Yang Menjanjikan Keutuhan Imaji

ADA banyak pendefinisian baru untuk beragam hal dalam puisi-puisinya. Bermain dengan ragam wilayah jelajah dari pribadi, keluarga, masyarakat, menjadikan puisi-puisinya kompleks secara istilah, tema, dan tehnik penggarapan. Yang selalu dijanjikan ada dalam puisinya adalah keutuhan imaji.

A. Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media antara lain: Kompas, Tempo, Jawa Pos, Horison, Media Indonesia, Republika, MAJAS, Sindo, Majalah FEMINA, dll. Memenangkan beberapa lomba karya tulis sastra. Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018), “Kesunyian Melahirkanku Sebagai Lelaki” (Basabasi, 2020). Ia mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura.

A. Warits Rovi
Mainan Ibel

origami sebelah sayap capung, dan
gunting kecil kemilau
dengan sisa cukur rambut memupur ujung
cukuplah kiranya itu jadi hari libur bagi Ibel

_ bermain, mempermainkan waktu
dalam genggam pipilan butir-butir karet
seperti puzzle hidup yang minta dirasup dengan doa

jam dinding dengan detak yang lebih senyap
melukis warna lain di rambutnya yang tipis

masa kanak punya keramaian tersendiri
yang bahan dasarnya berasal dari surga

Ibel meracik sendiri di sini:
di keramik merah bata dengan tikai garis halus
di sofa merah saga yang menua
dalam sulam jaring laba-laba

“sebagaimana permainan orang tua
permainan Ibel tak akan pernah usai, Yah.”

ia berkata, ia menerka
hari mewujud dengan aslinya, tanpa kosmetik
dan gincu. tak perlu ragu-ragu.
bergantung di matanya sebuah masa yang langka
yang orang tua tak punya, menyerupai harkat fathah.

Gapura, 2021

A. Warits Rovi
Jam Garam di Pulau Garam

kaki kemarau melukis tapak di baling-baling kayu
wangi subuh sampai jua ke pojok tambak
bercampur bau mujair sisa panen yang tinggal sisik
dalam bakul tua tak bertali

musim berganti, bagai takdir lahir dari liang sunyi
menyendiri ke dalam puisi

ini waktu garam, dalam jam garam
yang dari zaman ke zaman menawarkan beragam dentang
kepada burung-burung yang merencanakan tandang

tapi, entah di pukul kesekian, lancang tangan badai
merobek tubuh jam, angka-angka berhamburan
jarum merah membangkai dengan tanda asin
yang tak dikenal lidah

: di atas sehampar takdir yang direkayasa
jam garam tamat di pulau garam

_ menjadi hantu garam yang menyeramkan.

Gapura, 2021

A. Warits Rovi
Your Eyes on The Play Strore

Paket unlimited ini
melebihi tajam pisau di mangkuk karet

berkilat di mata malam
berkilau di tangan siang

arakan lirih barisan semut maya di smartphone
telah membentuk sepasang matamu selembut padma

hari hampir magrib, liris angin tenggara
berbaris di dada, membidikmu dusunmu di sebuah benua

kau masih dengan sepasang mata selembut padma
berpayung bulu-bulu halus mirip helai senar gitar

ada paket dan sinyal dalam diriku
masih dalam wujud pisau berkilau yang enggan pejam

tajam alami oleh asahan kedua matamu itu
kini berani menantang batu

Gaptim, 2021

A. Warits Rovi
Jangan Tambang Tubuhku

sudah cukup jejak keruk luka pantaiku
mengaduh sepanjang musim dalam cekik dingin
seolah kau hendak memberi matahari
padahal itu api

langgam dan doa para tetua pecah dihantam roda
kala punggung jalan kecil kampung ini
tak mampu menampung muatan truk ambisimu

dan hari ini, jangan tambang tubuhku lagi
segali linggis di masa lalu masih dalam balutan daun kering
menganga kepada masa dengan darah rahasia
yang sakitnya dirasakan burung dan belalang

katamu, di tubuhku ada fosfat
jangan tambang itu

ketahuilah fosfat adalah daging bagi batu karst
jantung tunggalku yang menyimpan nyawa kedua
bagi matahari selanjutnya

fosfat adalah hidupku yang menganyam jasad
puisi, burung, belalang, dan kupu-kupu
bagi kelangsungan jejak anak cucu menempuh waktu

Gaptim, 2021

A. Warits Rovi
Pelajaran Bangun Tidur

subuh adalah garis, bentang memadat di keningmu
mengantar dua warna; hitam dan putih, malam dan siang

bulan hanyalah pengiring malam yang kerap lelah
di pucuk-pucuk turi, dan bisa pecah oleh pujian

letih kelelawar melanjutkan mimpi di sarangnya
matahari memulai kata-kata dengan tatap yang pasrah

sebentar jendela jadi milik pagi, geometri sepi
membagi garis dan ruang pada diri

jam dinding memanggil dengan suara menggigil
seharusnya kau tidak tidur pagi-pagi

seharusnya kau malu pada secangkir kopi
_asap tipis yang membelit aroma masa lampau yang suci

digaris pada tenun embun
supaya kau bangun.

Gapura, 2021

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *