Penyair Mahir, Mencurilah di Rumah Mewah!

PENYAIR tanggung meniru, penyair besar mencuri. Eliot tidak menyuruh para penyair untuk menjadi pencuri, hanya menjadi pencuri. Ia dengan ucapannya itu ingin mengajak siapapun yang hendak menjadi penyair besar agar menjadi pencuri yang mahir, pencuri yang ulung, yang mempelajari benar mana rumah-rumah puisi yang berlimpah-limpah harta kekayaannya, siapkan keberanian untuk memasukinya, dan rancang sebuah pencurian yang tak berjejak.

Dengan kata lain jadilah penyair besar dengan mencuri di rumah puisi besar para penyair besar.

Bahkan untuk mencuri pun perlu mempertimbangkan tren konvensi apa yang sedang berlaku. Jangan mencuri dari penyair yang sedang digandrungi banyak orang. Orang banyak akan tahu dari siapa kita mencuri bahan untuk puisi kita.

Curilah dari rumah penyair yang jarang bahkan tak pernah dicuri oleh orang lain. Curilah hal-hal langka yang orang lain bahkan tak mengenali harganya, tak tak terpikir untuk mencurinya.

Kita memang tak bisa terhindar dari pencurian kreatif semacam itu. Inspirasi itu gratis, kata orang yang bergerak di duna kreatif. Yang mahal adalah ide.

Inspirasi bisa diambil dari mana saja, tapi ide harus kita kembangkan sendiri.

Mencuri yang saya sarankan adalah pencurian semacam itu: ambil inspirasi dari mana saja, juga dari puisi-puisi besar yang sanggup kita jebol pintu rahasianya, dan kita ambil harta berharga yang ada di dalamnya, yang jangan-jangan penyairnya sendiri tak menyadari bahwa hal itu ada.

Sapardi Djoko Damono mencuri dari lirik lagi The Beatles lalu lahirlah “Dalam Diriku”. Ia menulis sajak dukacita atas kematian Rendra dengan “mencuri” citraan-citraan dari sejak Rendra, sahabatnya itu.

Tapi sekali lagi jadilah pencuri yang mahir, yang tak berbekas, yang pandai menghilangkan jejak.

Di atas segalanya, mencuri dalam dunia kreatif hanyalah bagian dari membangun “kekayaan kita sendiri”. Dan itu terutama dibangun di atas upaya kita sendiri membina dan mengembangkan apa yang memang benar-benar lahir dari diri kita. Yang otentik, bahkan orisinal. Jadilah penyair yang kelak orang-orang yang datang kemudian diam-diam masuk dan mencuri dari sajak-sajak kita.

Jakarta, September 2021.

Image by Schluesseldienst from Pixabay

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *