Prosopon: Puisi, Sosok Penyair, Wajah yang Berbicara

Oleh Hasan Aspahani

JEJAK etimologi sepatah kata, selain membawa kita ke makna awal yang menambah pemahaman kita, kadang juga bisa mengejutkan. Ada kata-kata yang menetas dari benda atau pengertian yang sederhana, lalu berabad-abad kemudian berubah menjadi lorong panjang pemikiran manusia.

‘Prosopon’ adalah salah satunya. Majalah Mata Puisi memakai kata itu untuk rubrik puisi. Kenapa kami memilih kata itu? Mari kita telusuri asal kata itu. Dalam bahasa Yunani kuno, prosopon mula-mula berarti “wajah”, “muka”, atau “topeng”. Ia dipakai di panggung-panggung teater Yunani, ketika para aktor mengenakan topeng untuk memainkan berbagai tokoh: raja, pengemis, dewa, pembunuh, atau orang gila.

Topeng itu bukan sekadar penutup muka, melainkan alat untuk menghadirkan suara, karakter, dan nasib seseorang di hadapan publik. Nah, sampai di sini, yang menarik adalah, justru dari dunia topeng itulah manusia kemudian mulai memikirkan identitas.

Sebab setiap orang, tak bisa terhidarkan, cepat atau lambat, hidup dengan banyak wajah.

Kita memiliki wajah sosial, wajah keluarga, wajah politik, wajah yang dipakai untuk bertahan, wajah yang dipinjam dari harapan orang lain, bahkan wajah yang kadang kita sendiri tak lagi mengenalinya.

Dalam pengertian ini, kata ‘prosopon’ menjadi sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar rupa fisik. Ia adalah diri yang tampil. Kehadiran yang menghadap dunia.

Kami memandang, puisi bekerja tepat di wilayah itu. Penyair hampir selalu menulis melalui sebuah prosopon. Kadang ia berbicara sebagai dirinya sendiri, kadang sebagai sosok rekaan, kadang sebagai suara kolektif, kadang bahkan sebagai benda-benda yang tak bernyawa. Dalam puisi, hujan bisa berbicara. Kota bisa mengeluh. Laut bisa mengingat. Dan kesunyian pun bisa memiliki mulut.

Kita mengenal itu dalam retorika sebagai ‘prosopopoeia’: memberi wajah dan suara kepada sesuatu yang bisu. Lebih dari sekadar memberi sifat manusia, sebagai mana kita sebagai ‘personifikasi’, maka ‘prosopopoeia’ lebih jauh memberi suara, persona, atau kemampuan berbicara sebagai satu sosok.

Mungkin karena itu puisi tidak pernah benar-benar percaya pada keheningan mutlak. Ia selalu menemukan cara agar sesuatu dapat berbicara. Dalam “Krawang-Bekasi” Chairil Anwar memperdengarkan suara dari dalam kubur, di mana para pejuang bicara pada peziarah agar perjuangan diteruskan.

Demikianlan, kami meyakini bahwa segenap sejarah puisi pada akhirnya adalah sejarah tentang manusia yang terus-menerus mencoba memberi wajah pada pengalaman yang sulit dijelaskan.

Dalam perkembangan filsafat dan teologi, prosopon lalu memperoleh makna yang lebih eksistensial. Ia tidak lagi dipahami hanya sebagai topeng, tetapi sebagai ‘pribadi’, kehadiran yang hidup dalam relasi dengan yang lain. Di sini, wajah bukan lagi permukaan, melainkan sebuah panggilan.

Filsuf Emmanuel Levinas memberi gema baru pada gagasan itu ketika ia mengatakan bahwa wajah orang lain selalu membawa tuntutan etis. Wajah, baginya, bukan sekadar sesuatu yang dilihat, tetapi sesuatu yang ‘berbicara’ kepada kita. Kehadiran orang lain memanggil tanggung jawab. Ia meminta untuk diakui sebagai manusia, bukan sekadar objek.

Kami percaya bahwa puisi juga bekerja dengan cara serupa. Puisi yang baik tidak sekadar meminta untuk dibaca. Ia meminta kita berhenti sejenak dari kebisingan dunia, lalu berhadapan dengan sesuatu: kesedihan, ingatan, cinta, ketakutan, sejarah, atau bahkan diri sendiri.

Puisi adalah wajah yang menatap balik pembacanya. Seperti setiap perjumpaan yang sungguh-sungguh, kita tidak bisa keluar dari puisi sebagai orang yang sama sepenuhnya.

Karena itu, bagi kami, “Prosopon” terasa sebagai nama yang indah untuk sebuah rubrik puisi. Ia membawa jejak teater, filsafat, bahasa, dan kemanusiaan sekaligus. Ia mengingatkan bahwa puisi bukan hanya permainan kata, melainkan peristiwa perjumpaan. Sebuah ruang tempat suara-suara yang tercecer, tersembunyi, atau terbungkam menemukan wajahnya kembali.

Di tengah zaman yang terus meneruskan situasi yang selama ini mendesak kita dengan slogan, citra instan, informasi sesat, dan kebisingan tanpa kedalaman, puisi barangkali bisa tetap menjadi salah satu tempat terakhir di mana manusia berusaha berbicara dengan wajah yang sungguh-sungguh miliknya.[]

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *