Reaksi Kimia Abadi dalam Sajak “Lahir Sajak”, Subagio Sastrowardoyo

Subagio Sastrowardoyo
Lahir Sajak

Malam yang hamil oleh benihku
Mencampakkan anak sembilan bulan
Ke lantai bumi. Anak haram tanpa ibu
membawa dosa pertama
di keningnya. Tangisnya akan memberitakan
kelaparan dan rinduku, sakit
dan matiku. Ciumlah tanah
Yang menerbitkan derita. Dia
adalah nyawamu.

Sumber: Daerah Perbatasan (PN Balai Pustaka, 1982)

APA yang hendak diucapkan Subagio di sajaknya ini? Coba kita cari. Ia bicara tentang bagaimana sebuah “sajak” lahir. Itu sebuah metafora luas dan liar, karena bisa berarti apa saja, apa saja yang hadir sebagai tanda, yang membuat kita menoleh, dan punya potensi untuk dimaknai.

“Sajak” yang demikian itu, lahir dari malam yang hamil oleh benihku, dia yang bicara sebagai protagonis dalam sajak. Adapun “malam” itu adalah metafora yang lain lagi. Dia adalah waktu di mana si aku diberi kesempatan untuk meninjau diri, segala hal yang menjadi benih, lahirnya sajak itu tadi.

Lalu lahirlah sajak itu, dengan cara yang tak lazim, barangkali brutal, tercampak ke lantai bumi, meskipun saat kelahiran itu memang sudah sampai waktu, sudah sembilan bulan. Kita kerap kali tak pernah siap dengan kejutan yang dihadapkan dunia pada kita, bukan?

Sajak, anak lahir dengan cara tercampak itu, yang terenggut dari situasi lahir di balik ketiadaannya itu, “…membawa dosa pertama di keningnya”. Dan anak itu tanpa ibu. Ya, malam itulah ibunya, yang hamil oleh benih si aku. Dengan kata lain, ibu dari anak sajak itu adalah situasi yang mengganggu, yang tak bisa dielakkan, yang mengepung di luar si aku – dia yang mengandung benih sajak.

Sajak itu, demikianlah takdirnya, menjadi penanda, menjadi bukti bahwa sebuah kesaksian telah diberikan. Jerit tangisannya memberitakan hal-hal yang tak beres: kelaparan (karena tak tercukup hal-hal pokok), kerinduan (karena tak juga dipertemukan dengan hal-hal yang melengkapi dirinya), sakit (karena menanggung hal yang tidak semestinya), dan kematian (apa yang kelak datang dengan pasti untuk menuntaskan segala hal).

Dari mana sumber derita itu? Iyalah tanah, tanah pada bumi, di mana anak sajak tadi tercampak. Tapi tanah itu juga yang menghidupkan (dia adalah nyawamu), sumber harapan yang harus diolah, dan karena itu dia harus disambut, diterima, dengan cium, dengan kemesraan.

Inilah sajak dengan permainan kontradiksi, ironi, paradoks, ambiguitas yang padat, panas, melepaskan energi makna abadi, yang tak habis-habisnya. Seperti larutan berbagai zat dalam sebuah tabung reaksi kecil yang terus saja bereaksi, menghasilkan kejutan-kejutan. []

Image by 1tamara2 from Pixabay

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *