Karasmin Pikiran dan Perasaan

Image by LATUPEIRISSA from Pixabay

MANUSIA sesekali perlu asyik dan sibuk dengan diri sendiri. Menengok ke dalam, juga ke belakang. Bergelut dengan kenangan, masa lalu yang remeh, peristiwa personal yang kerap kali terlewatkan demi kesibukan dan hal-hal yang bagi umum tak penting. Apabila kebutuhan itu datang, puisi menyediakan diri untuk melayani.

Khalish Abniswarin menikmati benar saat bersendiri – bersama puisi – itu, tanpa harus benar-benar terpisah dari kesibukannya sebagai pamong praja. Hasilnya adalah permainan yang girang tapi juga gundah, sebuah karasmin perasaan dan pikiran.

Khalish Abniswarin, lahir di Handil Baru Kec. Samboja 22 Februari 1975. Anak seorang guru yang lucu dan ibu yang pintar memasak. Ia tumbuh dan menua pada akhirnya menjadi seorang abdi negara yang jenaka dan suka makan. Sujud Sebelas Bintang buku puisi pertamanya terbit 2017 disusul buku kedua Batumbang Apam, 2021. Camat Samboja sejak 2019 -2021. Dan saat menjabat Kepala Bidang di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Kutai Kartanegara.

Khalish Abniswarin
Pasar Pagi

Ia bercita-cita jika kelak tutup usia. Berita kematiannya dipampang di tengah kota.
Di sebuah baliho raksasa.

Dunia dipenuhi permainan yang menipu dan video lucu.
Anak muda milenial tidak gampang diajak berduka cita.
Hanya gambar bunga tanpa air mata. Stiker murah dari aplikasi gratis sudah cukup mewakili ucapan bela sungkawa.

Di bawah baliho besar itu. Penjual ayam merapikan cambang dengan sebilah pisau.
Dua ekor ayam jago duduk lesu. Bernaung di sobekan kardus dengan tulisan dijual cepat dan murah setelah kalah diadu.

Perempuan dengan tutup kepala seperti siput. Kalung dengan liontin buah anggur menutup lehernya yang mulai keriput. Tawar menawar dengan tukang kemasan. Gelang besar puluhan gram itu tampaknya akan segera tampil di Facebook dan Instagram.

Lampu merah dan menara masjid raya. Baju takwa, kopiah dan sarung tenun Samarinda.
Pusat perbelanjaan yang tak lagi mesra. Masih jadi pilihan bagi mereka yang percaya tuhan selalu memberi jalan.

Aku menyusuri pasar pagi. Melacak harum melati. Mengenang kelopak kenanga.
Di pelepah batang pisang. Bayanganmu tak pernah usang.

Khalish Abniswarin
Obat yang Kuat

Setelah lelah mendaki malam. Kita turun dari ranjang. Seperti gerimis pelangi bagi bidadari. Adalah isyarat wajib untuk mandi.

Hujan turun dua rakaat. Tunjukilah pagiku ini. Dalam selimut keringat ia masih saja mengigau dan tersesat.

Telah tunai cinta ditunaskan. Pejantan menikmati sarapan. Madu dan telur ayam kampung setengah matang adalah modal menghadapi hidup yang penuh pergulatan.

Khalish Abniswarin
Tutorial Menanam di Lahan Sempit

Meski malam begitu luas.
Di lahan sempit
Kita mesti belajar bercocok tanam.

Lihatlah dinda.
Pekaranganmu dipenuhi gulma.
Malam ini di sela-selanya aku ingin bermain halma.

Selepas salat isya
Kulihat kau melepas mukena
Sementara di layar kaca
Prakiraan cuaca mengumumkan
Air sungai bangai dan masa subur telah tiba.

Khalish Abniswarin
Kompilasi Lagu Sedih

Semusim semu.
Semasam jemu.
Bulan di atas ember. Gerimis berlimpah sejak bulan november.

Perempuan bercadar. Menunggu liuk tango dan getar gitar. Bryan Adam bertanya, apakah kau pernah benar-benar?

Meniduri duri. Bermimpi bidadari. Bon Jovi terkapar. Di atas ranjang mawar.

Bagaimana bisa tegar. Mendengar suara lembut Nella Regar. Hujan jatuh menyentuh tahi lalat Rano .
Kesedihan tak mengenal hari minggu.
Jangan lagi kau menangis untukku

Khalish Abniswarin
Tears

Bagaimana cara menerjemahkan kata yang bisa kau ucapkan lewat mata?
Mengapa duka itu membuat kita dehidrasi,? Lalu kita perlu air mata untuk menyirami kepedihan.
Aku haus. Tak ada soda gembira.
Hanya seseduh kesedihan.

Khalish Abniswarin
Ke Tanjungsembilang

Ke sinikah kita menghentikan kayuh.
Melupakan burung enggang dan ulak jeram yang jauh.
Di muara selat ujung perahuku menikam.
Meraba napas terakhir arus mahakam.

Anak nelayan mengumpulkan hatap nipah yang hijau.
Sekelompok berijing menata ranjau.
Bagantar turus
runtuh rumah burung tinjau.

Anak nelayan yang kurus mengingat-ingat cara ibunya memasak cumi-cumi.
Cairan hitam ini bukan lagi milik kita.
Kita relakan ia mengalir ke tenggorokan negara.
Mengenyangkan perut dunia.

Di malam hari anak-anak nelayan
ke luar dari kampungnya.
Di layar kaca mereka melihat laut menelan orang-orang kaya.
Kapal pesiar yang tak akan pernah lewat di depan rumah mereka.
Di pinggiran selat makasar.

Anak nelayan mengenang teman perempuannya yang mati tenggelam.
Sepulang dari nonton video
angin meniupkan wangi Kate Winslet ke perahu
Tiba-tiba aku ingin memelukmu.

Khalish Abniswarin
Terminal Basah

Tubuhku terminal basah.
Hujan datang sebentar lalu berangkat.
Menuju kota lain yang aku hafal dari lagu koplo pengamen Solo.

Bangku tunggu berulang tahun.
Lilin membakar warna rambutnya.

Hanya putih abu yang tersisa dari usia.
Ia adalah waktu yang masih belajar untuk setia.

Tubuhku saung dan susunan daun.
Kumpulan kisah rumbai rumbia.

Daun lontar yang mencatat tujuh warna.
Setiap kali pelangi menghamburkan krayon pada langit
dan pematang sawah yang berkaca-kaca.

Di batang paring yang terbelah dua.
Ibu mengucuriku doa-doa.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *