Yang Terus Memelihara Anjing Liar

ANTARA merusak dengan eksploitasi atau menyelaraskan diri agar sama-sama bertahan dan lestari, ia memilih yang kedua. Antara maju melawan atau mengelak pertempuran dia memilih menepi untuk meraih kemenangan yang lain. Ali Sadli Salim menulis sajak-sajaknya dengan tema alam yang ia hayati dan ia cintai dan dia sadari benar sebagai manusia di adalah bagian dari semesta itu. Manusia yang harus menghadapi iklim yang berubah tak tentu, yang masih memelihara anjing liar dalam dirinya yang sesekali hendak ia lepaskan, menggonggong ketidakneresan situasi dan mendengus pada ketidakbecusan keadaan.

Ali Sadli Salim, lahir dan menetap di Sei Raden,Samboja, Kutai Kartanegara, Kaltim, 1978. Bertani dan beternak sambil mengelola Komunitas Taman Bacaan dan Rumah Latihan (Macandahan).

Ali Sadli Salim
Anjing Para Pemburu

Ada anjing dalam tubuhku
menggonggong pada ketidakberesan
situasi.

Tapi ia terkekang.

Rasa lapar,
belumkah cukup ia menjadi liar?

Ada anjing dalam kepalaku
mendengus pada ketidakbecusan
keadaan.

Tapi ia terkurung.

Rasa bosan,
Belumkah sanggup ia menanggalkan
kenyamanan?

Aku rindu,
anjing-anjing liar di tubuhku
berkeliaran berburu
meluas di padang bebas.

Sungairaden, 2021

Ali Sadli Salim
Kamadhatu

Jam nol kosong kosong
hawa turun, serendah tabiat
di bawah akar rumput.

Baik dan buruk
seumpama pinang dibelah.

Tafsir kita kacau
pikiran -pikiran kita meracau.

Tanah yang harusnya suci
disucikan lagi air mengalir
tumpah ke selokan.

Sisa-sisa permufakatan
di balik tangan sepaham.

Tumbal dipersiapkan,
digiring dan dipuaskan
sebelum diburu
dan dirajam peluru.

Jejak dusta disamarkan
kejujuran ditianggantungkan.

Kita masih berkutat pada waktu
semakin pudar mundur
ke ruang sempit itu.

Betapa,
kita telah keluar
tapi masih di dalam.

Sungairaden, 2021.

Ali Sadli Salim
Senja di Sisi Nuubi

Di anjungan sumur migas
lepas pantai Delta Mahakam
di laut yang sama, langit senja.

Kabarkan pada daratan,
aku masih baik-baik saja.

Setelah badai, sayap camar
bertahan rentang tenang
bermain kecipak
ikan anak.

Ombak tak seberapa gejolak
menandai waktu berganti.

Magrib segera
biarkan rindu bertaut
pada dahi dan bumi
saat sujud.

Sungairaden, 2021.

Ali Sadli Salim
Mudarat Darurat

Tuhan, sedekat ini kita
tapi kota-kota kami membangun dinding.
Meninggikan sekat,
mengikat dengan ketat.

Di Rumahmu, barisan tak rapat lagi.
Sebab ajal cuma sejengkal.

Tuhan, segerakanlah hujan
mandikan bumi, mandikan kami
agar terkumbah
mudarat ini.

2021.

Ali Sadli Salim
Con Dolore

Kita, hanya bayangan,
pertemuan dan kenangan.
Kelopak kering beterbangan.

Kita, hanya pikiran,
doa dan harapan.
Saling berhadap-hadapan.

Sungairaden, 2019

Ali Sadli Salim
Au Revoir

Dalam kenangan wara
Ya, cukup dalam bayangan saja.

Tak perlu menjuntai tawa
ahwal cinta tak bermuara.

Sungai Raden, 2019

Ali Sadli Salim
Lelaki di Hujung Kemarau

Ketika jatuh hujan pertama
pada musim kemarau kali ini
aku tak ada di sampingmu.

Ini hanya hujan sela.

Tapi cukup menggigilkan
karena angin musim selatan
tak seharusnya datang membawa awan.

Tahukah engkau?

Esok, hujan–hujan berikutnya
datang dengan gegar gelugut
yang lebih keras kepala.

Dan di puncak rindu itu
airmata kita membatu.

Bersiaplah, engkau tanpa aku.

Balikpapan, 2018.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *