Setelah Warisan Dunia: Tantangan & Ujian bagi Pantun

Oleh Hasan Aspahani

kafe starbuck dan toko uniqlo
di sebelahnya gerai komputer
kujawab telepon dengan “halo!”
kau diam, rindu tak terbarter

PADA 1997, Sutardji Calzoum Bachri menulis sebuah esai yang cemerlang di surat kabar Kompas. Ia memaparkan pandangan lain yang segar tentang pantun, tafsir lain atas hakikat sampiran dan isi, dua penciri pantun yang tak dimiliki bentuk puisi manapun dalam khazanah perpuisian di dunia.

Ia mengambil contoh-contoh puisi dari penyair modern Indonesia untuk menunjukkan pengaruh pantun yang sedemikian kuat menjejak. Bahkan bisa disebut puisi mereka adalah pantun. Ia mengabil contoh dari Chairil Anwar, Sitor Situmorang, hingga Goenawan Mohamad.

Ia mengajukan premis puitika dan estetika pantun untuk menguji, memaknai, menilai bentuk-bentuk puisi lain. Dalam esainya Sutardji membuka jalan baru bagi pantun untuk hidup, berkembang, dikembangkan. Ia tak ingin pantun jadi beku, mati, atau hanya hadir sebagai fosil dari masa lalu bahasa.

Ia jelas amat bangga dengan pantun. Esainya ditutup dengan “…pantun dengan hakikat sampiran dan larik isinya memberikan pilihan bagi para penyair modern dan mutakhir kita untuk menampilkan pengucapan mereka. Dan karena pengucapan mereka banyak kesamaan dengan puisi modern dan mutakhir di seluruh dunia, maka pada hakikatnya pantun salah satu khazanah sastra Nusantara itu, telah memberikan sumbangannnya pada perpuisan dunia kini.”

Uraian Sutardji bagi saya adalah alasan paling sahih untuk mengesahkan pantun sebagai sumbangan tradisi perpuisian kita pada kesusastraan dunia. Jauh sebelum Indonesia dan Malaysia mengajukan pantun menjadi warisan dunia nonbenda, dan oleh Unesco disahkan pada 17 Desember 2020.

Saya tentu saja bangga tapi tak menemukan penjelasan yang memuaskan di situs Unesco kenapa pantun ditetapkan demikian, selain disebutkan bahwa pantun adalah bentuk syair Melayu yang digunakan untuk mengekspresikan gagasan dan emosi yang rumit, telah dikenal setidaknya 500 tahun lalu, dapat ditampilkan dalam seremoni adat, musik, lagu, dan tulisan, berfungsi didaktis, religius, sosial, dan beberapa penjelasan lain.

Soal sampiran dan isi, kekuatan dan kekhasan pantun, malah tak disebutkan, kecuali dijelskan bahwa “pantun menawarkan cara yang dapat diterima secara sosial untuk mengekspresikan diri secara tidak langsung dengan cara yang sopan”.

Tapi baiklah kita sambut anugerah itu. Dengan bangga kita terima sebagai pengakuan bahwa bahasa Indonesia, yang dikembangkan dari bahasa Melayu, yang dengan kuat meluas di serata nusantara, yang dengan dinamika dan takdirnya sendiri menjadi lingua franca, telah melahirkan sebuah jenis puisi yang unggul, yang memperkaya khazanah sastra dunia. Lalu apa?

Bagi saya jelas, sebagai warisan tentu ia harus kita jaga. Pantun harus dilestarikan agar tetap hidup 500 tahun dan 500 tahun lagi. Kerja merawat keasliannya dan melestarikan kemurniannya adalah perlu. Tapi yang lebih penting adalah menjadikannya modal agar berkembang menjadi keuntungan dan kekayaan budaya baru yang lebih besar lagi.

Sutardji dengan esainya yang dikutip di awal tulisan ini telah melakukannya, menawarkannya. Saya telah lama mencoba menyambutnya. Setiap kali menulis tapi terlebih setiap kali membaca sajak imajis, yang bagi saya seakan adalah bentangan sampiran pantun (lupakan dulu rima dan jumlah suku kata) maka saya mencoba memaknainya dengan membayangkan isi dari sampiran itu. Persis seperti mengaitkan sebuah sampiran dengan isi pantun.

Mari kita bicarakan sebuah pantun lama:

berakit-rakit ke hulu
berenang-renang ke tepian
bersakit-sakit dahulu
berenang-renang kemudian

Bagi saya ini sebuah contoh pantun yang sempurna. Kalau saya baca ini sebagai puisi liris maka ruh atau jiwa puisi ini segera bisa saya tangkap sebagai permainan, paduan, selang-seling, kontras antara pedih dan harapan, kesulitan dan kelapangan. Citraan? Ada pada sampiran itu. Saya membayangkan gerak, pemandangan, suara, bahkan bau dan emosi.

Pernah seorang bercanda dengan nada cemooh di sebuah diskusi informal. Kenapa harus susah-susah naik rakit pergi ke hulu? Saya coba jelaskan. Ini pantun entah lahir berapa ratus tahun lalu ketika transportasi dari hulu ke muara dan sebaliknya hanya dengan sarana sederhana berupa perahu dengan dayung atau rakit dengan tanjak, berhari-hari, kadang harus bermalam di tepian.

Cobalah bayangkan bergerak melawan arus sungai, menanjak rakit dari muara ke hulu. Berat sekali. Sebaliknya apabila orang hulu hendak ke muara dia bahkan tak perlu berkayuh. Ikut saja aliran arus. Mudah sekali.

Lalu kenapa berenang ke tepian? Kadang di satu bagian sungai tepian itu dangkal. Tak ada dermaga. Orang yang telah sampai dan harus turun di kampungnya dari rakit atau perahu yang ia tumpangi mau tak mau harus terjun dan berenang ke tepian. Tapi apapun ia bahagia karena ia telah sampai.

Sampiran itu bukan sekadar permainan bunyi. Suasana dari sampiran itu berkohesi dan koheren dengan pesan pada isi yang ingin disampakan, bila hendak mencapai apapun pada awalnya manusia memang harus menempuh jalan sulit, menantang risiko, mau bersakit-sakit dahulu. Rima, asonansi, eufoni, metrum, semua hadir dengan wajar dan serasi dalam pantun ini bagi saya itu – tanpa bermaksud meremehkannya – adalah bonus besar. Nasihat dan motivasi hidup yang diamanatkannya saya terima dengan ikhlas.

Pantun yang unggul, demikianlah, adalah sajak imajis liris yang juga unggul. Maka yang berasal dari tradisi asli telah mencapai, telah sampai, berdiri sejajar, menyatu dengan khazanah sastra dari belahan dunia lain, yang modern. Menjadi khazanah modern juga. Dan pantun bahkan telah hadir lebih dahulu.

Saya setuju kita perlu dengan keras merawat pantun tapi menolak penyakralannya. Sikap melestarikan yang berlebihan misalnya terasa ketika ada yang berpendapat bahwa sampiran pantun hanya akan sempurna apabila memakai ilustrasi agraris dengan diksi yang sejak semula telah diberdayakan dengan dengan cemerlang berupa bentang alam, alusi sejarah, khazanah hewan dan tanaman, atau nama-nama tempat di alam Melayu dan nusantara umumnya.

Sampiran adalah reaksi penyair pada alam (semua yang di luar dirinya) sekitarnya. Yang memikatnya, melingkupinya, mencuri perhatiannya. Dulu orang menghayati kehidupan agraris, dengan rakit dan sampai, hulu dan tepian.

Kini kenapa tak memakai kata kafe, Stabuck, Uniqlo, dengan isi yang menyatakan rindu dengan ekspresi yang lebih kekinian, seperti pantun yang saya tulis di awal tulisan ini?
Dengan begitu pada hemat saya pantun tak menjadi kaku, beku, kuno, dan menjemukan. Pantun tidak menjadi generik, ia bisa menjadi ajang unjuk kekhasan siapapun, menampilkan pengucapan personal, seperti disebut Sutardji.

Inilah tantangan dan ujian bagi pantun atau tepatnya bagi penyair hari ini, bagi kita, yang menerimanya sebagai warisan dan hendak menjadikannya modal usaha mengembangkan hasil budaya baru, yang memperkaya khazanah sastra kita juga sastra dunia.

Jakarta, 11 Juli 2021.

Image by Anselmo Rodrigues from Pixabay

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *