HB Jassin tentang Dasar Bagi Pengarang

Oleh Hasan Aspahani

PADA 1949 di mingguan Mimbar Indonesia Jassin memulai rubrik bernama “Bimbingan Sastra”. Jelas tersurat apa yang ingin ia sampaikan di rubrik itu, meskipun kemudian rubrik itu berganti nama menjadi “Tifa Penyair dan Daerahnya”, nama yang kemudian menjadi judul ketika tulisan-tulisannya dibukukan pada 1952 .

Salah satu tulisan dalam rubrik itu berjudul “Dasar bagi Pengarang”. Tulisan itu dimulai dengan sebuah paragraf pendek: Seorang peminat sastra menanyakan apakah yang harus dibacanya untuk memajukan diri dalam kesusastraan.

Saya meringkas tulisan tersebut dalam butir-butir yang saya kira masih sangat relevan bagi pengarang kapanpun dia mulai menulis dan mengajukan pertanyaan yang sama.

  1. Untuk mengenal bentuk sastra, baca dan perhatikan contoh hasil kesusastraan yang telah maju.

Jassin jug menyarankan baca juga esai-esai telaah, kritik, penyelidikan, dan pemandangan sastra di majalah kesusastraan. Baca karya-karya termasyhur, karya terjemahan dari negara lain, yang terbukti telah melewati ujian tempat dan zaman.

  1. Baca buku-buku pengetahuan dan filsafat, carilah pengalaman sebanyak-banyaknya, cernakan apa yang dibaca dan apa yang dialami hingga jadi sebagian dari jiwa sendiri

Apa yang kita baca itu, kata Jassin, apa yang kita cerna itu harus jadi bahan, rujukan, dan kemudian keluar dalam karya kita sebagai keyakinan dan visi, pandangan diri kita sendiri.

  1. Jangan menunggu ilham! Jika ilham saja yang ditunggu dengan tidak banyak berusaha, maka biasanya yang keluar hanya getaran perasaan yang dangkal.

Jassin tak terlalu percaya pada ‘seniman alam’. Seniman yang mengandalkan bakat alam dan kemudian malas mengembangkan diri.

  1. Bentuk seni penting, tapi isi juga sama pentingnya. Untuk mencapai kesempurnaan isi sastrawan harus berani bikin eksperimen, percobaan dengan kehidupan.

Pengalaman batin tidak datang kalau seniman hanya duduk menunggu ilham. Seniman harus masuk, menggabungkan diri dengan kehidupan orang banyak.

  1. Kejarlah kebaruan. Jangan selalu berjalan di atas garis pikiran yang lama, karena kalau hanya tetap di situ, orng tak akan pernah mendapatkan yang baru-baru.

Melibatkan diri dengan kehidupan orang banyak, itu yang disebut oleh Jassin sebagai eksperimen untuk mengenal manusia yang sesungguhnya. Ekspresimen sosial itu melibatkan diri kita sebagai penulis, manusia dan kehidupan di sekitarnya.

  1. Kesusastraan seharusnya melingkupi seluruh kehidupan dipandang dari mata dan keinsyafan peninjau dan pengarang, dan sebab itu tidak mungkin serupa saja semua.

Karena itu karya sastra menjadi kaya. Sekian banyak sastrawan dan penyair, sekian banyak cara pandang dalam melihat kehidupan.

  1. Isi kesusastraan ialah kehidupan. Kehidupan manusia dengan jiwanya, pikirannya, dan perasaannya.

Bagi Jassin kesadaran itu penting sekali. Segala yang terpikir, dirasakan, dan yang mengusik-gelisahkan jiwa manusia, adalah wilayah perhatian sastrawan. Ya, dengan demikian, itu soal manusia dan kemanusian.[]

(Tulisan ini pernah dimuat di Mata Puisi No. 15 / Juli 2021)

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *