Bahasa Menunjukkan Siapa (dan Membuka Kedok) Kita

Oleh Hasan Aspahani

BAHASA menunjukkan bangsa, kata peribahasa lama. Tapi sebelum menunjukkan bangsa, sebenarnya bahasa terlebih dahulu menunjukkan diri kita sendiri. Dari cara seseorang berbicara atau menulis, orang lain bisa menebak wataknya: apakah ia ceroboh, tergesa-gesa, dan sembarangan, atau justru tenang, tertib, dan terukur. Bahasa bukan sekadar alat menyampaikan pesan; ia adalah jejak kepribadian yang tertinggal dalam setiap kalimat. Orang yang terbiasa berpikir jernih biasanya juga cenderung berbicara runtut. Sebaliknya, orang yang asal bunyi sering memperlihatkan kekacauan itu bahkan sebelum isi pikirannya dipahami sepenuhnya. Kadang-kadang, satu kalimat sudah cukup untuk memperlihatkan bagaimana seseorang memperlakukan pikirannya sendiri.

Bahasa juga mirip pakaian. Cara kita memilih kata sama seperti cara kita memilih baju untuk dikenakan. Ada pakaian untuk pesta, ada pakaian untuk berkabung, ada pakaian santai untuk duduk di warung kopi bersama kawan lama. Kita tidak memakai jas lengkap untuk berenang, dan tidak mengenakan piyama untuk menghadiri sidang resmi. Begitu pula bahasa. Ada situasi yang meminta keakraban, ada yang memerlukan kesopanan, ada pula yang membutuhkan ketegasan. Salah memilih bahasa sering kali sama memalukannya dengan salah kostum. Bukan karena bahasanya buruk, melainkan karena tidak sesuai tempat dan waktunya. Etika berbicara sesungguhnya adalah seni memahami situasi.

Manusia berpikir dengan bahasa. Logika kita disusun melalui kata-kata, bahkan ketika kita sedang diam. Karena itu, bahasa yang kacau sering memperlihatkan pikiran yang juga kacau. Kalimat yang berputar-putar tanpa arah biasanya lahir dari gagasan yang belum selesai dipahami oleh penuturnya sendiri. Orang yang sulit menjelaskan sesuatu dengan sederhana sering kali bukan karena topiknya terlalu rumit, melainkan karena ia sendiri belum benar-benar mengerti apa yang ingin ia katakan. Bahasa menjadi semacam jendela tempat isi kepala kita terlihat samar-samar dari luar. Maka merapikan bahasa bukan hanya urusan estetika, melainkan juga latihan membereskan cara berpikir.

Karena itu, ada baiknya kita berbicara dan menulis dengan kata-kata yang benar-benar kita kuasai. Tidak perlu berlomba memakai istilah rumit hanya demi terlihat intelektual. Kata-kata canggih yang dipakai tanpa pemahaman sering terdengar seperti anak kecil mengenakan sepatu kebesaran: mencolok, tetapi kikuk. Banyak orang terjebak dalam godaan untuk terdengar pintar, padahal kecerdasan justru tampak dari kemampuan menjelaskan sesuatu secara jernih dan mudah dipahami. Bahasa yang baik bukan bahasa yang membuat orang terpukau oleh kerumitannya, melainkan bahasa yang membuat gagasan sampai dengan terang.

Namun tentu ada saat ketika kita memang memerlukan kata yang lebih khusus, lebih teknis, atau lebih jarang dipakai. Tidak semua gagasan bisa diwakili oleh kosakata sehari-hari. Dalam dunia sastra, filsafat, ilmu pengetahuan, atau hukum, kadang sebuah kata dipilih karena hanya kata itulah yang paling tepat menampung nuansa makna tertentu. Dalam keadaan seperti itu, penggunaan kata yang sulit bukanlah pamer kecanggihan, melainkan kebutuhan presisi. Bahasa yang kaya justru memungkinkan kita membedakan hal-hal yang tampak serupa tetapi sebenarnya berbeda. Meski begitu, kata yang langka sebaiknya dipakai seperti rempah: secukupnya, bukan ditumpahkan sekaligus hingga merusak rasa.

Bahasa memang perlu dikembangkan menuju sistem yang lebih tertib dan baku. Tata bahasa, ejaan, dan aturan dibentuk agar komunikasi memiliki pijakan bersama. Tanpa aturan, bahasa bisa berubah menjadi kerumunan bunyi yang saling bertabrakan. Tetapi pada saat yang sama, kita juga perlu sadar bahwa tidak ada pemakai bahasa yang benar-benar sempurna. Bahkan ahli bahasa pun bisa keliru memilih kata, salah mengetik, atau tergelincir dalam kalimat yang rancu. Bahasa hidup bersama manusia, dan manusia sendiri adalah makhluk yang terus belajar. Kesempurnaan bahasa mungkin hanya ada di buku pedoman; dalam praktik sehari-hari, bahasa selalu bergerak, berubah, dan bernegosiasi dengan kenyataan.

Pada akhirnya, setiap orang membangun lingkungan bahasanya sendiri. Kita memiliki kosakata pribadi yang terbentuk dari keluarga, pergaulan, pekerjaan, bacaan, bahkan dari komunitas tempat kita merasa diterima. Bahasa anak pasar berbeda dengan bahasa akademisi; bahasa penyair berbeda dengan bahasa teknisi bengkel. Semua itu wajar. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga penanda identitas. Dari bahasa, orang merasa menjadi bagian dari kelompok tertentu, merasa punya rumah sosial tempat ia dikenali. Maka bahasa selalu bergerak di antara dua kutub: kebutuhan akan aturan bersama dan kebutuhan untuk mengekspresikan diri secara personal. Di situlah bahasa menjadi sesuatu yang hidup —tidak pernah selesai, tidak pernah sepenuhnya dapat dikurung. []

Dikembangkan dari tulisan yang pernah dimuat di blog Mata Puisi, Februari 2020.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *