Penyair Sapardi dan Sajak yang Utuh


Oleh Hasan Aspahani

MENULIS puisi baginya memang bukan pekerjaan untuk bersenang-senang. Berpuisi adalah pekerjaan menoleh ke sisi senyap, sisi murung dari kehidupan. Itulah cara mengingatkan diri selalu pada hidup yang melalaikan ini.

Mungkin karena itu buku pertamanya ia beri judul “DukaMu Abadi”, 1969. Buku dengan 47 sajak yang ia pilih dari ratusan sajak berbagai macam yang ia tulis sejak 1958. Ia telah memilih. Ia telah menentukan. Ia telah menemukan puisi dan menemukan dirinya.

Pada suatu malam di tahun 1959, ia menulis 18 sajak pendek, dan tak satupun sajak itu pernah ia kirim ke majalah. Ia sepanjang tahun itu terus menulis dan merasa “mulai menemukan jalan lurus saya sebagai penyair”.

Saya bercerita tentang Sapardi Djoko Damono. Penyair yang kabar tentang sakitnya membuat orang-orang seakan serentak menuliskan doa di media sosial. Kematiannya pada usia 80 tahun – meski tak lagi mengejutkan – tetap saja meninggalkan rasa kehilangan yang besar. Ke rumah duka di komplek perumahan UI di Ciputat Presiden Joko Widodo mengirimkan papan ucapan duka cita.

Sapardi adalah teladan bagaimana seseorang memilih tugas untuk hidupnya, kemudian berkeras kepala mempertahankan pilihan itu. Ia telah menjalankan tugas pilihannya dengan baik, meskipun banyak pekerjaan belum selesai, dan tidak akan pernah selesai.

Sapardi tak hanya menuliskan puisi-puisinya sendiri. Ia juga memikirkan perkembangannya. Pada saat-saat yang tepat menuliskan laporannya tentang sejauh mana sudah dunia yang ia cintai itu berjalan dan telah mencapai apa.

Pada tahun 1979 ia menulis, hakikat perkembangan sastra nasional sebenarnya terletak pada adanya kesinambungan antara satu periode dengan periode lain dalam sejarahnya, baik ditinjau dari segi formal maupun dari segi kaitannya dengan perkembangan masyarakat (Kenyataan, Dugaan, dan Harapan: Tentang Perkembangan Sastra Kita Akhir-akhir Ini).

“Dalam proses kreatifnya, seorang sudah harus menyadari dan memahami hal-hal berharga yang pernah dilakukan oleh pengarang-pengarang sebelumnya,” ujarnya.

Sementara skripsinya tentang drama Eliot, disertasinya tentang novel Jawa. Sementara ia menerjemahkan saja Cina Klasik, juga sajak-sajak para penyair dunia, dan pada awal ketertarikannya pada puisi adalah pesona pada balada Rendra, ia menulis lirik dan bertahan pada pilihan itu.

Ia membangun pondasi kepenyairan dan perpuisiannya yang itu berarti landasan dan arah utara bagi penyair sesudahnya. Ia menyediakan bahan untuk disinambungkan. Satu tugas kesejarahan ia kerjakan.

Tentu ia tahu – dan terutama kita juga harus tahu – bahwa terhadap waktu dalam sejarah menyinambungkan itu adalah salah satu pilihan, yang terutama. Selain pengulangan, dunia kreatif, menunggu pencipta yang datang dengan pembaharuan, datang dengan perubahan.

Tulisan-tulisan Sapardi selalu menggambarkan pencarian itu. Kalau pun tidak menemukan suatu kebaruan dia akan menandai sebuah kemungkinan baru dalam peta. Ia menunjuk ke satu arah ke mana seharusnya perkembangan itu diarahkan, tanpa terasa menggurui.

Sapardi adalah pengamat yang terlibat. Karena itu analisanya terasa dekat, meskipun ia selalu berusaha mencari titik berpijak yang cukup memberinya jarak. Ia sadar, setiap kali bicara, mengkritik puisi Indonesia, itu artinya dia sedang mencereweti praktik-praktik yang dia ikut terlibat di dalamnya.

Pada tahun 1969, misalnya, dalam satu makalah ceramah, ia mempersoalkan persoalan elementer, soal kata, tapi ujarnya bukankah puisi kita memang berjuang untuk meningkatkan dirinya dari tingkat elementer ke tingkat yang lebih tinggi?

Jika persoalan elementer itu tak diselesaikan perkembangan puisi Indonesia akan terhalang. Pada tahun itu Sapardi mencatat beberapa puisi Indonesia telah lolos dari persoalan mendasar itu.

Sapardi meninggalkan banyak pesan berharga, bertebaran dalam esai-esainya, makalah-makalah ilmiahnya. Hal-hal yang tak hanya teoritis tapi juga praktis. Salah satunya, ia pernah berkata, bahwa nilai sebuah sajak ditentukan oleh berfungsi tidaknya unsur-unsur formalnya dalam mendukung keutuhan sajak.

Maka penyair yang bersungguh-sungguh hendak menyinambungkan perkembangkan puisi Indonesia pahamkan sudah dengan apa itu unsur-unsur formal sajak? Sudahkah kita menguasai bagaimana memberdayakan itu untuk mendukung atau mencapai keutuhan sajak yang kita tulis?

Sapardi telah pergi. Padanya, kita ucapkan terima kasih karena telah mengingatkan dan akan terus menjadi peringatan bagi siapa saja yang meneruskan tradisi perpuisian Indonesia.

Image by congerdesign from Pixabay

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *