Melihat Chairil dari Empat Lembar Catatan Jassin

Oleh Hasan Aspahani

SEMENTARA ia rutin menulis buku harian dengan tulisan tangan, H.B. Jassin juga meninggalkan catatan harian yang ditulis dengan mesin ketik. Catatan ini terkait pemikiran, opini, dan tinjauannya atas situasi yang ia hadapi terkait pekerjaannya.  Juga sedikit cerita pribadi.

Tak banyak, hanya beberapa lembar yang tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta, tapi catatan Jassin itu bisa menjadi bahan penting dan amat kuat menggambarkan beberapa hal tentang Chairil Anwar,  sosok yang tampaknya sejak semula ia beri perhatian penuh itu, juga melukiskan situasi Jakarta ketika Jepang sedang berkuasa. Saya memilih empat lembar di antaranya untuk ditampilkan di pameran arsip PDS HBJ (Juli-Agustus 2022) “Gunung Api Jassin, Lahar Panas Chairil”. 

            Dari catatan Jassin  kita tahu ia semula ragu untuk menerima tawaran untuk bekerja di Pusat Kebudayaan atau Keimin Bunka Shidosho. Ia berkali-kali ditemui Tn. Sutan Kasuma Pamuntjak, tokoh pergerakan yang dipandang banyak orang kala itu.

Bekerja sama dengan Jepang adalah pilihan yang dilematis memang. Chairil Anwar menolak, selain karena dia memang tak bisa bekerja terkungkung kantor, pasti juga karena dia setuju dengan sikap pamannya, Sultan Sjahrir, yang menolak kerjasama. Chairil bahkan menjadi musuh, yang menyebut mereka yang bekerja dengan Jepang itu sebagai “anjing-anjing Jepang”.

            Meski demikian, Chairil tetap saja main ke Keimin Bunka. Pertemuan itu dicatat oleh Jassin, 23 Januari 1944. Jassin mencatatnya di rumah pada tengah malam. Berikut catatan itu selengkapnya:

djakarta, 23/I-’44

kepoe selatan 41, jam 12.45 malam

bertemoe akoe dengan chairil anwar, salah seorang pengelana djoega, kegelisahannja mendapat moeara kepertjintaan. doea hari dia berkenalan dengan seorang gadis, soedah dimintanja anak gadis itu kawin. sekarang dia gelisah poela memikirkan bagaimana akan hidoep nanti sesoedah kawin, sebab penghasilanja tidak ada. bersama-sama kami berdjalan-djalan, bertemoe Inoe, seorang pegawai poesat keboedajaan, dan teroes ke rumah Soetomo, seorang poedjangga poesat keboedajaan djoega. kami bertjakap-tjakap tentang kesenian, soetomo jang dipoesat keboedajaan bersoeara pasti mengandjoer diri dan mengakoei kesenian oentoek kesenian. kalaoe hendak diselidiki semoea orang sekaliannja bermoeka doea dan haroes ditangkapi oleh kenpei.

tapi poen dalam hal itoe djiwa Indonesia beloem mati.

Suara Jassin adalah suara dari individu yang gelisah dalam masyarakat yang gamang. Dalam catatan lain perihal ‘pengelana’ itu juga dibicarakan oleh Jassin. Orang-orang yang tak berumah dan beralamat. Tapi memang alamat semua orang kala itu tidak jelas. Juga dalam hal bersikap. Terhadap kuasa Jepang kala itu, kalau mau selamat orang harus jadi munafik “bermoeka doea”.  Pergantian kekuasan dari Belanda ke Jepang amat mendadak. Jepang harus mencurigai semua orang sebagai pendukung Belanda.  Penangkapan, penyiksaan, pengawasan amat menekan kehidupan.

            Chairil, dalam catatan Jassin ini, adalah orang yang sesungguhnya ingin benar mendapat rumah. Ingin menikah, membangun rumah, menjalin hubungan dengan perempuan, membina kehidupan.  Tapi, seperti dicatat Jassin “penghasilannja tidak ada.”

            Jadilah mereka berdua menjadi pengelana di kota Jakarta. Bersama-sama jalan, bertemu nama-nama tokoh sastrawan kala itu, para pegiat Pusat Kebudayaan. Inoe (Kertapati), Soetomo (Djauhar Arifin) dan bicara soal: kesenian. Bidang kehidupan yang mereka hidupi yang juga tegang. Jepang mengorganisir dan  memobilisir tenaga seniman untuk kepentingan mereka. Tapi bahkan Soetomo, yang bekerja di pusat kebudayaan Jepang itu pun meyakini bahwa seni seharusnya hanya untuk seni, bukan untuk menghamba pada kekuasaan. Ia dalam hal ini “bermoeka doea”, dan andai Kenpeitai tahu, ia harus ditangkap, dan disika. Tapi mungkin bermuka dua adalah cara bertahan, dan karena itu … djiwa Indonesia beloem mati.

djakarta, 27/1-’44

kantor, djam 10.20 pagi.

boemi serasa memberat dikepalakoe, kedjadian2 sekelolongkoe mengetjoetkan hatikoe. sadjak chairil anwar telah menggegerkan markas besar. soeatoe sadjak jang ditoelisnja dengan maksoed mentjari oeang dan dengan sendirinja tentoe mengandjoerkan tjita2 asia raja.

siap-sedia

kawan, kawan
menepis segar angin terasa
laloe mendero menyapoe awan
teroes menemboes soerja tjahaja
memantjar pentjar kependjoeroe segala
riang menggelombang awan dan hoetan.

segala menjala-njala!
segala menjala-njala!

kawan, kawan
dan kita bangkit dengan kesadaran
mentjoetjoek menerang segala beloelang.

kawan, kawan
kita mengajoen pedang ke doenia terang!

begitoe boenji sadjaknja itoe. tapi markas besar menafsirkan sadjaknya itoe lain. soerja tjahaja dan doenia terang disangka mereka dai nippon.

tentoenja soedah diketahoei mereka chairil anwar itoe seorang jang bertoehan kepada diri sendiri, djoega dalam sadjak2nja, sehingga pada mereka soedah ada anggapan-bermoela chairil anwar itoe seorang jang tidak seroepa tjita2-nya dengan zaman sekarang. dan didalam sadjaknya inipoen ditjari-tjari merekalah arti jang moengkin tersemboenji dalamnja.

demikian besar tjoeriga orang nippon kepada orang indonesia.

koelihat kegelisahan dimana-mana. dan kegelisahan itoe teroetama pada orang2 jang masih teroes mempoenjai doenia lama, dan tidak dapat menoeroetkan doenia sekarang. peroebahan2 jang diadakan oleh pemerintah nippon tidak dilihat orang dalam garis2nja jang besar, sehingga orang mendjadi bingoeng oleh peroebahan2 jang ketjil dalam mendjalankan peroebahan jang besar2 itoe. orang bertanja dimana sekarang indonesia? karena tidak melihat maksoed nippon hendak meniadakan batas2 negara didalam lingkoengan asia raja oentoek mentjiptakan persatoean asia raja.

gelisah akoe memikirkan semoea ini. berat rasa kepalakoe. hendak datang akoe ke roemah roekmini mentjoerahkan beban pikirankoe. tapi dia tidak maoe menerimakoe. soedah terdjandji hari djoemat akan datang, hari djoemat djoega haroes datang. barangkali dia hendak membalas dendan akoe minta tanggoeh baroe ini.

            Berselang tiga hari kemudian dari pertemuannya dengan Chairil, Jassin menulis catatan ini.  Ini gambaran nyata bagaimana sensor penguasa Jepang bekerja. Semua hal yang terpublikasi ke khalayak diawasi dan disensor. Sajak “Siap Sedia” ini lolos. Tapi setelahnya sensor tak berhenti bekerja. Kemungkinan tafsir lain atas puisi ini pun dipersoalkan.

            Larik “mengayoen pedang ke doenia terang” itu oleh markas besar dianggap sebagai ajakan untuk memberontak, melawan penguasa. “Doenia terang” disebut sebagai kata lain dari bendera Jepang dan dalam sajak Chairil diartikan sebagai metafora dari Jepang itu sendiri. Kemungkinan tafsir pada selarik sajak itu itu sudah menghebohkan markas besar.

            Kontrol ketat berasal dari kecurigaan. Yang dicatat Jassin menunjukkan pada kita kini demikian besar tjoeriga orang nippon kepada orang indonesia. Dan orang Indonesia gelisah karenanya. Gelisah karena tak bisa mencerna perubahan besar dan lekas yang tengah terjadi kala itu. Gelisah karena segala bidang kehidupan sedang runtuh, dan orang banyak tak tahu bagaimana bisa lekas menyesuaikan diri. Melawan atau ikut Jepang? Atau bermuka dua saja agar aman? 

            Barangkali Tindakan Jepang atas puisi Chairil itu dimaksudkan sebagai contoh, jangan bermain-main dengan penguasa. Jangan melawan bahkan dengan selarik sajak pun.

            Dari catatan ini kita juga melihat sisi pragmatis dari seorang Chairil. Ia menulis sajak untuk dapat uang honor. Karena itu ia berkompromi menulis sajak ikut anjuran penguasa, mengimbau-imbau, memuja-muja agar rakyat patuh bergerak seirama apa maunya penguasa. Sajak-sajak lain pada masa itu bernada dan tema sejenis, terutama sajak-sajak Rosihan Anwar. Tapi Chairil tentu melakukannya dengan cara dia, cara ucap yang berbeda.

            Chairil di mata Jassin adalah orang yang berbeda, dia tidak masuk golongan yang bermuka dua, dia orang  …jang bertoehan kepada diri sendiri, djoega dalam sadjak2nja…. Ia jujur, ia katakan apa pendapatnya, ia tegaskan apa sikapnya. Jassin tahu sajak “Siap Sedia” ditulis Chairil untuk cari duit saja.

            Di luar semua hal besar itu, Jassin juga lelaki biasa, yang bisa kangen, dan galau, perlu kencan untuk bikin hidup seimbang!

 Djakarta, 23/IV-‘44

Kantor, djam 12 tengah hari

Begini hendaknja, dikamar sendiri, merdeka bekerdja. Soedah doea minggoe akoe bekerdja terasing dikantor, bertapa sesoedah mengalami neraka di ken pei tai. akoe menerpa djiwa, banjak akoe membatja menoedjoekan perhatian kesegala lapangan. Disamping membatja boekoe2 kesoesasteraan poedjangga2 doenia, aku memperdalam poela pengetahoean tentang filsafat, politik, sedjarah, setiap hari bermain taiso dan kyoren poela, soepaja koeat badan djasmani.

Sambal bertapa dan menempa badan dan djiwa soedah koeniat bekerdja poela kedoenia loear, menoelis oentoek soerat kabar dan madjallah dan berbitjara didepan radio. Telah doea boeah sjair koekirimkan ke asia raja dan doea boeah pembitjaraan kesoesastraan ke radio militer. Isinya mengandjoerkan kemadjoean, sambil mengingatkan poela djangan loepa akan tjita-tjita yang asli.

Mendjadi pertanjaan poela bagi teman sedjawat akoe doedoek dikamar pemimpin ini. Tapi akoe tidak pedoeli. Akoe merasa pemimpin memimpin Indonesia kekemerdekaan.

Dan akoe merasa djiwakoe besar, tiada lagi takoet dan ketjoet karena perkata tetek bengek. Matahari tjita-tjita bersinar diatas djalankoe.

H.B.J.

            Jassin tidak serta-merta menjadi seorang penulis dan kritikus besar. Ia menempa dirinya. Dari catatannya ini kita tahu bagaimana ia memulai. Ia membaca. Ia menujukan arah bacaannya ke mana? Ke sastra dunia lewat buku-buku kesusastraan pujangga dunia.  Ia juga membekali diri dengan bacaan tentang filsafat, politik, sejarah. Apabila dia kemudian menjadi seorang kritikus dengan sikap yang tegas, menghakimi karya dengan berani, dan berdiri atas argumen yang kuat, kita tahu kenapa, karena antero bacaannya itulah.

            Empat bulan berjarak dari catatan pertama (Januari 1944) Jassin tampaknya tak lagi gamang. Ia dapat ruang kerja sendiri dan bisa bekerja dengan tenang.  Ia mulai menulis. Menyebarkan karya dan buah pikirannya, ke Asia Raya, satu-satunya surat kabar yang diizinkan Jepang kala itu, dan ke radio militer, di mana Chairil pun pernah berpidato.  Meskipun lagi-lagi ia bicara soal “penyiksaan Kenpetai”, ia mengatakan tentang “mengalami neraka Kenpetai”.

            Apa yang ditulis Jassin? Tulisan yang isinya: mengandjoerkan kemadjoean, artinya mengikuti anjuran penguasa Jepang, tapi inilah bentuk “moeka doea”-nya Jassin, sementara itu ia pun “mengingatkan poela djangan loepa akan tjita-tjita yang asli”, menyiapkan negeri yang merdeka, bila kelak Jepang kalah perang.  

djakarta, 5/V-’44

kantor, djam 9 pagi

Kehidoepan bertabirkan kematian sangat indah kelihatan. Beberapa minggoe belakangan ini sangat dekat akoe kepada kematian. Melihat seorang anak ketjil oemoer doea tahoen menghemboeskan nafasnja jang penghabisan, melihat seorang anak oemoer sepoeloeh tahoen dan seorang pemoeda oemoer doea poeloeh tahoen terboedjoer berkain kafan menanti akan dioesoeg kekeoeboere, kain moekanja disingkapkan. Terbajang-bajang masih wadjah mereka itoe.

semalam akoe bertjakap-tjakap dengan Chairil Anwar. Goenong api mengepoel-ngepoel bernjala-njala. Satoe koempoelan tenaga-tenaga nafsoe hidoep jang koeat. dia bertjerita tentang kekasihnja, perdjoeangannja dengan doenia sekelilingnya, tentang tjita-tjitanya, kekasihnja jang memilih warna badjoe jang aneh-aneh, sepatoenja sepatoe koeno, dan djalannja boengkoek-boengkoek, tapi oleh karena itoe menarik hatinja dengan sekoeat tenaga penarik jang ada pada perempoean. Tentang kebentjiannja kepada orang sekeliling jang terlaloe amat tenang dalam gerak-gerik badan dan djiwanja. Tentang tjita2nja membentoek djiwa Indonesia soepaja besar, akan diperlihatkannja  sampai kemana kesanggoepan djiwa Indonesia dalam kedjahatannya dan keangkoehannja, dia akan menoelis tjerita: akoe boenoeh iboekoe, akan memperlihatkan sampai kemana kebengisannja, tapi poela sampai kemana tjintanya kepada iboenja, sebab dalam kebenjiannja kepadanjalah akan terboekti tjintanja kepadanja. Akan diperlihatkannja kepada orang Indonesia bagaimana bangsanja, orang jang bernama Chairil Anwar, bisa mengangkat dirinja sampai ketingkat toehan, toehan Anwar, jang dipoedja-poedja.

Terlihat bibir jang bergerak-gerak, dan mata jang liar bersinar-sinat itoe, terdiam dan tertoetoep selama-lamanja, karena njawa telah meninggalkan badan, seperti djoega orang2 jang terlah koelihat badannja terboedjoer tiada bertenaga lagi terhantar diatas tanah. Akan tetapi tidak akoe melihat pertentangan jang seharoesnja menjedihkan sekali ini. Kehidoepan jang mementjar-mentjar bertabirkan kematian itoe, kepadakoe terlihat sebagai soeatoe keindahan jang sangat berharga, berbeda sekali dengan anggapan dahoeloe. Dahoeloe pikiran selaloe sampai pada kegelapan mati semangat: boeat apa hidoep kalau nanti akan mati djoega, kini djalan pikiran: sebeloem mati, hidoeplah sehidoep-hidoepnja.

Raksasa-raksasa Indonesia sedang toemboeh besar, biarpoen dibawah telapak kaki Nippon. Atau lebih baik dikatakan: oleh berkat keganasan Nipon memboenoeh semangat Indonesia. Nippon akan melihat: boekan semangat Indonesia akan mati, tetapi semangat doenia akan toemboeh di Indonesia.

Oentoek berdjoeang goena tjita2 nasional, djiwa Anwar terlaloe besar.

H.B.J

            Catatan tanggal 5 Mei 1944 ini lagi-lagi menggambarkan kedekatan dan ketertarikan Jassin pada sosok Chairil.  Jika Chairil hendak diusulkan menjadi pahlawan nasional (telah ada beberapa upaya untuk ini) saya kira apa yang disampaikan Jassin di sini bisa jadi bahan. Chairil menyumbangkan itu. Ia seperti dikatakan Jassin …berdjoeang goena tjita2 nasional, dan dalam hal ini sumbangannya tak bisa diremehkan, untuk itu … djiwa Anwar terlaloe besar. Ini bukan ketegasan yang tanpa risiko. Di tengah situasi yang bikin orang Indonesia kehilangan rumah, menjadi pengelana, luntang-lantung, Chairil berdiri tegak, bergerak melawan arus besar. Keluar masuk sel dan disiksa jadi santapan rutinnya.

             Chairil adalah inspirasi pada masyarakat dan zamannya. Ia tenaga hidup yang membuat para pejuang kebudayaan dan kesenian tak menjadi loyo dan hilang arah, sikap yang menggejala kala itu, di tengah keadaan yang begitu dekat dengan kematian, dalam arti yang sesungguhnya. Chairil adalah goenong api mengepoel-ngepoel bernjala-njala. Satoe koempoelan tenaga-tenaga nafsoe hidoep jang koeat.

            Tentu saja Chairil tidak sendiri. Tapi, catatan kesaksian Jassin, kesaksian dari jarak amat dekat, meyakinkan kita bahwa di balik gelora individualismenya, Chairil seorang nasionalis yang menjulang. Kepada Jassin, Chairil bicaratentang tjita2nja membentoek djiwa Indonesia soepaja besar. Sehingga Jassin percaya bahwa raksasa-raksasa Indonesia sedang toemboeh besar, biarpoen dibawah telapak kaki Nippon.[]

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *