Oleh Hasan Aspahani
Catatan Pengantar: Tiga sajak Gian Bakti berikut ini rasanya cukup untuk membicarakan satu tema yang tak baru dalam puisi Indonesia, yaitu soal perbedaan puisi ide dan puisi suasana.
Pada suatu titik perkembangan puisi Indonesia tema ini pernah menjadi pembicaraan yang intens. Goenawan Mohamad, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi WM, saling sorong gagasan, saling balas argumen, dan pendapat masing-masing.
Puisi ide adalah puisi yang membawa satu gagasan. Meskipun harus lekas dijelaskan tak ada puisi yang tak membawa gagasan. Sedangkan puisi suasana (atau puisi imajis) adalah puisi yang terutama membawa suasana tertentu, meskipun harus lekas disebutkan juga bahwa tak ada puisi yang tak membangun suasana tertentu.
Lantas apa bedanya? Bedanya adalah kandungan muatannya lebih berat ke mana. Gagasannya kah? Atau suasananya? Puisi suasana atau imajis kadang terasa seperti nonsens, tak membawa ide apa-apa. Ia memikat karena suasana menyaran yang terbangun padanya.
Puisi “Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari” karya Sapardi Djoko Damono, bisa dibaca sepenuhnya sebagai puisi suasana. Puisi itu seakan tak ingin menyampaikan apa-apa. Tapi, kita tak bisa katakan ia tak mengandung ide apa-apa. Sajak itu bisa kita simpulkan bicara soal keserasian atau kepasrahan manusia terhadap alam.
Sajak “Tentang Seseorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum” karya Goenawan Mohamad, bisakah itu kita sebutkan sebagai puisi ide saja? Tidak, karena suasana yang terbangun kuat sekali. Meskipun ia berangkat atau seakan ingin menyampaikan sebuah gagasan, tentang betapa rawannya situasi menjelang pemilihan umum pada hari-hari ketika sajak itu dituliskan.
Penulis puisi saya kira harus memiliki pengetahuan itu. Lalu menulis sajak dengan penuh kesadaran hendak membuat apa. Sajak idekah? Atau sajak suasana? Atau meleburkan batas antara keduanya?
“Kau Tahu” terasa seperti hendak membangun suasana tertentu. Sebuah upaya yang berhasil. Begitulah umumnya suasana dibangun dalam sajak. Ia tidak memaksa, tapi lembut menyaran. Sugestif. Pembaca mengikuti dan menikmati saja.
Sajak “Ibu Dunia” terasa berat dengan ide. Gagasan yang ingin disampaikan memang sampai, tapi bagi saya sebagai pembaca ia seperti beban yang mengurangi nikmat saya atas sajak itu.
Sajak “Di Perpustakaan” terasa istimewa karena ada ide besar yang disisipkan tanpa mengganggu suasana yang dibangun. Tiga sajak yang semuanya bagus, tapi saya paling suka pada sajak yang terakhir ini.
Sajak “Di Perpustakaan” terasa istimewa karena ada ide besar yang disisipkan tanpa mengganggu suasana yang dibangun. Tiga sajak yang semuanya bagus, tapi saya paling suka pada sajak yang terakhir ini.
Penulis dengan nama lengkap Gian Bakti Gumilar (Bandung, 3 Juni 1997) ini, kini sedang belajar di Politeknik Negeri Bandung, dan mendirikan dan aktif di komunitas Menara Literasi.[]
Kau Tahu
Kau tahu aku menyukaimu seperti udara beranda yang kau hirup perlahan saat membuka jendela pagi tadi
Akan kutunggu kesempatan pagi yang lain demi menyapu bibirmu yang semanis strawberry
Aku adalah kaus kaki longgar yang kau biarkan menua dibalik sepatu bertali biru
Merasakan bagaimana dasar tubuhmu itu timbul tenggelam di dekatku
Aku adalah tas ransel berat yang kau isi penuh dengan harapan dan penantian terdalam
Aku adalah rasa kantuk yang menguasaimu setelah membaca lembar terakhir buku barumu
Aku adalah kebosanan yang berdebar saat kau duduk di kursi paling belakang sebuah bus kota
Aku adalah sisir tumpul di meja riasmu dimana aroma rambut itu tersimpan dengan teliti
Aku adalah siulan burung kecil di halaman depan yang diam-diam merekammu
lalu terbang rendah setelah melihat hidung mancungmu; tempat kacamata itu bertengger malas
17 Februari 2019
Ibu Dunia
Seperti halnya orang-orang Mesir berdoa:
Rabbi Jagalah Mesir, Ibu Dunia!
Karena ibu bagi kami bukan lagi ihwal masakan
Ia memastikan mayapada siap dihadapi oleh tiap anaknya
Karena langit dengan teliti menulis doanya
di waktu pagi dan petang.
Dan sunyi malam menikmati
sujud-sujudnya yang dalam.
Maka seperti Ummudun-ya:
Mesir memulai peradaban
Kita akan melihat cita itu mewujud
melebihi tinggi bangunan Giza
Dan Nil yang deras bagai lautan.
Sehingga sorot mata ibu yang sendu
adalah samudera yang luas
rengkuh dekapnya
Dan entah sampai kapan
kami selesai menyelami kebaikannya
Selayaknya orang-orang Mesir berkata
bahwa ibu adalah lautan: Mishrun Bahrun.
18 Oktober 2018
Di Perpustakaan
Aku menyukaimu
ketika kau membungkuk
di depan rak buku
mencari nama kita
di sela judul
dan huruf
Kau menjadi ringkih
melihat debu-debu
yang kau sapu lembut
di sampul
dan halaman
Kau memeluk buku
satu dua pilihanmu
tersenyum tipis padanya
dan bergumam haru
petualangan baru apa
yang telah disiapkan
Tak ubahnya pemuja
kau kerlingkan matamu
di tiap langkah jari
setiap sudut kau jamahi
gerangan apa
yang sedang kau lamunkan
kebebasankah?
Sebab dunia
memenjarakan kita
dalam ponsel
dan citra maya
Sekarang kau duduk
kokoh dan anggun
membalikkan kata
pertama kedua
sebab sudah tugas kita
menghargai setiap jengkal
yang tercipta
dari juru tulis
dan juru kisah
5 Desember 2018
Dimuat di Lahir Sajak, Agustus 2019
