. Aku mau yang baru.”

Di ruang penuh buku di dunia cerita-cerita
kau tak bisa mengingat satu pun cerita,
dan tiba-tiba, kau bayangkan, bocah-5-tahun-mu
itu kecewa dan menggerutu, “Ah, ayah, payah…”

Lalu kau terbawa khayalan ke masa depan, masa ketika
anak lelakimu harus meninggalkanmu. Jangan pergi dulu, katamu,
Aku ceritakan lagi dongeng buaya, cerita bidadari,
Kamu suka cerita laba-laba itu, kan? Anakmu tertawa,
Ya, aku akan bercita lagi, Nak. Cerita untukmu…

Tapi anakmu sedang berkemas, melipat rapi baju-baju,
dia bertanya mana kunci? “Kamu ini dewa, ya, Nak?
Kau memekik, “ini aku hanya bisa duduk terdiam di sampingmu,
atau aku yang dewa karena tak boleh merasakan kecewa?

Tapi anakmu bocah-5-tahun itu masih di sini,
“Ayah, adakah cerita baru untukku?”
Itu pertanyaan dari hati bukan dari pikirannya,
pertanyaan dari bumi bukan dari surga,
yang memperasing permintaan anakmu
dan cinta kasihmu, mempersunyi kesunyian.

*dari sajak “A Story”

Li-Young Lee
Nyanyian Imigran

Karena mereka telah mencoba membunuhku sejak aku lahir,
ada ayah berkata pada anaknya, mencoba menjelaskan
apa gunanya belajar bahasa kedua.

Ini kisah lama dari abad yang telah lalu
kisah tentang ayahku dan aku.

Kisah lama yang sama dengan kisah pagi yang kemarin
kisah tentang aku dan anakku.

Ini kisah tentang “Strategi Penyintasan
dan Melankoli Asimilasi Rasial.”

Ini kisah tentang “Paradigma Psikologi dan Orang yang
berada di Tempat yang Salah.”

tentang “Anak-anak yang Lebih Suka Bermain daripada Belajar.”

Berlatihlah sampai engkau merasa
bahasa itu ada di dalam tubuhmu, kata lelaki itu.

Tapi apa yang dia tahu tentang di dalam dan di luar tubuh,
ayahku adalah dia yang tak menyimpan apa-apa
kecuali bahasa yang dia pakai bicara?

Dan aku, dirunsingkan oleh raga dan jiwa,
yang suatu kali bertanya lewat telepon,
Apakah aku ada di dalammu?

Kau selalu ada di dalamku, jawab seorang perempuan,
berdamai dengan raga yang terbataskan
berdamai dengan jiwa yang tak peduli
pada ruang dan waktu.

Apakah aku ada di dalammu? Sekali lagi kutanya
bergayut di antara dua kakinya, bingung
tentang raga dan hati.

Jika kau tak percaya aku ada di dalammu, kau tidak di sana,
dia menjawab, berdamai dengan ketamakan tubuh,
berdamai dengan hati yang kacau.

Ini kisah lama dari dari petang kemarin

tentang “Pola Cinta pada Orang-orang Terdiaspora,”

tentang “Kehilangan Tanah Kelahiran
dan Ketaktulusanan Orang Tercinta.”

tentang “Aku Ingin Menyanyi tapi Tak Satu pun Lagu Aku Tahu.”

*dari sajak “Immigrant Blues”

Image by StockSnap from Pixabay

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *