Rumah Penyair: Unggun Timbun Sajak

Oleh Hasan Aspahani

RUMAHKU dari unggun-timbun sajak, kata Chairil dalam sajaknya yang ia tulis di 1943, tahun-tahun awal kepenyairannya.

Apa yang ingin ia katakan sedini itu?

Ia menegaskan sebuah sikap. Sebuah pernyataan bahwa ia telah menemukan sebuah alamat, sebuah rumah. Meskipun rumah itu masih berantakan, dan kita tahu akan terus berantakan, tak jelas bentuknya, apalagi masa depannya.

Rumah itu adalah sajak yang masih, bertumpuk-tumpuk, tertimbun-terunggun.

Tapi itu adalah jalan dan tempat yang ia pilih. Ia lari dari kemapanan dan kenyamanan. Ia lari dari rumah gedong dengan halaman luas. Ia masuki dunia tak pasti, ia petualangi daerah yang menggairahkan. Yang bikin ia tersesat tak dapat jalan.

Rumah itu, pada mulanya, tak apa apabila hanya tenda yang rapuh. Kemah yang buru-buru didirikan. Tentu saja itu tak pernah cukup melindungi.

Pagi ketika terbangun si aku menatap langit kenyataan karena si kemah entah kemana terbang.

Tapi di rumah seperti itulah, penyair meneruskan hidupnya. Hidup sebagai manusia biasa, menjalankan kehidupan yang ia ingin tetap normal, senormal orang beranak dan berbini.

Sajak, rumah itu, adalah tempat memperlihatkan tekad, jalan mengekspresikan diri. Sebuah keberanian untuk menyatakan kedirian diri, individualisme, vitalisme. Sajak, rumah itu, adalah kaca jernih dari luar segala tampak.

Segala tampak? Ya, tapi yang tampak itu bukan sebuah interior rumah yang nyaman, yang teratur dan membosankan. Yang tampak adalah unggunan dan timbunan: pernyataan, peringatan, ketakutan, teriakan, perlawanan, juga akhirnya kalimat yang ia katakan ketika ia harus angkat tangan.

Jakarta, Juli 2021.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *