Apa Itu Puisi? Ini Jawaban Bernstein, Ashbery, dan Glück

Oleh Hasan Aspahani

APAKAH pertanyaan dan jawaban apa itu puisi bisa membantu kita untuk memahami dan lebih menikmati puisi? Ataukah kita tak usah pedulikan pertanyaan itu  karena toh tiap penyair tampaknya punya jawaban yang tak pernah sama? Bahkan ada yang mengatakan bahwa tiap puisi adalah cara penyair untuk membuat definisi puisi versinya sendiri.

Tapi baiklah, kita dapat kumpulkan beberapa definisi. Misalnya, puisi adalah karya sastra yang menggunakan bahasa dengan perhatian khusus pada bunyi, ritme, imaji, metafora, bentuk, dan kepadatan makna. Definisi itu benar, tetapi segera terasa tidak cukup. Ia menjelaskan beberapa ciri puisi, tetapi belum menjelaskan mengapa sebuah rangkaian kata tiba-tiba dapat membuat kita berhenti membaca, mengulang satu baris, lalu memandang dunia di sekitar kita dengan cara yang sedikit berbeda.

Karena itu barangkali pertanyaan tentang puisi lebih menarik jika diajukan kepada para penyair sendiri. Bukan untuk memperoleh definisi yang final, melainkan untuk melihat apa yang mereka lakukan terhadap pertanyaan tersebut.

Charles Bernstein, John Ashbery, dan Louise Glück menawarkan tiga jalan yang sangat berbeda. Bernstein menggugat kebiasaan kita terhadap bahasa. Ashbery membawa puisi mendekati gerak kesadaran yang tidak linear. Glück memperlihatkan bagaimana pengalaman yang sangat pribadi dapat memperoleh bentuk melalui bahasa yang tampak sederhana dan terkendali.  Ketiganya seperti datang dari arah yang berlainan, tetapi pada akhirnya bertemu pada satu gagasan penting: puisi bukan sekadar wadah untuk menyampaikan sesuatu. Puisi adalah cara sesuatu terjadi melalui bahasa.

Bahasa Bukan Sekadar Alat

Dalam wawancaranya dengan Jay Sanders di BOMB Magazine, Charles Bernstein menyebut pekerjaannya sebagai bricolage: merakit sesuatu dari berbagai bahan yang tersedia. Ia mengatakan, dengan nada yang khas Bernstein, “My work is bricolage. I do what I like at any given time.”

Kalimat itu tampaknya ringan. Tetapi di baliknya ada persoalan serius tentang bagaimana sebuah puisi dibuat. Kita terbiasa membayangkan penyair sebagai seseorang yang mempunyai gagasan tertentu, kemudian mencari kata-kata untuk mengungkapkannya. Gagasan berada di satu tempat, bahasa menjadi alat untuk memindahkannya ke tempat lain.  Dalam model semacam itu, bahasa hanyalah kendaraan.

Bernstein tidak begitu saja menerima anggapan tersebut. Bagi penyair eksperimental seperti Bernstein, bahasa bukan benda yang transparan. Ia memiliki kebiasaan, aturan, sejarah, bahkan kekuasaan. Kita berbicara dengan bahasa yang sudah ada sebelum kita lahir. Kita menggunakan struktur kalimat yang diwariskan, ungkapan yang telah berulang jutaan kali, kategori-kategori yang diam-diam mengatur bagaimana kita melihat dunia. Karena itu, mengubah cara bahasa bekerja berarti juga mengganggu cara kita terbiasa memahami kenyataan.

Di sinilah bricolage Bernstein menjadi penting. Puisi tidak harus dibangun seperti gedung yang sejak awal sudah memiliki rancangan lengkap. Ia dapat dirakit, dipindahkan, dibongkar, dicoba kembali. Ada kemungkinan, kebetulan, permainan, bahkan kegagalan. Dalam praktik semacam itu, penyair tidak sepenuhnya berdiri di luar bahasa sebagai penguasa yang mengendalikannya. Penyair juga bekerja di dalam bahasa dan membiarkan bahasa bekerja balik terhadap dirinya.

Puisi, dengan demikian, bukan hanya sesuatu yang dibuat oleh penyair. Ia juga merupakan ruang tempat penyair menemukan apa yang sebelumnya belum ia ketahui. Pertanyaan “apa yang ingin saya katakan?” akhirnya berubah menjadi pertanyaan yang lebih menarik: “apa yang dapat dilakukan bahasa di sini?” Perubahan kecil dalam pertanyaan itu membawa kita jauh.

Ketika Puisi Mengikuti Gerak Pikiran

John Ashbery membawa persoalan ini ke wilayah yang berbeda. Jika Bernstein mempertanyakan kebiasaan bahasa, Ashbery mempertanyakan kebiasaan kita mengenai bentuk pikiran.

Dalam sebuah wawancara dengan The Times London, Ashbery menjelaskan bahwa puisinya berusaha meniru cara pengetahuan atau kesadaran datang kepadanya—“by fits and starts and by indirection”. Karena hidup sendiri tidak tersusun rapi, katanya, puisinya pun tidak perlu disusun dalam pola yang rapi: “My poetry is disjunct, but then so is life.”

Pernyataan ini membantu kita memahami mengapa puisi Ashbery sering terasa seperti pikiran yang sedang berlangsung. Sebuah gambaran muncul, kemudian menghilang. Sebuah kalimat membawa kita ke suatu tempat, lalu tiba-tiba berbelok. Sesuatu yang tampaknya tidak berhubungan mulai berdampingan. Kita mungkin merasa tersesat, tetapi sebenarnya kita sedang mengalami sesuatu yang sangat akrab: cara kesadaran kita sendiri bekerja.

Kita jarang berpikir seperti sebuah esai.

Kita tidak selalu bergerak dari premis menuju argumen, lalu dari argumen menuju kesimpulan. Sebuah bau dapat membawa kita kepada masa kanak-kanak. Sebuah lagu mengingatkan kita pada seseorang. Nama seseorang membawa kita kepada sebuah kota. Kota itu mengingatkan kita pada sebuah sore yang sudah puluhan tahun berlalu. Pikiran manusia penuh dengan lorong semacam itu.

Logika kehidupan mental tidak selalu berupa garis lurus.

Ashbery membuat ketidaklurusan itu menjadi prinsip puitik. Karena itu, ketidakjelasan dalam puisinya tidak selalu berarti kegagalan untuk menjelaskan. Ia dapat menjadi cara untuk setia kepada bentuk pengalaman yang memang tidak sepenuhnya jelas.

Ini penting. Kita sering menuntut puisi agar segera dapat dijelaskan. Jika sebuah puisi sulit dipahami, kita menganggap penyairnya gagal berkomunikasi. Tetapi Ashbery mengajukan kemungkinan lain: mungkin yang perlu dipertanyakan bukan hanya puisinya, melainkan asumsi kita tentang bagaimana pengalaman harus dikomunikasikan. Padahal, sebuah puisi tidak selalu harus membuat kita mengerti. Kadang ia hanya membuat kita mengalaminya: mengalami puisi.

Keheningan Louise Glück

Lalu Louise Glück membawa kita ke wilayah yang tampaknya berlawanan. Bahasa puisinya terkenal jernih, hemat, bahkan nyaris seperti percakapan biasa. Namun kesederhanaan itu menipu. Poetry Foundation mencatat bahwa kekuatan Glück justru terletak pada bahasa yang tampak langsung dan sederhana, tetapi sangat teliti dalam ritme, pengulangan, dan pemilihan kata.

Glück tidak membutuhkan kekacauan formal Bernstein atau lompatan kesadaran Ashbery untuk membuat bahasa menjadi asing. Ia dapat mengambil bahasa yang sangat biasa dan membuatnya terasa ganjil karena ketepatan penempatannya.

Dalam wawancara dengan Poetry Foundation mengenai Faithful and Virtuous Night, Glück berbicara tentang apa yang terjadi ketika sebuah buku selesai. Ia menyebut adanya “dread and sorrow” ketika karya yang selama ini menjadi pengalaman pribadi tiba-tiba dilepaskan ke dunia. Selama masih berada dalam dirinya, karya itu adalah sesuatu yang intim, sesuatu yang masih mungkin berubah. Setelah diterbitkan, ia menjadi milik pembaca.

Ada sesuatu yang menarik dalam pengakuan itu. Puisi bagi Glück bukan sekadar hasil akhir. Ia adalah periode kehidupan batin. Buku puisi lahir dari suatu keadaan kesadaran tertentu, dan ketika buku itu selesai, keadaan itu pun berakhir. Karena itu, publikasi bukan semata-mata kemenangan. Ia juga semacam perpisahan.

Mungkin kita dapat memahami puisi Glück dari sini: ia tidak berusaha mengisi halaman dengan sebanyak mungkin pengalaman. Sebaliknya, ia mencari bentuk yang mampu menampung pengalaman tertentu tanpa membuatnya menjadi lebih besar atau lebih indah daripada yang sebenarnya.

Dalam sebuah percakapan lain, ketika berbicara tentang Faithful and Virtuous Night, Glück bahkan mengatakan bahwa ia suka membaca prosa—novel, biografi, bahkan benda-benda sehari-hari seperti kotak obat dan kotak sereal. Prosa memberinya semacam “elasticity”, kelenturan yang kemudian dapat merembes ke dalam puisi.

Ini menarik karena menunjukkan bahwa sumber puisi tidak harus berupa sesuatu yang secara konvensional kita sebut puitis. Dunia sehari-hari sudah cukup. Yang membuatnya menjadi puisi bukan objeknya, melainkan pekerjaan bahasa yang dilakukan terhadap pengalaman itu.

Sebuah taman tidak otomatis menghasilkan puisi tentang alam. Sebuah kematian tidak otomatis menghasilkan puisi tentang duka. Sebuah perceraian tidak otomatis menghasilkan puisi tentang kehilangan.

Yang menentukan adalah apa yang terjadi ketika pengalaman itu bertemu bahasa.

Bukan Apa yang Dikatakan, tetapi Apa yang Terjadi

Di sinilah Bernstein, Ashbery, dan Glück mulai bertemu. Mereka memang berbeda. Bernstein membongkar kebiasaan bahasa. Ashbery membiarkan bahasa mengikuti gerak kesadaran. Glück mengendalikan bahasa dengan ketelitian yang hampir keras. Tetapi ketiganya menolak satu pengertian yang terlalu sederhana tentang puisi: bahwa puisi hanyalah pesan yang diberi bentuk indah.

Jika puisi hanya pesan, maka kita dapat mengambil pesannya dan meninggalkan puisinya.

Kita bisa mengatakan bahwa sebuah puisi karya Glück “berbicara tentang kehilangan”, bahwa Ashbery “berbicara tentang ketidakpastian kesadaran”, atau bahwa Bernstein “berbicara tentang bahasa”. Tetapi setelah kita mengatakan itu, kita belum benar-benar mengatakan apa yang dilakukan puisi tersebut.

Sebab puisi bukan hanya what it says. Ia adalah how it says, how it moves, how it sounds, how it pauses, how it refuses, how it surprises.

Sebuah kata ditempatkan di akhir baris dan bukan di tengah kalimat. Sebuah kalimat diputus sebelum selesai. Sebuah citraan muncul tanpa penjelasan. Sebuah kata diulang sampai maknanya bergeser. Sebuah kekosongan dibiarkan tetap kosong. Semua itu bukan hiasan. Semua itu adalah bagian dari makna.

Dengan kata lain, bentuk puisi bukan kulit dari gagasan; bentuk adalah bagian dari gagasan itu sendiri. Mungkin inilah sebabnya sebuah puisi yang sudah kita terjemahkan ke dalam prosa sering terasa seperti kehilangan sesuatu, meskipun “isinya” masih dapat diceritakan. Yang hilang adalah pengalaman bahasa yang membuat gagasan itu hadir dengan cara tertentu.

Puisi sebagai Cara Mengetahui

Kalau begitu, apa yang sebenarnya dilakukan puisi? Salah satu jawabannya adalah: puisi memberi kita cara lain untuk mengetahui. Pengetahuan sehari-hari cenderung ingin menjelaskan. Ia mengurai sesuatu agar menjadi jelas. Puisi tidak selalu melakukan itu. Puisi kadang justru mempertahankan ambiguitas karena ambiguitas itu sendiri merupakan bagian dari pengalaman.

Kita tidak selalu tahu mengapa kita mencintai seseorang. Kita tidak selalu memahami kesedihan kita sendiri ketika mengalaminya. Kita sering baru memahami masa lalu setelah bertahun-tahun berlalu, dan bahkan pemahaman itu pun dapat berubah lagi.

Puisi dapat tinggal di dalam ketidakpastian semacam itu.

Ashbery mengajarkan kita bahwa kesadaran tidak selalu datang secara teratur. Bernstein mengingatkan bahwa bahasa yang kita gunakan untuk memahami dunia bukanlah alat yang netral. Glück menunjukkan bahwa pengalaman yang paling pribadi pun membutuhkan bentuk agar dapat menjadi sesuatu yang dapat dibagikan.

Ketiganya memperlihatkan bahwa puisi bukan lawan dari pengetahuan. Puisi adalah salah satu cara pengetahuan bekerja—hanya saja ia tidak selalu menghasilkan kesimpulan. Ia menghasilkan perhatian. Ia membuat kita mendengar sebuah kata lebih lama. Melihat sebuah benda lebih dekat. Mengingat sesuatu yang semula kita kira telah selesai. Menyadari bahwa satu kalimat dapat berarti lebih dari yang kita sangka. Bahkan menyadari bahwa sesuatu yang selama ini kita anggap sudah kita pahami ternyata masih menyimpan ruang yang belum kita masuki.

Pertanyaan yang Sebaiknya Tidak Dijawab

Maka pertanyaan “apa itu puisi?” mungkin memang tidak membutuhkan satu jawaban.

Bernstein membuat kita curiga terhadap bahasa yang terlalu tertib. Ashbery membuat kita menerima bahwa pikiran manusia memang tidak selalu tertib. Glück mengingatkan bahwa bahkan bahasa yang paling sederhana membutuhkan ketelitian untuk menyentuh sesuatu yang sungguh-sungguh kita alami.

Dari ketiganya kita dapat menarik satu kesimpulan sederhana: puisi bukan benda yang menunggu untuk didefinisikan. Ia adalah sebuah peristiwa. Peristiwa antara kata dan benda. Antara ingatan dan pengalaman. Antara suara penyair dan kesadaran pembaca. Karena itu, puisi yang baik tidak selalu meninggalkan kita dengan jawaban. Kadang ia meninggalkan kita dengan sebuah perubahan kecil dalam cara melihat.  

Kita selesai membaca, menutup buku, lalu beberapa menit kemudian memandang cahaya di jendela. Cahaya itu sebenarnya sama. Jendela itu sama. Dunia tidak berubah. Tetapi sesuatu dalam diri kita telah bergeser.

Mungkin di situlah puisi berada. Bukan pada benda yang dapat kita tunjuk dan berkata, “Inilah puisi.” Melainkan pada perubahan yang terjadi ketika bahasa membuat kita mengalami sesuatu dengan cara yang sebelumnya belum pernah kita alami.  Dan karena pengalaman itu selalu berubah, pertanyaan tentang apa itu puisi sebaiknya juga tetap terbuka.

Sebab barangkali puisi yang benar-benar hidup adalah puisi yang, setelah selesai kita baca, masih membuat pertanyaannya terus bekerja di dalam diri kita. []

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *